
dr. Shinta Eka Kusuma Dewi, dr. Ahmad Aulia Jusuf, AHK., PhD
Pernahkah Anda merasakan leher terasa pegal, kaku, atau tidak nyaman terutama setelah duduk lama di kantor atau menatap ponsel terlalu lama? Bisa jadi Anda mengalami apa yang dalam dunia medis disebut cervical syndrome atau sindrom servikal. Secara sederhana, cervical syndrome adalah kumpulan keluhan nyeri dan rasa tidak nyaman di daerah leheryang disebabkan oleh gangguan pada otot, sendi, atau bantalan tulang belakang bagian leher. Pada sindrom servikal, keluhan bisa berlangsung lama dan sering kambuh, terutama jika kebiasaan buruk tidak segera diperbaiki. Cervical syndrome bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan istilah untuk berbagai gangguan di leher yang tidak sampai menekan saraf secara serius. Jika nyerinya menjalar hingga ke lengan, jari, atau disertai kesemutan dan kelemahan, maka itu sudah masuk ke tahap yang lebih berat yang disebut sindrom akar servikal.
Penyebab cervical syndrome sangat beragam, namun yang paling umum adalah kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari membebani leher. Pekerja kantoran yang berjam-jam menatap komputer dengan posisi kepala agak menunduk, pengguna ponsel yang sering mengalami text neck (leher menunduk ke bawah saat melihat layar), serta mereka yang memiliki hobi dengan gerakan leher repetitif seperti bermain golf atau tenis, sangat rentan mengalami kondisi ini.
Selain itu, proses penuaan juga berperan besar. Seiring bertambahnya usia, bantalan tulang belakang leher akan menyusut dan sendi-sendi kecil di leher mengalami keausan. Inilah mengapa cervical syndrome paling sering ditemukan pada usia 40 hingga 60 tahun. Pekerjaan yang menuntut posisi statis seperti sopir, dokter gigi, perajin, atau penjahit juga berisiko tinggi. Menariknya, wanita lebih sering terkena dibanding pria, dan kebiasaan merokok ternyata memperburuk kondisi ini karena merokok mengganggu aliran darah ke bantalan tulang belakang.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah stres. Saat stres, secara tidak sadar bahu dan leher kita akan menegang. Jika dibiarkan berbulan-bulan, ketegangan ini berubah menjadi nyeri kronis. Postur tidur yang salah, seperti menggunakan bantal terlalu tinggi atau terlalu rendah, juga bisa menjadi pemicu.
Untuk mendiagnosis keluhan ini terdapat pemeriksaan sederhana bernama tes Spurling mungkin dilakukan, yaitu dokter menekan kepala Anda dari atas sambil memiringkan leher ke satu sisi. Jika nyeri justru menjalar ke lengan kemungkinan tanda adanya saraf terjepit. Jika hanya nyeri di leher, kemungkinan besar masih cervical syndrome biasa. Untuk pemeriksaan penunjang juga tetap bisa dikerjakan namun tidak semua pasien perlu menjalani pencitraan. Dokter biasanya akan merekomendasikan foto rontgen (X-ray) jika dicurigai adanya perubahan tulang akibat penuaan atau cedera lama. Pemeriksaan yang lebih canggih seperti MRI atau CT scan hanya dilakukan jika ada gejala yang mengkhawatirkan seperti nyeri hebat menjalar, kelemahan otot, atau jika terapi awal tidak membuahkan hasil setelah beberapa minggu. Pemeriksaan saraf dengan alat EMG (elektromiografi) cukup jarang dilakukan sebagai tes rutin pada cervical syndrome biasa. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter pemeriksa akan memberikan penjelasan yang tepat terhadap diagnosis yang dialami pasien. Jika dibiarkan, keluhan ini bisa mengganggu tidur, konsentrasi, bahkan produktivitas kerja.Akupunktur medik hadir sebagai salah satu pilihan terapi yang direkomendasikan. Apa sebenarnya peran akupunktur? Akupunktur bekerja dengan menusukkan jarum tipis sterilpada titik-titik tertentu di tubuh. Tindakan ini merangsang tubuh untuk melepaskan zat-zat kimia alami pereda nyeri seperti endorfin dan enkefalin. Selain itu, akupunktur juga mampu menurunkan peradangan di otot dan sendi leher, mengendurkan otot-otot yang kejang, serta melancarkan aliran darah ke daerah yang sakit.
Akupunktur tidak hanya mematikan sinyal nyeri seperti obat, tetapi memperbaiki sirkulasi, mengurangi peradangan, dan merelaksasi otot secara langsung. Akupunktur tidak perlu menggantikan terapi konvensional, tetapi bisa berjalan bersamaan. Pasien tetap bisa minum obat jika diperlukan, melakukan latihan peregangan, atau menggunakan kompres hangat. Akupunktur justru mempercepat proses penyembuhan. Akupunktur menawarkan solusi yang aman, efektif, dan minim efek samping. Kelebihannya dibandingkan obat-obatan atau fisioterapi konvensional antara lain: tanpa efek samping sistemik, bekerja pada akar masalah, efektif untuk nyeri kronis, dan dapat dipersonalisasi sesuai keluhan pasien.
Referensi