dr. Clarissa Oktavia, dr. Ekky Sri Rejeki, Sp.Ak., Subsp.AK-AA(K)., M.H., C.Med
westsidewomenshealth.com
Hiperseksualitas sering kali dipersepsikan masyarakat sebagai sekadar “libido tinggi” atau lemahnya kontrol diri. Padahal, dalam praktik klinis modern, kondisi ini dapat berkembang menjadi Compulsive Sexual Behavior Disorder (CSBD), yaitu gangguan perilaku seksual kompulsif yang ditandai oleh dorongan seksual berulang, impulsif, sulit dikendalikan, dan tetap dilakukan meskipun telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan pasien. Tidak sedikit penderita mengalami rasa bersalah, kecemasan, gangguan relasi interpersonal, penurunan produktivitas, hingga perilaku seksual berisiko yang meningkatkan kemungkinan infeksi menular seksual.1
Penting dipahami bahwa libido tinggi tidak selalu patologis. Aktivitas seksual masih dianggap normal selama tetap berada dalam batas yang aman, terkendali, tidak menimbulkan distress, dan tidak mengganggu fungsi sosial maupun pekerjaan. Masalah muncul ketika dorongan seksual berubah menjadi perilaku kompulsif dan mulai “mengendalikan” individu. Pada fase ini, pasien sering menggambarkan dirinya seperti berada dalam lingkaran craving, perilaku seksual impulsif, rasa lega sementara, lalu penyesalan yang berulang.1,2
Secara neurobiologis, kondisi ini melibatkan gangguan pada sistem reward otak dan kontrol impuls. Jalur dopaminergik mesolimbik yang melibatkan area ventral tegmental, nucleus accumbens, dan striatum berperan dalam pembentukan sensasi reward dan craving. Aktivasi berulang pada sistem tersebut menyebabkan perilaku seksual kompulsif memiliki pola yang menyerupai behavioral addiction.3 Di sisi lain, disregulasi korteks prefrontal dan orbitofrontal menyebabkan kemampuan kontrol diri dan pengambilan keputusan menjadi menurun. Akibatnya, pasien memahami bahwa perilakunya merugikan, tetapi tetap merasa sulit menghentikannya.4
Tidak hanya faktor biologis, kondisi ini juga dapat muncul pada pasien dengan gangguan bipolar, terutama saat episode manik, ketika peningkatan energi, impulsivitas, disinhibisi, dan penurunan penilaian risiko mendorong perilaku seksual berlebihan.5 Selain itu, paparan pornografi yang berlebihan dan repetitif juga meningkatkan resiko terjadinya CSBD.6 Faktor lain yang mempengaruhi kondisi tersebut meliputi depresi, kecemasan, insomnia, ADHD, trauma psikologis, dan penyalahgunaan zat juga.7 Pada sebagian pasien, aktivitas seksual bahkan menjadi bentuk pelarian emosional terhadap stres dan kekosongan psikologis.2
Hingga saat ini, tata laksana utama CSBD tetap berupa pendekatan multidisiplin melalui psikoterapi, psikoedukasi, dan terapi terhadap komorbid yang mendasari. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menjadi salah satu modalitas yang paling banyak direkomendasikan karena membantu pasien mengenali pola perilaku maladaptif, meningkatkan kontrol impuls, dan memperbaiki mekanisme coping.8 Pada beberapa kasus tertentu, farmakoterapi seperti SSRIs atau naltrexone juga dapat dipertimbangkan secara individual.9
Akupunktur mulai dipertimbangkan sebagai terapi yang potensial dengan tujuan terapi bukan untuk “menghilangkan libido”, melainkan sebagai terapi neuromodulator yang bertujuan untuk membantu menurunkan hiper-arousal, stres, kecemasan, impulsivitas, dan gangguan tidur yang mendasari perilaku seksual kompulsif.10
Berbagai studi neuroimaging menunjukkan bahwa stimulasi akupunktur dapat memengaruhi aktivitas limbic-paralimbic network, termasuk amigdala, hippocampus, hipotalamus, dan korteks prefrontal.11 Area-area tersebut berperan penting dalam regulasi emosi, respons stres, dan kontrol impuls. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa akupunktur mampu memodulasi konektivitas reward circuitry otak, terutama pada jalur striatum dan korteks frontal.12 Selain itu, efek anxiolytic dan sleep-modulating dari akupunktur dinilai dapat membantu pasien yang mengalami kecemasan, overthinking, dan insomnia yang sering memperberat impuls seksual.13
Dalam praktik klinis, pendekatan akupunktur umumnya diarahkan pada regulasi sistem saraf otonom, stabilisasi emosi, dan perbaikan kualitas tidur. Titik seperti GV20, HT7, PC6, LR3, dan SP6 sering digunakan untuk membantu menurunkan keinginan seksual yang berlebihan dan meningkatkan relaksasi.14 Meski demikian, bukti klinis spesifik mengenai efektivitas akupunktur pada CSBD masih terbatas dan memerlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih kuat.9,10
Sebagai kesimpulan, hiperseksualitas patologis bukan sekadar persoalan moral atau “nafsu berlebihan”, melainkan gangguan kompleks yang melibatkan interaksi biologis, psikologis, dan sosial. Pendekatan terapi yang holistik dan kolaborasi dengan dokter kesehatan jiwa menjadi sangat penting. Dalam hal ini, akupunktur berpotensi menjadi terapi pendamping yang rasional melalui efek neuromodulasi terhadap stres, sistem limbik, reward circuitry, dan kontrol impuls, sehingga membantu pasien memperoleh kembali kontrol diri dan kualitas hidup yang lebih baik.10,11,12
Referensi:
1. Briken P, Bőthe B, Carvalho J, Coleman E, Giraldi A, Kraus SW, et al. Assessment and treatment of compulsive sexual behavior disorder: a sexual medicine perspective. Sex Med Rev. 2024;12(3):355–70.
2. Campbell MM, Stein DJ. Hypersexual disorder in general practice. S Afr Med J. 2014;104(6):448.
3. Peng Z, Jia Q, Mao J, Luo X, Huang A, Zheng H, et al. Neurotransmitters crosstalk and regulation in the reward circuit of subjects with behavioral addiction. Front Psychiatry. 2025;15:1439727.
4. Puszcz A, Górski J, Pierudzka W. Neurobiological pathways linking compulsive sexual behavior disorder and psychiatric comorbidities: a narrative review. Cureus. 2025;17:e91966.
5. Kopeykina I, Kim HJ, Khatun T, Boland J, Haeri S, Cohen LJ, et al. Hypersexuality and couple relationships in bipolar disorder: a review. J Affect Disord. 2016;195:1–14.
6. Antons S, Engel J, Briken P, Krüger THC, Brand M, Stark R. Treatments and interventions for compulsive sexual behavior disorder with a focus on problematic pornography use: a preregistered systematic review. J Behav Addict. 2022;11(3):643–66.
7. Zhu L, Ma W, Zhang R, Wang C, Song B, Cao Y, et al. Evaluation and treatment of compulsive sexual behavior: current limitations and potential strategies. Front Psychiatry. 2025;16:1621136.
8. Firoozikhojastehfar R, Asgari K, Kalantari M, Raisi F, Shahvari Z, Dadras I, et al. A pilot randomized control of the efficacy of cognitive-behavioral therapy on depression and hypersexual behaviors in compulsive sexual behavior disorder. Sex Health Compulsivity. 2021;28:189–99.
9. Turner D, Briken P, Grubbs JB, Malandain L, Mestre-Bach G, Potenza MN, et al. The World Federation of Societies of Biological Psychiatry guidelines on the assessment and pharmacological treatment of compulsive sexual behaviour disorder. Dialogues Clin Neurosci. 2022;24(1):10–69.
10. Wang X, Wang J, Han R, Yu C, Shen F. Neural circuit mechanisms of acupuncture effect: where are we now? Front Neurol. 2024;15:1399925.
11. Hui KKS, Marina O, Liu J, Rosen BR, Kwong KK. Acupuncture, the limbic system, and the anticorrelated networks of the brain. Auton Neurosci. 2010;157(1-2):81–90.12. Wang Z, Wang X, Liu J, Chen J, Liu X, Nie G, et al. Acupuncture treatment modulates the corticostriatal reward circuitry in major depressive disorder. J Psychiatr Res. 2017;84:18–26.
13. Almeida MS, Cavalca AB. Acupuncture and anxiety: possible neural mechanisms. Res Soc Dev. 2022;11(6):e2930911.
14. Wu X, Tu M, Yu Z, Cao Z, Qu S, Chen N, et al. The efficacy and cerebral mechanism of intradermal acupuncture for major depressive disorder: a multicenter randomized controlled trial. Neuropsychopharmacology. 2024;50:1075–83.