Artikel Kesehatan

Konstipasi

Konstipasi adalah keadaan kelainan gastrointestinal, gejalanya termasuk penurunan motilitas usus, konsolidasi tinja yang menyebabkan pengerasan, butuh mengejan kuat untuk buang air besar oleh karena feses yang sulit keluar dengan atau tanpa nyeri, kembung, penurunan keinginan untuk buang air besar, dan ketidaknyamanan di perut. Pada keadaan tertentu bahkan mungkin memerlukan pembedahan. Aspek yang paling penting untuk diketahui dari keseluruhan itu adalah konsistensi tinja, frekuensi defekasi, dan temuan pada fisik.1–4

Konstipasi merupakan kondisi yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan berhubungan erat dengan kualitas hidup pasien.1,2 Prevalensi kasus konstipasi di seluruh dunia berkisar 1-80%(median 16%), meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dengan prevalensi terbesar (33,5%) berada pada rentang usia 60-101 tahun. Data memperlihatkan bahwa berdasarkan gender, proporsi pada perempuan dikatakan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki1,3 Di Asia khususnya daerah Asia Tenggara, data prevalensi menunjukkan kisaran yang lebih rendah dibandingkan dengan di dunia yaitu hanya 1,4-32,9%.5 Sejalan dengan data di Indonesia dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), evaluasi selama 7 tahun dari sekitar 2.397 tindakan kolonoskopi, ditemukan gambaran sebanyak 9% di antaranya terindikasi konstipasi dan didominasi oleh jenis kelamin perempuan.6

Manajemen talaksana yang efektif dan efisien untuk kasus-kasus konstipasi menjadi krusial dalam era jaminan kesehatan nasional(JKN) saat ini. Hal tersebut berkenaan dengan beban pembiayaan keuangan yang besar bagi pasien dan tentunya negara.7 Riset khusus yang dilakukan pada tahun 2019 berkenaan dengan pembiayaan terkait dengan konstipasi khususnya dari sisi terapi memperlihatkan data yang mencengangkan bahwa rata-rata sekitar 62.500 euro dihabiskan setiap tahunnya untuk tatalaksana konstipasi.8 Secara klinis bahwa penyebab konstipasi banyak sekali, sehingga pendekatan diagnosis yang baik dan tajam penting untuk evaluasi dan tatalaksana konstipasi.1–3,7

Secara klinis klasifikasi yang umum digunakan adalah konsensus dari International Clinical Criteria ROME III, dan ROME IV, khususnya di Indonesia selain menggunakan 2 kriteria diatas juga mengadopsi konsensus yang dikeluarkan oleh Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia(PGI). Meskipun demikian saat ini ROME III masih dipakai sebagai pedoman di banyak negara, dan memiliki tingkat level of evidence yang masih reliabel untuk diaplikasikan di lingkungan praktek klinis sehari-hari.6,9–11

Berdasarkan kausa penyebabnya konstipasi dapat dibagi menjadi konstipasi primer dan sekunder. Konstipasi primer meliputi idiopatik(yang paling sering dijumpai), disfungsi kolorektal primer, slow transit, dysenergyc defecation, IBS beserta variasinya, imobilitas, overuse of laxative, diet rendah serat, gaya hidup sedentari, suka menahan-nahan BAB, kurang asupan cairan, kurang olahraga, stress, dan kehamilan. Konstipasi sekunder meliputi kelainan endokrin atau penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan penyakit tiroid, neurologis, gangguan miogenik, obat-obatan, obstruksi, penyakit kolon, dan faktor multipel (lingkungan, biologis, presipitasi farmakologis).1,9–12 Konstipasi berhubungan diet dan kebiasaan yang tidak baik. Adanya kelainan struktural, penyakit sistemik seperti penyakit diabetes mellitus, penyakit gangguan hormon tiroid, miopati, parkinson, depresi, dan penyakit endokrin dapat menjadi faktor penyebab konstipasi. Obat- obatan seperti analgesik, opioid, diuretik, anti kejang, antispasmodik, antipsikotik, antasida, antidepresi antikolinergik, psikotropik dapat menyebabkan konstipasi.1

Akupunktur telah lama digunakan sebagai salah satu modalitas terapi untuk mengatasi konstipasi. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, akupunktur terbukti efektif dalam memperbaiki gejala konstipasi. Akupunktur memiliki efek samping yang minimal, tidak membutuhkan biaya yang besar, serta efektivitasnya setara dengan obat-obatan laksatif dan prokinetik. Oleh sebab itu, akupunktur sebagai modalitas terapi yang aman dengan efek samping minimal dapat dipertimbangkan sebagai suatu pilihan modalitas terapi dalam penatalaksanaan konstipasi.13

DAFTAR PUSTAKA 1. Wald A. Constipation: advances in diagnosis and treatment. Jama. 2016;315(2):185-91.

2. Gallegos-Orozco JF, Foxx-Orenstein AE, Sterler SM, Stoa JM. Chronic constipation in the elderly. The American journal of gastroenterology. 2012;107(1):18.

3. Costilla VC, Foxx-Orenstein AE. Constipation in adults: diagnosis and management. Current treatment options in gastroenterology. 2014;12(3):310-21.

4. Indonesia PG. Konsensus nasional penatalaksanaan konstipasi di Indonesia. Jakarta: Interna Publ. 2010.

5. Sonnenberg A, Koch TR. Physician visits in the United States for constipation: 1958 to 1986. Digestive diseases and sciences. 1989;34(4):606-11.

6. Rantis PC, Vernava AM, Danie GL, Longo WE. Chronic constipation—is the work-up worth the cost? Diseases of the colon & rectum. 1997;40(3):280-6.

7. Paquette IM, Varma M, Ternent C, Melton-Meaux G, Rafferty JF, Feingold D, et al. The American Society of Colon and Rectal Surgeons’ clinical practice guideline for the evaluation and management of constipation. Diseases of the Colon & Rectum. 2016;59(6):479-92.

8. Pramono LA, Fauzi A, Syam AF, Makmun D. Paradigm on chronic constipation: pathophysiology, diagnostic, and recent therapy. Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy. 2012;13(3):174-80.

9. Ghoshal UC. Chronic constipation in Rome IV era: the Indian perspective. Indian Journal of Gastroenterology.2017;36(3):163-73.

10. Bosshard W, Dreher R, Schnegg J-F, Büla CJ. The treatment of chronic constipation in elderly people. Drugs & aging.2004;21(14):911-30.

11. Lembo A, Camilleri M. Chronic constipation. New England Journal of Medicine. 2003;349(14):1360-8.

12. Kasper D, Fauci A, Hauser S, Longo D, Jameson J, Loscalzo J. Harrison’s principles of internal medicine: McGraw-Hill Professional Publishing; 2015.

13. Zhou S-L, Zhang X-L, Wang J-H. Comparison of electroacupuncture and medical treatment for functional constipation: a systematic review and meta-analysis. Acupuncture in Medicine. 2017;35(5):324-31.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events