dr. Firmanduta Ananta M.W., dr. Susi Andriani, Sp. Ak., Subsp. Ak-AA(K)

Kompas Health
Ejakulasi dini (ED) merupakan disfungsi seksual pria yang paling umum terjadi, meskipun belum ada konsensus medis tunggal mengenai definisinya.1 Secara klinis, ED dikategorikan menjadi dua jenis: ED primer (seumur hidup), di mana ejakulasi terjadi dalam waktu kurang dari satu menit sejak penetrasi pertama kali, dan ED sekunder (didapat), di mana terjadi penurunan waktu latensi yang signifikan menjadi kurang dari tiga menit pada pria yang sebelumnya memiliki fungsi normal.2
Ejakulasi dini memiliki prevalensi yang tinggi secara global, dengan perkiraan sekitar 20% hingga 30% pria dewasa di seluruh dunia menderita kondisi ini.1 Beberapa studi menunjukkan angka prevalensi antara 14% hingga 30%. Prevalensi ED cenderung stabil dan tidak terlalu dipengaruhi oleh faktor usia.3 Namun, beberapa penelitian mengindikasikan bahwa kondisi ini lebih umum ditemukan pada pria dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah serta latar belakang etnis tertentu. Selain itu, ED sering kali muncul bersamaan dengan disfungsi ereksi.4
Mekanisme terjadinya ED sangat kompleks dan melibatkan berbagai faktor fisiologis serta psikologis.1 Secara neurobiologis, neurotransmiter serotonin (5-HT) memegang peran sentral dalam pengaturan proses ejakulasi di sistem saraf pusat.2 Gangguan pada sistem serotonergik, seperti ambilan serotonin yang terlalu cepat, menyebabkan penurunan konsentrasi 5-HT di celah sinaptik yang berujung pada waktu latensi ejakulasi yang lebih pendek.3 Selain itu, hipersensitivitas kepala penis, variasi genetik, gangguan fungsi tiroid, serta peradangan seperti prostatitis kronis juga diidentifikasi sebagai faktor kontribusi. Faktor psikologis seperti kecemasan performa seksual, stres, dan depresi turut memperburuk kondisi ini.5
Terapi untuk ED melibatkan pendekatan farmakologis dan non-farmakologis.6 Farmakoterapi yang seringkali digunakan adalah obat golongan Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) seperti paroxetine dan dapoxetine merupakan pilihan utama. Dapoxetine adalah satu-satunya obat yang secara resmi disetujui untuk indikasi ED.6 Selain itu, anestesi topikal (krim lidocaine/prilocaine) digunakan untuk mengurangi sensitivitas penis. Sedangkan non-farmakoterapi yang digunakan adalah latihan stop-start atau teknik squeeze sering diterapkan untuk meningkatkan kontrol ejakulasi. Terapi perilaku kognitif (CBT) juga digunakan untuk mengatasi hambatan psikologis.7
Meskipun efektif, terapi farmakalogis ini memiliki beberapa keterbatasan. Penggunaan SSRI jangka panjang sering menimbulkan efek samping seperti mual, muntah, pusing, mulut kering, hingga insomnia.2 Ada pula risiko Post-SSRI Sexual Dysfunction (PSSD) di mana pasien terus mengalami gangguan seksual bahkan setelah pengobatan dihentikan.1 Anestesi lokal dapat menyebabkan mati rasa pada organ intim pasangan (vagina) dan mengurangi kepuasan seksual bagi pria tersebut.5
Akupunktur telah mulai diakui secara internasional sebagai terapi yang layak untuk berbagai gangguan urologi dan disfungsi seksual pria.1 Keunggulan akupunktur terletak pada durasi pengobatan yang relatif lebih singkat dibandingkan psikoterapi dan efek samping yang jauh lebih minimal dibandingkan obat-obatan oral.1 Penelitian menunjukkan bahwa sesi akupunktur yang berkelanjutan berpotensi membantu memperpanjang waktu latensi ejakulasi (IELT) dan meningkatkan kepuasan seksual pasangan. Meskipun demikian, durasi pencapaian hasil klinis dapat bervariasi pada setiap individu.2
Akupunktur bekerja melalui beberapa jalur neurobiologis yang diduga kuat memengaruhi kontrol ejakulasi. Akupunktur dapat mengatur kadar serotonin (5-HT) di hipotalamus dan sumsum tulang belakang.1 Secara spesifik, stimulasi pada titik tertentu meningkatkan ekspresi reseptor 5-HT1B (yang menunda ejakulasi) dan menurunkan eksitabilitas reseptor 5-HT1A (yang mempercepat ejakulasi).1 Stimulasi akupunktur memicu impuls saraf yang mengaktifkan area fungsional di lobus frontal kiri otak, yang bertanggung jawab atas kontrol ejakulasi, sehingga meningkatkan kemampuan sadar pasien untuk menunda ejakulasi.1 Beberapa studi mencatat adanya perubahan kadar testosteron serum setelah terapi akupunktur, yang berkontribusi pada perbaikan gejala ED.1
Akupunktur umumnya dianggap aman dan memiliki toleransi yang baik oleh pasien ED. Efek samping yang dilaporkan dalam berbagai uji klinis bersifat ringan dan sementara, seperti pusing, kelelahan, rasa tidak nyaman di perut, atau hematoma subkutan (memar kecil) di lokasi penusukan.1 Reaksi-reaksi ini biasanya hilang dengan sendirinya setelah perawatan selesai.4 Dibandingkan dengan penggunaan SSRI yang berisiko menimbulkan disfungsi seksual jangka panjang, akupunktur menawarkan profil keamanan yang lebih dapat ditoleransi oleh pasien dengan risiko efek samping sistemik yang minimal.1 Akupunktur merupakan modalitas terapi yang menjanjikan dan aman sebagai pilihan untuk membantu mengatasi ejakulasi dini.4
Daftar Pustaka
1. Wang A, Wang H, Ma D, Chang H, Zhao Z, Luo D, et al. The role of acupuncture in treating premature ejaculation and its probable neurobiological mechanism. Basic Clin Androl. 2024;34(1):20.
2. Zhao Q, Dai H, Gong X, Wang L, Cao M, Li H, et al. Acupuncture for premature ejaculation: Protocol for a systematic review. Medicine (Baltimore). 2018;97(35):e11980.
3. Dai H, Li H, Wang J, Bao B, Yan Y, Wang B, et al. Effectiveness comparisons of acupuncture for premature ejaculation: Protocol for a network meta-analysis. Medicine (Baltimore). 2019;98(5):e14147.
4. Zhang H, Colonnello E, Sansone A, Wang F, Guo J, Wang C, et al. Acupuncture for premature ejaculation: a systematic review and meta-analysis. Sex Med. 2023;11(3):qfad034.
5. Raveendran AV, Agarwal A. Premature ejaculation - current concepts in the management: A narrative review. Int J Reprod Biomed. 2021;19(1):5-22.
6. Huyghe E, d'Hautefeuille J, Verhoest G, Marcelli F, Lannes F, Methorst C, et al. French urological association guidelines on premature ejaculation. French Journal of Urology. 2024;34:102697.
7. Ma D, Wang H, Colonnello E, Sansone A, Wang C, Zhang H, et al. Trends in Premature Ejaculation Research From 2004 to 2023: A Bibliometric Analysis. Andrologia. 2025;2025:9984316.