dr. Nisa Ashila, dr. R. Handaya Dipanegara, M. Kes., Sp. Ak, Subsp. Ak-AA(K)
Buckhead Acupuncture
Penggunaan akupunktur pada populasi anak mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir seiring berkembangnya bukti ilmiah mengenai mekanisme kerja, efektivitas, dan keamanannya pada berbagai kondisi klinis. Dalam praktik kedokteran modern, akupunktur digunakan sebagai salah satu modalitas untuk membantu mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung keberhasilan tata laksana medis pada berbagai penyakit anak. Pengobatan akupunktur merupakan salah satu yang diberikan bersama pengobatan utama untuk mengoptimalkan hasil klinis sesuai kebutuhan masing-masing pasien. Di tengah meningkatnya angka gangguan tumbuh kembang, penyakit kronis, dan berbagai keluhan fungsional pada anak, banyak klinisi dan orang tua mulai mempertimbangkan pendekatan nonfarmakologis yang relatif minimal invasif dan memiliki profil efek samping yang lebih rendah dibandingkan penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang.
Pada praktik klinis anak, akupunktur telah digunakan pada berbagai kondisi, termasuk nyeri kronik, keluhan pascaoperasi, epilepsi, serta beberapa gangguan tumbuh kembang, yaitu cerebral palsy, gangguan spektrum autisme, dan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity Disorder [ADHD]). Selain itu, akupunktur juga dimanfaatkan untuk membantu mengatasi nocturnal enuresis (mengompol pada malam hari), asma, dan berbagai penyakit alergi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa akupunktur berpotensi membantu mengurangi nyeri, memperbaiki gejala pada beberapa gangguan sistem saraf, serta meredakan keluhan fungsional tertentu. Namun, bukti ilmiah mengenai manfaat akupunktur pada beberapa kondisi anak masih terus berkembang dan belum menunjukkan tingkat kepastian yang sama untuk semua indikasi. Oleh karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing anak, pertimbangan klinis yang tepat, serta dilakukan berdasarkan bukti ilmiah dan standar praktik kedokteran yang berlaku.¹
Selain akupunktur manual menggunakan jarum, saat ini tersedia berbagai modalitas pengobatan akupunktur yang lebih ramah anak, salah satunya adalah laserpunktur. Laserpunktur merupakan metode stimulasi titik akupunktur menggunakan sinar laser berintensitas rendah (low-level laser therapy atau photobiomodulation) tanpa menembus kulit. Modalitas ini semakin banyak digunakan pada anak karena tidak menimbulkan rasa nyeri, tidak menyebabkan perdarahan, dan umumnya lebih mudah diterima oleh anak yang takut terhadap jarum. Berbagai penelitian melaporkan penggunaan laserpunktur pada beberapa kondisi anak, termasuk nyeri, asma, nocturnal enuresis, gangguan neurologis, dan rehabilitasi gangguan tumbuh kembang tertentu. Systematic review oleh Yang dkk. melaporkan bahwa laserpunktur memiliki profil keamanan yang sangat baik, dengan efek samping yang jarang, ringan, dan bersifat sementara, tanpa laporan komplikasi serius yang berhubungan langsung dengan tindakan.⁶ Risiko perdarahan, memar, infeksi, maupun cedera organ yang dapat terjadi pada tindakan berbasis jarum praktis tidak ditemukan karena tidak terjadi penetrasi kulit.⁶˒⁷ Oleh karena itu, laserpunktur dapat menjadi pilihan pengobatan yang aman dan nyaman, terutama pada anak yang memiliki ketakutan terhadap jarum, ambang nyeri yang rendah, atau memerlukan pengobatan berulang dalam jangka panjang.
Meskipun berbagai modalitas akupunktur, termasuk laserpunktur, memiliki profil keamanan yang baik, aspek keamanan tetap menjadi perhatian utama dalam praktik akupunktur pada anak. Anak bukanlah “miniatur dewasa”. Struktur anatomi anak memiliki karakteristik khas berupa kulit dan jaringan lemak yang lebih tipis, rongga dada yang lebih kecil, letak organ-organ penting yang relatif lebih dekat dengan permukaan tubuh, serta sistem saraf otonom yang belum matang sempurna. Kondisi tersebut menyebabkan tindakan akupunktur pada anak memerlukan teknik yang lebih hati-hati, stimulasi yang lebih ringan, dan pemahaman anatomi anak yang lebih mendalam dibandingkan pada pasien dewasa.
Data ilmiah menunjukkan bahwa sebagian besar efek samping akupunktur pada anak bersifat ringan dan sementara. Penelitian Systematic review oleh Adams dkk. melaporkan total 279 adverse events terkait akupunktur pada anak, dengan sekitar 90,7% berupa efek samping ringan, 0,4% tergolong sedang, dan hanya 8,9% yang termasuk komplikasi serius.²
Efek samping ringan yang paling sering ditemukan meliputi nyeri lokal, perdarahan ringan, hematoma, memar, iritasi kulit, serta reaksi vasovagal sementara berupa pucat, mual, pusing, dan rasa lemas sesaat. Bahkan, angka kejadian efek samping ringan hanya sekitar 11,8% per pasien dan sebagian besar membaik spontan tanpa memerlukan penanganan khusus.² Efek samping ringan tersebut umumnya terjadi akibat trauma pembuluh darah kecil di bawah kulit, kecemasan anak terhadap tindakan invasif, atau respons sementara sistem saraf otonom selama prosedur berlangsung. Pada sebagian besar kasus, keluhan dapat membaik melalui observasi singkat, kompres lokal, penekanan area perdarahan, pemberian cairan yang cukup, serta edukasi dan penjelasan yang menenangkan kepada pasien maupun orang tua.
Efek samping serius memang pernah dilaporkan, meskipun jumlahnya sangat jarang dibandingkan jumlah tindakan akupunktur yang dilakukan secara global. Komplikasi serius yang pernah dilaporkan meliputi pneumotoraks, infeksi sistemik, cedera saraf, cedera organ dalam, perdarahan intrakranial, hingga gangguan jantung akibat penusukan yang terlalu dalam.²˒³ Pneumotoraks merupakan salah satu komplikasi paling penting karena dapat mengancam jiwa, terutama pada tindakan di area rongga dada. Anak yang mengalami sesak napas mendadak, nyeri dada, napas menjadi lebih cepat dari biasanya, atau penurunan saturasi oksigen setelah tindakan harus segera dievaluasi melalui pemeriksaan fisik dan pencitraan rongga dada. Penanganan meliputi penghentian tindakan, pemberian oksigen, observasi ketat, hingga pemasangan chest tube pada kondisi yang berat.
Infeksi lokal maupun sistemik juga menjadi perhatian penting dan umumnya berkaitan dengan prosedur steril yang tidak adekuat atau penggunaan teknik yang tidak steril. Manifestasinya dapat berupa kemerahan, nyeri, pembengkakan, abses, hingga demam. Penanganan meliputi pembersihan area yang terkena dengan cairan antiseptik, pemberian antibiotik sesuai indikasi, drainase abses bila diperlukan, serta evaluasi lebih lanjut apabila dicurigai terjadi penyebaran infeksi. Reaksi vasovagal juga dapat ditemukan pada anak yang cemas atau takut terhadap tindakan invasif. Penanganannya meliputi penghentian stimulasi, memosisikan pasien terlentang dengan tungkai sedikit ditinggikan, memastikan jalan napas tetap baik, dan memantau tanda vital hingga kondisi kembali stabil.
Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis terbaru oleh Bäumler dkk. yang menunjukkan bahwa efek samping serius hanya terjadi sekitar 1 kasus per 10.000 pasien atau sekitar 8 kasus per 1 juta tindakan akupunktur.⁵ Angka tersebut tergolong sangat rendah dibandingkan berbagai prosedur medis invasif lainnya. Selain itu, berbagai systematic review menunjukkan bahwa sebagian besar komplikasi serius bukan disebabkan oleh prosedur akupunktur itu sendiri, melainkan berkaitan dengan praktik yang tidak memenuhi standar, seperti kesalahan teknik penusukan, kedalaman jarum yang berlebihan, kurangnya pemahaman anatomi, atau kompetensi operator yang tidak memadai.²˒⁴ Oleh karena itu, prinsip utama keamanan akupunktur pada anak terletak pada kualitas praktik. Seleksi pasien yang tepat, informed consent yang jelas, penggunaan jarum steril sekali pakai, teknik minimal invasif, pemahaman anatomi anak, serta kemampuan mengenali dan menangani komplikasi secara dini merupakan komponen utama dalam praktik akupunktur yang aman.
Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia saat ini, akupunktur pada anak memiliki profil keamanan yang baik dengan mayoritas efek samping bersifat ringan dan sementara, sedangkan komplikasi serius sangat jarang terjadi serta umumnya berkaitan dengan praktik yang tidak memenuhi standar. Kehadiran modalitas noninvasif seperti laserpunktur semakin memperluas pilihan pengobatan yang aman, nyaman, dan lebih mudah diterima oleh anak maupun orang tua. Dengan tetap mengedepankan prinsip keselamatan pasien dan praktik kedokteran berbasis bukti, akupunktur dapat menjadi salah satu pilihan pengobatan yang bernilai dalam tata laksana berbagai kondisi pada anak apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan sesuai indikasi klinis.
Daftar Pustaka:
- Yang C, Hao Z, Zhang LL, Guo Q. Efficacy and safety of acupuncture in children: an overview of systematic reviews. Pediatr Res. 2015;78(2):112-9.
- Adams D, Cheng F, Jou H, Aung S, Yasui Y, Vohra S. The safety of pediatric acupuncture: a systematic review. Pediatrics. 2011;128(6):e1575-87.
- Chan MWC, Wu XY, Wu JCY, Wong SYS, Chung VCH. Safety of acupuncture: overview of systematic reviews. Sci Rep. 2017;7:3369.
- Zhang J, Shang H, Gao X, Ernst E. Acupuncture-related adverse events: a systematic review of the Chinese literature. Bull World Health Organ. 2010;88(12):915-21.
- Bäumler P, Zhang WY, Stübinger T, Irnich D. Acupuncture-related adverse events: systematic review and meta-analyses of prospective clinical studies. BMJ Open. 2021;11(9):e045961.
- Yang J, Mallory MJ, Wu Q, Bublitz SE, Do A, Xiong D, et al. The safety of laser acupuncture: a systematic review. Med Acupunct. 2020;32(4):209-17.
- Chon TY, Mallory MJ, Yang J, Bublitz SE, Do A, Dorsher PT. Laser acupuncture: a concise review. Med Acupunct. 2019;31(3):164-8.
- Ton G, Lin CH, Ho WC, Lai W, Yen HR, Lee YC. The effects of laser acupuncture therapy on nocturnal enuresis: a systematic review and meta-analysis. Med Acupunct. 2022;34(4):228-39.
- Mira P, Vilela LD, Corona SA, Borsatto MC. Effect of low-level laser stimulation of acupuncture points in pediatric dentistry: a systematic review. Lasers Med Sci. 2023;38:1-8.