dr. Phoenix Hong, dr. Candrarukmi Yogandari, Sp. Ak., Subsp. Ak-AA (K)
simhcottumwa.org
Herpes zoster merupakan penyakit akibat reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), yaitu virus yang juga menyebabkan varisela atau cacar air. Bagi pasien yang pernah mengalami infeksi primer varisela, virus tidak sepenuhnya hilang dari tubuh, melainkan menetap secara laten pada ganglion saraf sensorik. Ketika imunitas tubuh menurun, virus dapat kembali aktif dan menyebabkan inflamasi saraf serta manifestasi khas berupa ruam vesikular unilateral yang disertai nyeri neuropatik hebat sesuai dermatom yang terkena. Penyakit ini juga menyebabkan gangguan kualitas hidup yang signifikan akibat nyeri berkepanjangan, gangguan tidur, keterbatasan aktivitas, hingga komplikasi neuralgia paska-herpetik.1,
Insidensi herpes zoster meningkat seiring pertambahan usia dan penurunan imunitas tubuh. Sekitar satu dari tiga individu akan mengalami herpes zoster sepanjang hidupnya. Risiko lebih tinggi ditemukan pada kelompok usia lanjut, pasien diabetes melitus, keganasan, penyakit autoimun, infeksi HIV, penggunaan obat imunosupresif jangka panjang, maupun individu dengan stres kronis dan kelelahan berkepanjangan.1,3
Reaktivasi virus menyebabkan inflamasi pada ganglion sensorik dan saraf perifer yang memicu pelepasan mediator proinflamasi seperti interleukin-6, tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), dan substansi P yang berperan dalam timbulnya nyeri neuropatik.2,4 Manifestasi klinis umumnya diawali dengan nyeri, rasa panas, kesemutan, atau hipersensitivitas pada area dermatom tertentu beberapa hari sebelum munculnya ruam, timbul lesi eritematosa yang berkembang menjadi vesikel berkelompok unilateral. Dermatom torakal merupakan lokasi tersering, diikuti dermatom servikal dan trigeminal. Pada beberapa kasus, nyeri yang ditimbulkan sangat berat hingga mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, dan kondisi psikologis pasien.2 Kerusakan saraf perifer juga menyebabkan sensitisasi perifer dan sentral sehingga pasien dapat mengalami nyeri berat berupa rasa terbakar, tertusuk, tersengat listrik, atau hiperalgesia bahkan setelah lesi kulit membaik.2,4
Meskipun terdapat terapi farmakologis herpes zoster yang umumnya diberikan mencakup antivirus, analgesik, kortikosteroid dan obat-obatan lainnya, namun seringkali belum memberikan kontrol nyeri yang optimal. Penggunaan analgesik jangka panjang juga dapat menyebabkan efek samping seperti sedasi, gangguan gastrointestinal, ketergantungan obat serta gangguan fungsi hati dan ginjal.1,4 Oleh karena itu, diperlukan pendekatan terapi adjuvan yang dapat membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki kualitas hidup pasien secara lebih komprehensif. Akupunktur adalah metode terapi dengan stimulasi titik tertentu pada tubuh menggunakan jarum halus untuk menghasilkan efek terapeutik melalui mekanisme neurofisiologis, hormonal, dan imunologis. Stimulasi akupunktur memodulasi sistem saraf perifer dan sentral, meningkatkan pelepasan neurotransmiter analgesik endogen, serta memengaruhi regulasi sistem imun dan inflamasi.5
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akupunktur merangsang tubuh untuk melepaskan endorfin, enkefalin, serotonin, dan gamma aminobutyric acid (GABA) yang membantu mengurangi nyeri neuropatik serta mengurangi mediator inflamasi di dalam tubuh.4,6 Efek modulasi sistem saraf otonom juga berperan dalam memperbaiki kualitas tidur, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan relaksasi pasien. Akupunktur juga meningkatkan mikrosirkulasi lokal sehingga membantu proses regenerasi jaringan kulit dan saraf yang mengalami inflamasi akibat reaktivasi virus.5 Akupunktur relatif aman apabila dilakukan oleh tenaga medis yang telah terlatih dengan baik. Efek samping yang dilaporkan umumnya ringan seperti nyeri lokal ringan atau hematoma kecil pada area penusukan.7-9 Oleh karena itu, akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan dalam penatalaksanaan herpes zoster
Referensi
1. Cohen JI. Herpes zoster. N Engl J Med. 2013;369(3):255-63.
2. Johnson RW, Rice AS. Clinical practice. Postherpetic neuralgia. N Engl JMed. 2014;371(16):1526-33.
3. Marra F, Parhar K, Huang B, Vadlamudi N. Risk factors for herpes zoster infection: a meta- analysis. Open Forum Infect Dis. 2020;7(1):ofaa005.
4. Baron R. Mechanisms of disease: neuropathic pain—a clinical perspective. Nat Clin Pract Neurol. 2006;2(2):95-106.
5. Zhao ZQ. Neural mechanism underlying acupuncture analgesia. Prog Neurobiol. 2008;85(4):355-75.
6. Han JS. Acupuncture and endorphins. Neurosci Lett. 2004;361(1-3):258-61.
7. Li Y, Zheng H, Witt CM, Roll S, Yu SG, Yan J, et al. Efficacy of acupuncture for herpes zoster: a systematic review and meta-analysis. Complement Med Res. 2021;28(5):463-72.
8. Choi SK, Moon JH, Jang WS, Jang JE, Park SH, Sung WS, et al. The effectiveness of acupuncture for herpes zoster: a systematic review and meta-analysis. J Acupunct Res. 2023;40(1):16-34.
9. Coyle ME, Liang H, Wang K, Zhang AL, Guo X, Lu C, et al. Acupuncture plus moxibustion for herpes zoster: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Dermatol Ther. 2017;30(4):e12468.