Akupunktur untuk Dispepsia Fungsional

https://nari.punjabkesari.in/nari/news/if-you-see-these-5-signs-then-your-digestive-isbad

Dispepsia adalah sekumpulan gejala yang berhubungan dengan regio lambung dan usus halus, meliputi nyeri ulu hati, rasa begah pada perut setelah makan, mual, muntah, tidak nafsu makan,  atau mudah kenyang. Sekitar 80% individu dengan dispepsia tidak memiliki gangguan struktur yang dapat menjelaskan gejala yang dirasakan. Tipe dispepsia yang demikian disebut dispepsia fungsional.

Dispepsia fungsional terjadi pada 16% individu pada populasi umum tanpa disertai dengan penyakit lainnya. Prevalensi dari dispepsia di seluruh dunia adalah sekitar 21,8%.1 Prevalensi dispepsia fungsional pada populasi di asia berkisar antara 7–20%. Menurut data tahun 2010, dispepsia merupakan penyakit no. 5 yang mengakibatkan pasien dirawat inap di Indonesia. 2

Faktor resiko dispepsia fungsional termasuk komorbiditas psikologi, radang saluran cerna akut, wanita, perokok, penggunaan obat inflamasi non steroid, dan infeksi Helicobacter pylori. Patofisiologi dispepsia fungsional belum sepenuhnya dapat dipahami, diduga berhubungan dengan gangguan komunikasi usus dengan saraf pusat, yang mengakibatkan gangguan motilitas, hipersensitivitas usus, dan perubahan biota, mukosa dan fungsi imun usus.

Untuk diagnosa dispepsia fungsional, penggunaan endoskopi sebagai alat diagnostik dibatasi untuk mereka yang berusia 55 tahun atau lebih, atau mereka yang memiliki gejala yang mencemaskan seperti muntah atau kehilangan berat badan yang berlebihan. Kriteria diagnostik untuk dispepsia fungsional yang digunakan saat ini adalah kriteria ROME IV, yang membagi dispepsia fungsional menjadi 2 subtipe, yaitu kelompok dengan sindroma nyeri uluhati (epgastric pain syndrome) dan kelompok dengan sindroma distres paska makan (postprandial distress syndrome)3. Gejala berlangsung setidaknya 3 kali seminggu untuk postprandial distress syndrome dan lebih dari sekali seminggu untuk Epigastrik Pain Syndrome.1

Dikarenakan kurangnya pemahaman mekanisme terjadinya dispepsia fungsional, seringkali dispepsia fungsional menjadi kronis dan sulit untuk diobati. Pada penderita dispepsia dengan hasil test (+) untuk Helicobacter pylori bisa diberikant terapi eradikasi. Obat lainnya yang dapat diberikan termasuk obat golongan penghambat pompa proton, antagonis reseptor histamin-2, prokinetik dan neuromodulator sentral.

Hingga saat ini terdapat banyak jenis terapi akupunktur yang telah dikembangkan, termasuk akupunktur manual, akupunktur dengan penghangatan, elektroakupunktur, moksibusi, penanaman benang catgut pada titik akupunktur, dan farmako akupunktur. Pada 2017, Ho, dkk melakukan sebuah telaah sistematis dan network metaanalysis untuk akupunktur dan terapi lainnya yang berhubungan dengan dispepsia fungsional. Mereka menyimpulkan bahwa kombinasi dari akupunktur manual dan clebopride merupakan pendekatan paling efektif untuk perbaikan gejala dispepsia fungsional. Zhang, dkk pada 2020 melakukan telaah sistematis, dan menemukan terapi akupunktur manual sebagai terapi tunggal baik untuk dipertimbangkan sebagai terapi alternatif untuk pasien dispepsia fungsional, terutama untuk pasien yang tidak responsif pada prokinetik atau memiliki intoleransi dengan efek samping dari prokinetik.4

Akupunktur untuk dispepsia fungsional terbukti dapat memperbaiki motilitas gastrointestinal. Tehnik akupunktur lain, yaitu elektroakupunktur terbukti mempercepat waktu pengosongan lambung melalui modulasi saraf otonom. Departemen Gastroenterologi RSCM dan program studi akupunktur medik FKUI sudah melakukan beberapa penelitian akupunktur untuk dispepsia fungsional, dan berhasil memperlihatkan peningkatan pH asam lambung dan menurunkan gejala sindroma dispepsia fungsional secara bermakna. Akupunktur juga dapat memperbaiki gejala dispepsia fungsional dengan memodulasi susunan saraf pusat. Beberapa telaah sistematis juga telah memperlihatkan terapi akupunktur dapat memperbaiki gejala dispepsia fungsional setara, bahkan lebih baik dari terapi konvensional.

Daftar Pustaka

1. Ford AC, Mahadeva S, Carbone MF, Lacy BE, Talley NJ. Functional dyspepsia. The Lancet (British edition). 2020;396(10263):1689-702.

2. Hantoro IF, Syam AF, Mudjaddid E, Setiati S, Abdullah M. Factors associated with health-related quality of life in patients with functional dyspepsia. Health and quality of life outcomes. 2018;16(1):83-.

3. Futagami S, Yamawaki H, Agawa S, Higuchi K, Ikeda G, Noda H, et al. New classification Rome IV functional dyspepsia and subtypes. Transl Gastroenterol Hepatol. 2018;3:70-.

4. Zhang R, Jia MX, Zhang JS, Xu XJ, Shou XJ, Zhang XT, et al. Transcutaneous electrical acupoint stimulation in children with autism and its impact on plasma levels of arginine-vasopressin and oxytocin: a prospective single-blinded controlled study. Res Dev Disabil. 2012;33(4):1136-46.

Leave a Reply

Your email address will not be published.