dr. Ester Ria Nainggolan, dr. Stefanus Agung Budianto, Sp. Ak.
source : www.klikdokter.com
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan jangka panjang di seluruh dunia. Kemajuan dalam tata laksana akut telah meningkatkan angka harapan hidup pasien, namun banyak penyintas stroke masih mengalami berbagai gangguan neurologis yang menetap. Salah satu gangguan yang sering ditemukan tetapi kurang mendapat perhatian adalah hipoestesia, yaitu kondisi medis berupa penurunan atau hilangnya sebagian daya rasa pada kulit dan indra peraba, seperti kemampuan merasakan rangsang sentuhan, suhu, nyeri, dan tekanan. Keluhan ini umumnya dirasakan sebagai baal, kebas atau mati rasa pada wajah, lengan, dan tungkai.
Gangguan sensorik pascastroke diperkirakan dialami oleh lebih dari separuh penyintas stroke. Hipoestesia tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga mengganggu koordinasi gerakan, keseimbangan, kemampuan menggenggam benda, aktivitas sehari-hari, hingga meningkatkan risiko jatuh. Selain itu, gangguan sensorik dapat menghambat proses pemulihan fungsi motorik karena sistem sensorik dan motorik bekerja secara saling berkaitan dalam menghasilkan gerakan yang terkoordinasi. Penatalaksanaan hipoestesia pascastroke saat ini terutama meliputi rehabilitasi medik melalui latihan sensorik, latihan sensorimotor, terapi okupasi, serta latihan aktivitas fungsional. Meskipun demikian, perbaikan fungsi sensorik sering berlangsung lebih lambat dibandingkan pemulihan fungsi motorik sehingga masih diperlukan upaya untuk mengoptimalkan proses pemulihan.
Dalam beberapa tahun terakhir, akupunktur semakin banyak diteliti sebagai salah satu intervensi pada rehabilitasi stroke. Penelitian modern menjelaskan bahwa stimulasi jarum pada titik akupunktur mengaktivasi serabut saraf aferen yang kemudian mengirimkan impuls menuju medula spinalis, batang otak, talamus, dan korteks serebri. Rangsangan tersebut memicu pelepasan berbagai neurotransmiter dan neuromodulator, seperti β-endorfin, enkefalin, serotonin, norepinefrin, serta meningkatkan ekspresi 𝘣𝘳𝘢𝘪𝘯-𝘥𝘦𝘳𝘪𝘷𝘦𝘥 𝘯𝘦𝘶𝘳𝘰𝘵𝘳𝘰𝘱𝘩𝘪𝘤 𝘧𝘢𝘤𝘵𝘰𝘳 (BDNF). Mekanisme tersebut berperan dalam meningkatkan neuroplastisitas, memperbaiki reorganisasi korteks sensorimotor, dan meningkatkan pemulihan fungsi neurologis setelah stroke.
Bukti ilmiah mengenai penggunaan akupunktur pada gangguan sensorik pascastroke terus berkembang. Sebuah network meta-analysis yang melibatkan hampir 2.000 pasien stroke menunjukkan bahwa pemberian akupunktur bersama program rehabilitasi menghasilkan perbaikan fungsi sensorik, penurunan keluhan baal, serta peningkatan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dibandingkan rehabilitasi tanpa akupunktur. Hasil tersebut menunjukkan bahwa stimulasi akupunktur berhubungan dengan perbaikan fungsi somatosensorik yang bermakna. Temuan serupa juga dilaporkan dalam tinjauan ilmiah terbaru mengenai defisit somatosensorik pascastroke. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa akupunktur berpotensi meningkatkan sensasi raba, mengurangi hipoestesia, memperbaiki fungsi neurologis, serta meningkatkan kualitas hidup penyintas stroke.
Selain manfaat klinis, angka kejadian efek samping yang dilaporkan relatif rendah dan sebagian besar berupa keluhan ringan seperti nyeri atau memar pada lokasi penusukan. Selain akupunktur manual, berbagai modalitas akupunktur juga telah diteliti. Elektroakupunktur menggunakan stimulasi listrik berintensitas rendah melalui jarum akupunktur sehingga menghasilkan rangsangan yang lebih konsisten. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa elektroakupunktur dapat meningkatkan aktivasi jaringan sensorimotor, memperbaiki fungsi neurologis, serta meningkatkan kemampuan fungsional pasien pascastroke. Modalitas lain yang banyak digunakan adalah scalp acupuncture atau akupunktur kulit kepala. Teknik ini didasarkan pada stimulasi area kulit kepala yang berhubungan dengan representasi korteks sensorimotor.
Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa scalp acupuncture berhubungan dengan peningkatan perfusi serebral, perbaikan fungsi neurologis, serta peningkatan pemulihan sensorimotor pada pasien stroke. Penelitian menggunakan pencitraan otak fungsional (𝘧𝘶𝘯𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘨𝘯𝘦𝘵𝘪𝘤 𝘳𝘦𝘴𝘰𝘯𝘢𝘯𝘤𝘦 𝘪𝘮𝘢𝘨𝘪𝘯𝘨 atau fMRI) juga menunjukkan bahwa akupunktur dapat memengaruhi aktivitas berbagai area otak yang berperan dalam proses sensorik dan motorik. Hasil tersebut mendukung dugaan bahwa akupunktur berkontribusi terhadap proses reorganisasi jaringan saraf (neuroplasticity) yang merupakan salah satu mekanisme utama pemulihan setelah stroke. Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa keberhasilan pemulihan pascastroke dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain lokasi dan luas lesi otak, usia pasien, waktu dimulainya rehabilitasi, intensitas latihan, serta penyakit penyerta. Oleh karena itu, evaluasi dan penanganan setiap pasien tetap harus dilakukan secara individual sesuai kondisi klinis masing-masing.
Secara keseluruhan, bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa akupunktur memiliki peran dalam rehabilitasi pasien pascastroke yang mengalami hipoestesia. Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbaikan fungsi sensorik, penurunan keluhan kebas, peningkatan aktivitas sehari-hari, serta perbaikan fungsi neurologis. Seiring bertambahnya penelitian berkualitas tinggi, diharapkan pemanfaatan akupunktur dalam rehabilitasi stroke semakin didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat sehingga dapat memberikan hasil yang optimal bagi penyintas stroke.
Daftar Pustaka
- Wang J, et al. Effect of Acupuncture Combined with Rehabilitation Training on Sensory Impairment of Patients with Stroke: A Network Meta-analysis. 2024.
- Ren S, et al. Acupuncture for Somatosensory Deficits After Stroke. Frontiers in Medicine. 2025.
- Zhu T, et al. Efficacy of Acupuncture and Rehabilitation Therapy on Brain Functional Activity in Ischemic Stroke. PLoS One. 2024.
- Minh DN, et al. Effectiveness on Post-Stroke Hemiplegia in Patients Receiving Electroacupuncture. 2023.
- Zhang D, et al. Scalp Acupuncture for Post-Stroke Spastic Hemiparesis: A Meta-analysis. 2024.
- Li L, et al. Effects of Acupuncture in Ischemic Stroke Rehabilitation. 2022.
- Cai Y, et al. Electroacupuncture for Poststroke Spasticity: A Systematic Review and Meta-analysis. Medicine (Baltimore). 2017.