Paradigma Akupresur pada Perawatan Paliatif Anak

Dalam Rangka memperingati Hari Kanker Anak Sedunia yang jatuh pada tanggal 15 Februari 2022 mendatang, Program Studi Dokter Spesialis Akupunktur Medik , Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mempersembahkan sebuah media pembelajaran berjudul “Paradigma Akupresur pada Perawatan Paliatif Anak”

Kanker merupakan suatu penyakit tidak menular ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh secara cepat, tidak terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita. Berdasarkan data statistik global, terdapat kurang lebih 400.000 kasus kanker pada anak, dengan prevalensi tertinggi adalah Leukemia, Tumor Otak, dan juga Limfoma.

Di Indonesia sendiri berdasarkan SriKanDI (Sistem Registrasi Kanker di Indonesia) mencatat pada tahun 2005-2007 prevalensi kanker pada anak usia 0-5 tahun sebanyak 18 dari 100.000 anak dan pada umur 5-14 tahun 10 dari 100.000 anak.

Jenis kanker yang paling banyak terdapat pada anak adalah kanker darah di ikuti dengan kanker mata (retinoblastoma).

Adapun beberapa keluhan yang menyertai, antara lain : nyeri, mual muntah, perdarahan, penurunan berat badan, konstipasi, kejang dan lain lain.

Menurut WHO perawatan paliatif merupakan pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam menghadapi masalah kesehatan yang dialami baik oleh pasien sendiri maupun keluarga pasien. Perawatan Paliatif diharapkan bertujuan mengurangi dampak lain yang dapat timbul akibat penyakit yang diderita pasien.

Perawatan paliatif untuk kanker pada anak terbagi menjadi 2 jenis yaitu medikamentosa dan non-medikamentosa. Untuk tatalaksana non-medikamentosa Akupresur dapat berperan dalam membantu menangani keluhan pada pasien anak dengan kanker.

Akupresur merupakan sebuah bentuk terapi asuhan mandiri yang telah terbukti secara klinis dengan didukung oleh penelitian-penelitian yang dapat menjelaskan mekanisme kerja biokimiawi dari terapi akupresur.

Akupresur hadir pada saat era pandemi Covid-19 sebagai salah satu bentuk asuhan terapi mandiri yang dapat dipraktikan secara mandiri sesuai dengan kaidah protokol kesehatan.

Akupresur tidak memerlukan jarum dan bersifat non invasive.
Stimulasi lokal yang dihasilkan oleh akupresur mengaktivasi saraf-saraf yang ada di otot dan pada akhirnya melakukan stimulasi kepada pusat saraf seperti di sumsum tulang belakang, otak tengah, hipotalamus dan aksis pituitari. Stimulasi tersebut pada akhirnya akan menghasilkan kortisol yang dapat menyebabkan suatu respons relaksasi serta meningkatkan respons fisiologis yang dapat meningkatkan endorfin dan juga serotonin .

Titik Akupunktur tersebar secara luas baik itu di tubuh ataupun di mikro sistem seperti pada daun telinga dan kulit kepala.

Akupresur dapat dilakukan dengan Teknik penekanan, perkusi, nailing, pinching and nailing, serta kneading and rubbing.

Tidak perlu terlalu kuat dalam melakukan akupresur, cukup hingga 1/3 ujung kuku memutih.

Akupresur untuk usia anak yang kurang dari 7 tahun dapat dilakukan oleh orang tua ataupun pengasuh, untuk yang usia lebih dari 7 tahun dapat dilatih untuk melakukan akupresur secara mandiri.

Lokasi akupresur yang pertama untuk nyeri yaitu LI 4 terletak di tangan pada bagian tengah dari tulang metakarpal ke dua.

Lokasi akupresur untuk nyeri yang kedua yaitu LR3 terdapat pada punggung kaki di batas pertemuan antara tulang metatarsal 1 dan juga 2.

Lokasi akupresur untuk nyeri yang ketiga yaitu GB20 terdapat pada belakang kepala, di cekungan batas bawah dari tulang occipital

Lokasi terakhir yang dapat digunakan untuk keluhan mual-muntah adalah PC6 . Titik ini terletak 3 jari di atas pertengahan pergelangan tangan bagian dalam.

Semoga bermanfaat. Salam sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Upcoming Events