dr. Dewi Widya Astuti, dr. Ekky Sri Rejeki, M. H., Sp. Ak., Subsp. Ak-AA (K), C. Med.
source : Gemini.com
Laringofaringeal Refluks (LPR) didefinisikan sebagai aliran balik isi lambung ke arah laring dan faring, di mana material tersebut bersentuhan langsung dengan jaringan saluran napas dan pencernaan bagian atas (traktus aerodigestivus superior).1,2 Kondisi klinis ini berbeda secara mendasar dari Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang merupakan aliran balik asam lambung terbatas pada area esofagus.1 LPR dan GERD sama-sama berkaitan dengan refluks isi lambung, tetapi manifestasi klinisnya dapat berbeda. Pada GERD, keluhan yang lebih khas adalah heartburn dan regurgitasi, sedangkan LPR lebih sering menimbulkan keluhan di daerah tenggorokan seperti suara serak, sering berdehem, batuk, dan sensasi mengganjal. Aliran balik isi lambung pada LPR menyebabkan peradangan kronis pada mukosa tenggorokan dan organ sekitarnya, sebuah kondisi patologis yang disebut Laryngopharyngeal Reflux Disease (LPRD).2 LPRD memiliki prevalensi yang tinggi dan diperkirakan lebih dari 50% kasus gangguan suara atau disfonia yang berobat ke spesialis THT.1 Berdasarkan data di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sepanjang tahun 2025 terdapat 431 pasien rawat inap dan 16.299 kunjungan rawat jalan pasien dengan diagnosa LPR. Data tersebut menunjukkan bahwa LPR merupakan salah satu masalah yang cukup sering dijumpai dalam praktik klinis.
Laryngopharyngeal Reflux (LPR) terjadi ketika katup pelindung saluran cerna, yaitu sfingter esofagus atas dan bawah serta sistem pembersihan kerongkongan, mengalami kegagalan fungsi sehingga isi lambung mengalir balik ke tenggorokan.1 Jaringan laringofaring memiliki mekanisme perlindungan yang berbeda dengan esofagus sehingga paparan berulang terhadap isi lambung, terutama asam dan pepsin, dapat menyebabkan iritasi dan peradangan.1 Kerusakan parah ini dipicu oleh asam lambung yang memiliki pH sangat rendah (1,5–2) dibanding pH netral tenggorokan (pH 7), serta paparan enzim pepsin dan cairan empedu.1 Pepsin dapat tetap berada dalam keadaan tidak aktif pada lingkungan yang lebih netral dan kembali aktif ketika terjadi penurunan pH akibat refluks berikutnya.1 Selain akibat kontak langsung cairan lambung, iritasi asam di kerongkongan bagian bawah akan merangsang refleks saraf otonom (vagal) yang secara otomatis memicu batuk kronis, produksi lendir berlebih, dan sensasi mengganjal di tenggorokan.2
Gejala klinis LPR tidak spesifik namun memiliki karakteristik unik yang membedakan dari GERD.1 Gejala yang paling sering dikeluhkan pasien adalah keinginan untuk membersihkan tenggorokan/ sering berdehem (throat clearing) yang ditemukan pada 87% kasus, batuk kronis (terutama setelah makan atau berbaring), suara serak yang bersifat fluktuasi lebih berat di pagi hari, sensasi mengganjal di tenggorokan (globus pharyngeus), serta lendir berlebih di tenggorokan.1,2 Sebaliknya, gejala klasik GERD seperti dada terasa terbakar (heartburn) atau regurgitasi asam hanya dirasakan oleh sekitar 20% pasien LPR.1 Perbedaan ini menyebabkan LPR sering disebut sebagai silent reflux karena keluhan khas seperti heartburn atau regurgitasi dapat tidak menonjol .1
Penegakan diagnosis dengan menggunakan kombinasi kuesioner gejala mandiri dan pemeriksaan fisik.1,3 Secara subjektif, pasien dievaluasi menggunakan kuesioner Reflux Symptom Index (RSI), skor total di atas 13 diklasifikasikan sebagai abnormal.1,2 Secara objektif, laringoskopi dapat digunakan untuk menilai tanda-tanda yang mendukung adanya iritasi atau inflamasi laring, yang dapat dinilai menggunakan Reflux Finding Score (RFS), skor di atas 7 menunjukkan temuan yang mendukung adanya refluks laringofaring.1,2 Temuan laringoskopi adanya edema subglotis (pseudosulkus), hiperemia posterior, edema pita suara, dan hipertrofi komisura posterior.1 Metode penunjang seperti pemantauan pH orofaringeal 24 jam (Dx-pH) dapat mendeteksi refluks asam dan non-asam.1,2
Tata laksana LPR meliputi modifikasi gaya hidup komprehensif, modifikasi pola makan dan terapi farmakologis penekan asam lambung.1 Modifikasi gaya hidup terdiri dari penurunan berat badan, berhenti merokok dan alkohol, modifikasi pola makan dengan tidak makan minimal 3 jam sebelum tidur, serta pembatasan diet kafein, lemak, cokelat, minuman berkarbonasi, makanan pedas, dan makanan asam.1,2 Secara farmakologis, terapi utama menggunakan Proton Pump Inhibitor (PPI) untuk menekan sekresi asam lambung sesuai dengan evaluasi dan pertimbangan dokter.1,3
Akupunktur medik dapat diberikan sebagai terapi kombinasi tatalaksana LPR. Stimulasi akupunktur meningkatkan tekanan basal sfingter esofagus bawah (LESP) serta memperpanjang segmen sfingter di dalam intra-abdominal, yang secara mekanis menghalangi aliran balik isi lambung ke esofagus.4,5 Akupunktur memperbaiki motilitas esofagus dengan meningkatkan kekuatan kontraksi esofagus dan persentase kontraksi yang utuh, sekaligus menurunkan secara signifikan kejadian kontraksi yang tidak efektif dan terfragmentasi.4 Perbaikan motilitas ini mempercepat pembersihan asam lambung dari kerongkongan.4
Akupunktur dan timulasi saraf vagus telinga (tVNS) juga menunjukkan peningkatan resting pressure dari sfingter esofagus atas, memperkuat gerbang mekanis terakhir sebelum cairan refluks mencapai laringofaring.5 Melalui mekanisme tersebut, akupunktur berpotensi mengendalikan motilitas serta menyeimbangkan sekresi asam lambung.4,5 Akupunktur juga menurunkan hipersensitivitas viseral saluran cerna atas, meredakan nyeri tenggorokan kronis, dan mengurangi kecemasan serta depresi yang sering kali menyertai pasien LPR kronis.4,5 Kombinasi akupunktur dengan terapi standar menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menurunkan skor RSI dan memperbaiki tanda peradangan laring (RFS) dibandingkan terapi standar saja.3 Dengan demikian, akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai terapi kombinasi pada pasien LPR.
Daftar Referensi
- Campagnolo A, Priston J, Thoen R, Medeiros T, Assunção A. Laryngopharyngeal Reflux: Diagnosis, Treatment, and Latest Research. Int Arch Otorhinolaryngol. 2013;18:184–91. doi:10.1055/s-0033-1352504
- Shen H, Han Y, Wu D, Hu L, Ma Y, Wu F, et al. Trial of transcutaneous electrical acupoint stimulation in laryngopharyngeal reflux disease: study protocol for a randomized controlled trial. Trials. 2022;23:272. doi:10.1186/s13063-022-06193-0
- Oh J, Yang J, Yang J, Kang M, Kim S, Lee M, et al. Effectiveness of Acupuncture for Laryngopharyngeal Reflux Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis. J Acupunct Res. 2023;40:188–200. doi:10.13045/jar.2023.00087
- Yuming T, Yuping Z, Yihan L, Ying Z, Jia H, Hanbing S, et al. Acupuncture Improved the Function of the Lower Esophageal Sphincter and Esophageal Motility in Chinese Patients with Refractory Gastroesophageal Reflux Disease Symptoms: A Randomized Trial. Hong W, editor. Gastroenterology Research and Practice. 2023;2023:1–8. doi:10.1155/2023/4645715
- Huang Y, Liu J, Lv C, Sun C, Meng M, Lowe S, et al. Integrative effects of transcutaneous auricular vagus nerve stimulation on esophageal motility and pharyngeal symptoms via vagal mechanisms in patients with laryngopharyngeal reflux disease. Front Neurosci. 2024;18:1287809. doi:10.3389/fnins.2024.1287809