Sumber : gemini.com
dr. Evelyne Sandjojo, dr. Susi Andriani, Sp. Ak, Subsp. Ak-AA (K)
Prostatitis kronis/đ€đ©đłđ°đŻđȘđ€ đ±đŠđđ·đȘđ€ đ±đąđȘđŻ đŽđșđŻđ„đłđ°đźđŠ (CP/CPPS) merupakan salah satu sindrom nyeri urologis kronis yang paling sering ditemukan pada pria dan termasuk prostatitis kategori III menurut klasifikasi đđąđ”đȘđ°đŻđąđ đđŻđŽđ”đȘđ”đ¶đ”đŠđŽ đ°đ§ đđŠđąđđ”đ© (NIH). Kondisi ini didefinisikan sebagai nyeri atau ketidaknyamanan kronis pada daerah pelvis yang berlangsung sedikitnya 3 bulan dalam 6 bulan sebelumnya tanpa adanya infeksi saluran kemih atau penyebab lain yang dapat diidentifikasi. Nyeri dapat dirasakan pada perineum, daerah suprapubik, penis, testis, selangkangan, atau rektum. Sebagian pasien juga mengalami sering berkemih, rasa tidak lampias, nyeri saat berkemih, nyeri saat ejakulasi, hingga gangguan fungsi seksual.1,2 CP/CPPS mencakup lebih dari 90% kasus prostatitis simptomatik dan diperkirakan mengenai sekitar 2â10% pria dewasa, meskipun beberapa penelitian melaporkan prevalensi gejala menyerupai prostatitis hingga sekitar 16%.1,3
Patofisiologi CP/CPPS bersifat kompleks dan multifaktorial serta hingga saat ini belum sepenuhnya dipahami. Mekanismenya diduga melibatkan kombinasi inflamasi, gangguan sistem imun, peningkatan sensitivitas sistem saraf terhadap nyeri, gangguan neuromuskular dasar panggul, serta faktor psikologis seperti stres dan kecemasan. Pada sebagian pasien, rangsangan nyeri yang berlangsung lama dapat menyebabkan sistem saraf menjadi lebih sensitif sehingga keluhan tetap terasa meskipun tidak ditemukan kerusakan jaringan yang jelas.Âł
Penatalaksanaan CP/CPPS memerlukan pendekatan multimodal dan individual berdasarkan gejala dominan pasien. Terapi farmakologis yang sering digunakan meliputi đąđđ±đ©đą-đŁđđ°đ€đŹđŠđł, obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID), antibiotik, fitoterapi, serta obat yang menargetkan nyeri neuropatik.ÂČ Namun, respons terhadap terapi tunggal sering tidak optimal karena heterogenitas mekanisme penyakit. Penggunaan obat jangka panjang juga dapat menimbulkan efek samping, seperti gangguan gastrointestinal pada NSAID, hipotensi pada đąđđ±đ©đą-đŁđđ°đ€đŹđŠđł, serta risiko resistensi dan efek samping antimikroba pada pemberian antibiotik yang tidak tepat. Oleh karena itu, intervensi non farmakologis seperti fisioterapi dasar panggul, terapi perilaku kognitif, latihan fisik, dan akupunktur semakin dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi terapi multimodal.1,2
Akupunktur merupakan salah satu terapi nonfarmakologis yang semakin banyak diteliti untuk membantu mengurangi gejala CP/CPPS. Salah satu penelitian acak multisenter besar melibatkan 440 pria dengan CP/CPPS sedang hingga berat. Pasien mendapatkan 20 sesi akupunktur atau sham acupuncture selama 8 minggu. Pada akhir terapi, sekitar 60,6% pasien pada kelompok akupunktur mengalami perbaikan gejala yang bermakna, dibandingkan 36,8% pada kelompok sham. Menariknya, manfaat tersebut masih terlihat hingga minggu ke-32 atau sekitar 24 minggu setelah terapi selesai.âŽ
Beberapa systematic review dan meta-analysis juga menunjukkan bahwa akupunktur
dapat membantu memperbaiki nyeri, skor gejala prostatitis NIH-CPSI, keluhan berkemih, serta kualitas hidup. Bukti yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa manfaat akupunktur paling konsisten terlihat pada pengurangan nyeri.5,6 Pedoman đđ¶đłđ°đ±đŠđąđŻ đđŽđŽđ°đ€đȘđąđ”đȘđ°đŻ đ°đ§ đđłđ°đđ°đšđș đźđŠđŻđšđŠđŻđąđȘ đ€đ©đłđ°đŻđȘđ€ đ±đŠđđ·đȘđ€ đ±đąđȘđŻ juga memasukkan akupunktur sebagai salah satu pilihan terapi pada đ±đłđȘđźđąđłđș đ±đłđ°đŽđ”đąđ”đŠ đ±đąđȘđŻ đŽđșđŻđ„đłđ°đźđŠ/CPPS.6
Secara medis, efek akupunktur pada CP/CPPS diduga terjadi melalui beberapa mekanisme. Stimulasi jarum dapat memodulasi jalur penghantaran dan penghambatan nyeri pada sistem saraf, termasuk pelepasan opioid endogen seperti ÎČ-endorfin dan enkephalin. Akupunktur juga membantu mengatur respons inflamasi dan sistem imun melalui beberapa jalur, termasuk TLR4/NF-ÎșB dan MAPK, serta memengaruhi aktivitas sel imun. Selain itu, akupunktur dilaporkan memengaruhi mediator inflamasi, aktivitas sel imun, stres oksidatif, dan đźđȘđ€đłđ°đŠđŻđ·đȘđłđ°đŻđźđŠđŻđ” jaringan prostat. Efek tersebut berpotensi menurunkan sensitisasi nosiseptif sekaligus memperbaiki mikrosirkulasi lokal.1,3
Akupunktur secara umum memiliki profil keamanan yang baik bila dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten. Efek samping yang paling sering dilaporkan bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada tempat penusukan atau memar kecil. Dalam penelitian besar terhadap 440 pasien tersebut, tidak ditemukan kejadian tidak diinginkan serius yang berkaitan dengan terapi.⎠Meta-analisis juga melaporkan efek samping akupunktur umumnya ringan, sedangkan beberapa terapi obat dapat menimbulkan keluhan sistemik seperti mual, nyeri perut, pusing, atau tekanan darah rendah.4,6
Akupunktur merupakan salah satu pilihan terapi nonfarmakologis yang menjanjikan dan berbasis bukti untuk membantu mengatasi CP/CPPS, terutama dalam mengurangi nyeri dan memperbaiki kualitas hidup. Bukti ilmiah yang tersedia mendukung penggunaan akupunktur sebagai bagian dari pendekatan terapi multimodal pada CP/CPPS, dengan pemilihan terapi tetap disesuaikan dengan kondisi dan gejala dominan masing-masing pasien. Dengan dukungan bukti ilmiah yang terus berkembang, akupunktur memiliki potensi yang semakin kuat untuk diintegrasikan dalam tatalaksana CP/CPPS yang komprehensif dan berpusat pada pasien.3,5
Daftar Pustaka
- Yu Y, Peng X. Acupuncture for chronic prostatitis/chronic pelvic pain syndrome: a narrative review of therapeutic techniques and mechanisms. J Clin Question. 2025;2(5):e87.
- Qin Z, Guo J, Chen H, Wu J. Acupuncture for chronic prostatitis/chronic pelvic pain syndrome: a GRADE-assessed systematic review and meta-analysis. Eur Urol Open Sci. 2022;46:55â67.
- Wu X, Cheng K, Xu C, et al. Mechanism of acupuncture and moxibustion on chronic prostatitis/chronic pelvic pain syndrome: a narrative review of animal studies. Pain Res Manag. 2021;2021:2678242.
- Sun Y, Liu Y, Liu B, et al. Efficacy of acupuncture for chronic prostatitis/chronic pelvic pain syndrome: a randomized trial. Ann Intern Med. 2021;174(10):1357â1366.
- Pan J, Jin S, Xie Q, et al. Acupuncture for chronic prostatitis or chronic pelvic pain syndrome: an updated systematic review and meta-analysis. Pain Res Manag. 2023;2023:7754876.
- Engeler D, Messelink EJ, Baranowski AP, et al. EAU Guidelines on Chronic Pelvic Pain. European Association of Urology; 2025.