dr. Indrani Nur Winarno Putri, Dr. dr. Wahyuningsih Djaali, M.Biomed, Sp. Ak.
source: physioandsole.com.sg
Kehamilan dan persalinan menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh seorang ibu. Salah satunya pada kondisi otot dan jaringan ikat pada perut yang akan menyesuaikan dengan pertumbuhan janin. Setelah melahirkan kondisi ini biasanya akan berangsur pulih, namun pada sebagian ibu jarak antarotot rektus abdominis tetap melebar disertai dengan penipisan pada linea alba. Kondisi ini sering disebut sebagai Diastasis Rektus Abdominis. Diagnosis ditegakkan apabila ditemukan adanya pelebaran pada area pusar (jarak antar otot perut) sebesar lebih dari 2 cm pada pemeriksaan fisik maupun ultrasonografi (USG).1
Diastasis Rektus Abdominis dapat terjadi pada ibu hamil dan pascapersalinan dengan prevalensi pada trimester akhir sebanyak 70% dan 60% pada 6 minggu pasca persalinan. Pada 30% kasus, hal ini dapat menetap sampai 12 bulan pasca persalinan dengan penyebab yang masih belum sepenuhnya diketahui. Sementara otot perut sendiri memiliki berbagai peran penting untuk kehidupan seorang ibu seperti berpengaruh pada postur tubuh, pernapasan, stabilitas sumbu tubuh dan pelvis, penyokong organ abdomen di dalamnya dan tentunya estetika. Hal ini akan mempengaruhi fisik dan psikologis ibu sehingga akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari.2
Risiko Diastasis Rektus Abdominis meningkat pada ibu dengan riwayat operasi abdomen atau sesar, jumlah kehamilan dan persalinan, berat bayi lahir lebih besar dan rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul yang lebih tinggi. Perubahan struktur otot perut akan mengubah stabilitas dan postur tubuh, disertai dengan peningkatan aktivitas pasca kelahiran anak akan meningkatkan kejadian cedera seperti Nyeri Punggung Bawah, Disfungsi Otot Dasar Panggul dan Gangguan berkemih. Oleh karena itu diperlukan strategi tatalaksana yang baik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penderitanya.2,3
Olahraga mulai dari sebelum kehamilan sampai pasca persalinan dapat memperkecil jarak antarotot rektus abdominis. Tatalaksana pembedahan sering digunakan untuk mengatasi masalah ini. Namun kekambuhan masih sering terjadi. Sehingga terapi non pembedahan seperti latihan dasar otot panggul, Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES), korset, Tubigrip, dan akupunktur dapat menjadi alternatif yang lebih aman.1
Akupunktur berperan dalam stimulasi otot rektus abdominis dengan meningkatkan kemampuan saraf dan otot untuk merespon rangsangan sehingga memperbaiki sirkulasi darah, fungsi otot perut dan keseimbangan mekanis. Selain itu menurut penelitian akupunktur pada area perut dapat mengaktifkan otot Transverse Abdominis dan memicu sinergi otot dasar panggul. Akupunktur juga dapa meregenerasi otot rektus abdominis melalui perbaikan pada jaringan kolagen dari fasia tendon, menghambat zat pemicu peradangan sehingga memperbaiki otot rektus abdominis yang rusak.4,5,6
Penelitian Zhang et al. membuktikan bahwa akupunktur pada area perut dikombinasikan dengan latihan otot rektus abdominis dapat menurunkan jarak otot rektus abdominis, menurunkan nyeri punggung, meningkatkan fungsi psikologis dan sosial pada ibu dengan diastasis rektus abdominis sehingga meningkatkan kualitas hidup. Menurut penelitian Liu et al. elektroakupunktur yang dikombinasikan dengan latihan fisik juga dapat memperbaiki otot dasar panggul, elastisitas linea alba dan menurunkan lemak subkutan sekitar pusar dan Indeks Massa Tubuh tanpa adanya laporan efek samping serius yang terjadi.6,7
Akupunktur bersama dengan latihan fisik berpotensi menjadi terapi yang aman dan efektif dalam penatalaksanaan diastasis rektus abdominis, dengan efek samping yang minimal apabila dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten.
Daftar Pustaka :
1. Wu WC, Wu WH, Lee MF, Wu PY, Tu YK, Lin H, et al. Comparative efficacy and acceptability of non-surgical treatments with or without exercise for diastasis recti abdominis in postpartum women: a network meta-analysis of randomized controlled trials. Sports Med. 2025;55:937–51.
2. Chen B, Zhao X, Hu Y. Rehabilitations for maternal diastasis recti abdominis: an update on therapeutic directions. Heliyon. 2023;9(10):e20956.
3. Zhu Y, Jiang L, Ye T, Liu Y, Sun L, Xiao L, et al. Risk factors and patient-reported outcomes in Chinese women with postpartum diastasis recti abdominis: an observational study. Int J Womens Health. 2024;16:179–92.
4. Liu Y, Zhu Y, Jiang L, Lu C, Xiao L, Chen J, et al. Efficacy of Acupuncture in Post-partum With Diastasis Recti Abdominis: A Randomized Controlled Clinical Trial Study Protocol. Front Public Health. 2021 Dec 13;9:722572.
5. Sun Y, Tian H, Du S, Qi Z, Wang G, Zhao J. [Row-like needling along the spleen meridian combined with autonomous functional exercise in treatment of postpartum diastasis recti abdominis: a randomized controlled trial]. Zhongguo Zhen Jiu. 2024;44(7):757–61. Chinese. doi:10.13703/j.0255-2930.20231018-k0001
6. Zhang C, Yang X, Zhao Y, Xie D, Wang L. Acupuncture for postpartum diastasis recti abdominis and its effects on abdominal circumference and separation distance of rectus abdominis. Zhongguo Zhen Jiu. 2024;44(2):139–43.
7. Liu Y, Zhu Y, Jiang LY, Lu C, Xiao LJ, Wang T, et al. Efficacy of electro-acupuncture in postpartum with diastasis recti abdominis: A randomized controlled clinical trial. Front Public Health. 2022 Nov 15;10:1003361.