sumber: gemini.com
dr. Ayumi Clarissa Kandacong, dr. Atikah Chalida Barasila, M. Biomed., Sp. Ak., AHK (K)
Pernahkah Anda tiba-tiba mendengar suara berdenging di telinga, padahal tidak ada sumber suara di sekitar Anda? Fenomena ini disebut tinnitus, yaitu persepsi suara di dalam telinga atau kepala tanpa adanya sumber suara dari lingkungan luar. Suara yang dirasakan dapat berupa frekuensi tinggi seperti berdenging, desis (buzzing), ketukan (clicking), suara berdenyut (pulsations), dan frekuensi rendah seperti gemuruh (rumbling) hingga berdengung(humming). Jika hanya muncul sesekali, tinnitus mungkin tidak terlalu mengganggu. Namun, pada sebagian orang, tinnitus dapat menetap dan menimbulkan gangguan aktivitas, tidur, konsentrasi, hingga tekanan psikologis. 1,2
Tinnitus bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi gejala dari berbagai kondisi yang mendasari, terutama pada sistem pendengaran. Di Indonesia, belum tersedia data resmi mengenai prevalensi tinnitus. Secara global, tinnitus diperkirakan dialami oleh sekitar 14,4% populasi dewasa atau lebih dari 740 juta orang, dengan sekitar 2,3% mengalami tinnitus berat (severe tinnitus). Di kawasan Asia, prevalensi tinnitus pada populasi dewasa mencapai sekitar 15,2%.1
Tinnitus dapat dipicu oleh berbagai faktor, terutama gangguan pada sistem pendengaran, seperti paparan suara keras, penggunaan obat ototoksik (obat yang dapat merusak pendengaran), dan proses penuaan (presbikusis atau penurunan pendengaran akibat usia). Beberapa kondisi medis, seperti penyakit Meniere, neuroma akustik (tumor jinak pada saraf pendengaran), gangguan telinga tengah, sleep apnea (gangguan napas saat tidur), dan kondisi pascainfeksi tertentu juga dapat meningkatkan risikonya. Sementara itu, kecemasan, depresi, karakteristik kepribadian tertentu, dan kualitas tidur yang buruk lebih berperan dalam menentukan seberapa berat tinnitus dirasakan dan bagaimana perburukan keluhan ini dari waktu ke waktu. Secara sederhana, kerusakan pada telinga dalam dapat mengurangi sinyal pendengaran yang diterima otak. Sebagai respons, otak meningkatkan penguatan sinyal (central gain atau peningkatan penguatan sinyal oleh otak), disertai perubahan aktivitas jaringan pendengaran dan sistem otak yang berkaitan dengan emosi. Perubahan inilah yang dapat membuat suara tinnitus terus dipersepsikan dan terasa semakin mengganggu.2,3
Hingga saat ini, tatalaksana tinnitus terutama bertujuan mengurangi keparahan dan dampaknya terhadap kualitas hidup, karena belum terdapat terapi yang secara konsisten dan permanen dapat menghilangkan persepsi bunyi tinnitus. Farmakoterapi juga memiliki keterbatasan karena belum terdapat obat yang secara khusus disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat maupun European Medicines Agency (EMA) di Eropa untuk mengobati tinnitus, sehingga penggunaannya lebih ditujukan untuk menangani kondisi penyerta seperti insomnia, kecemasan, atau depresi. Pedoman klinis umumnya merekomendasikan edukasi dan konseling, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu pasien mengelola pikiran dan respons terhadap tinnitus, serta penggunaan alat bantu dengar atau implan koklea pada pasien dengan gangguan pendengaran. Terapi suara, Tinnitus Retraining Therapy (TRT), serta neuromodulasi non-invasif atau stimulasi sistem saraf tanpa tindakan operasi, seperti repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) yang menggunakan medan magnet untuk merangsang area tertentu di otak dan transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) yang memberikan aliran listrik berintensitas rendah melalui kulit kepala, juga telah diteliti dengan hasil yang masih beragam. Akupunktur medik dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan terapi nonfarmakologis, terutama karena beberapa penelitian menunjukkan potensi manfaat terhadap keparahan tinnitus dan kualitas hidup. 2,4
Bukti penelitian menunjukkan potensi manfaat akupunktur pada tinnitus. Xu et al. (2022) melaporkan hasil positif pada 11 dari 14 meta-analisis, sedangkan Chen dan Jing (2025) menemukan bahwa scalp acupuncture memiliki efektivitas klinis lebih tinggi dan penurunan keparahan tinnitus yang lebih besar dibandingkan terapi konvensional maupun obat-obatan. Secara fisiologis, akupunktur bekerja melalui regulasi multitarget pada sistem saraf tepi, otonom, dan pusat, antara lain dengan meningkatkan aliran darah ke koklea, menekan respons inflamasi, serta memengaruhi GABA (zat kimia otak yang membantu menenangkan aktivitas sel saraf) dan jaringan otak yang berkaitan dengan respons emosional terhadap tinnitus. Berbagai uji klinis juga menunjukkan penurunan THI (Tinnitus Handicap Inventory, kuesioner untuk menilai seberapa besar tinnitus mengganggu kehidupan sehari-hari) dan VAS (Visual Analogue Scale, skala untuk menilai seberapa tidak nyaman suara tinnitus dirasakan), serta perbaikan kualitas tidur dan fungsi pendengaran. Meskipun hasil penelitian masih bervariasi karena keterbatasan metodologi dan perbedaan antarpenelitian, Akupunktur Medik dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan terapi nonfarmakologis pada tinnitus, dengan profil keamanan yang baik dan risiko efek samping yang relatif rendah.3,5–7
Daftar Pustaka
1 Jarach CM, Lugo A, Scala M, Van Den Brandt PA, Cederroth CR, Odone A et al. Global Prevalence and Incidence of Tinnitus: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Neurol 2022; 79: 888.
2 Hobeika L, Fillingim M, Tanguay-Sabourin C, Roy M, Londero A, Samson S et al. Tinnitus risk factors and its evolution over time. Nat Commun 2025; 16: 4244.
3 Xu J, Hu W, Jiang Y, Wang W, Li L, Xing Q. Research Progress on Pathogenesis, Modern Interventions and Neuromodulatory Mechanisms of Acupuncture for Tinnitus. IJGM 2026; Volume 19: 1–13.
4 Kleinjung T, Peter N, Schecklmann M, Langguth B. The Current State of Tinnitus Diagnosis and Treatment: a Multidisciplinary Expert Perspective. JARO 2024; 25: 413–425.
5 Xu X, Xie H, Liu Z, Guo T, Zhang Y. Effects of acupuncture on the outcome of tinnitus: An overview of systematic reviews. Front Neurol 2022; 13: 1061431.
6 Shi F, Ye Z, Zha B, Wu W, Zhang Y, Yu L et al. Recent advances on the mechanism of acupuncture in the treatment of subjective tinnitus. Front Syst Neurosci 2025; 19: 1523761.
7 Chen J, Jing R. The clinical efficacy of scalp acupuncture for tinnitus: A systematic review and meta-analysis. Complementary Therapies in Medicine 2025; 88: 103129.