Peran Akupunktur terhadap Haemorrhoid

Haemorrhoid, atau sering juga disebut wasir atau ambeien, merupakan salah satu kelainan anorektal yang paling umum terjadi pada saluran pencernaan. Kelainan terjadi akibat peradangan dan pelebaran pembuluh darah pada pleksus vena haemorrhoid dan kelemahan jaringan ikat pendukung di bantalan anus.1

Pada tahun 1990, di Amerika Serikat, 4.4% dari populasi umum menderita haemorrhoid dengan puncak kejadian pada usia 45-65 tahun, dan jarang ditemukan pada usia dibawah 20 tahun. Di Inggris, insidennya sekita 8-34 per seribu per tahun.1 Prevalensi haemorrhoid di Indonesia berdasarkan data kementerian Kesehatan tahun 2008 yang diperoleh dari rumah sakit di 33 provinsi terdapat 355 rata-rata kasus haemorrhoid.2 Sebanyak 60% pasien haemorrhoid adalah laki-laki, dan pada ras kaukasian 1.5 kali lebih banyak terjadi dibandingkan ras afrika-amerika.3

Gejala utama yang umumnya terjadi adalah nyeri, perdarahan, adanya prolapse, bengkak, gatal pada anus. Terkadang disertai dengan kotoran yang berlendir. Gejala tergantung pada kondisi tertentu seperti ukuran dan jenis haemorrhoid. Prolaps (benjolan) haemorrhoid paling sering terjadi saat buang air besar, mengangkat benda berat, jongkok ataupun membungkuk.3

Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya haemorrhoid seperti orang yang sering konstipasi, memiliki kebiasaan mengejan, duduk lama di toilet saat buang air besar, kebiasaan mengangkat berat atau pekerjaan dengan posisi duduk untuk waktu yang lama. Tidak ada bukti klinis yang jelas mengenai keterkaitannya dengan genetik (keturunan).3

Beberapa penyebab haemorrhoid dihubungkan dengan obstruksi aliran balik vena, pelebaran vena pada dinding pleksus vena anal sehingga menimbulkan tonjolan, kelemahan jaringan pendukung yang mencakup kerusakan jaringan ikat pendukung, jaringan ikat elastis dan serat otot polos (submukosa), serta akibat penuaan.3

Diet dan modifikasi gaya hidup merupakan penanganan yang dapat dilakukan pada haemorrhoid ringan. Obat-obatan farmakologis, baik topikal maupun oral, umumnya digunakan untuk mengontrol gejala yang timbul, bukan untuk menyembuhkan penyakitnya.1 Terapi pembedahan dilakukan untuk haemorhoid berat. Namun, pada tindakan pembedahan masih terdapat risiko kekambuhan, serta adanya kemungkinan terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan.3Selain itu, timbulnya nyeri setelah tindakan operasi dapat menganggu aktivitas sehari-hari. Sedangkan obat yang digunakan untuk meredakan nyeri seringkali memberikan efek samping yang tidak diingkan seperti pusing, mual, muntah, konstipasi, dan ketergantungan.4

Akupunktur merupakan salah satu terapi non-farmakologis yang telah terbukti efektif serta menjadi salah satu terapi yang direkomendasikan oleh WHO (World Health Organization) untuk meredakan banyak gejala yang terjadi baik pada haemorhoid itu sendiri maupun nyeri pasca operasi dengan efek samping yang minimal.4,5 Dari beberapa penelitian, akupunktur berperan dalam menghambat nyeri melalui mekanisme rangsangan neurotransmiter otak, hantaran saraf baik secara lokal, segmental dan sentral, serta mengurangi peradangan.6,7,8,9 Selain itu juga , akupunktur dapat meregulasi rangsangan saraf otonom terutama saraf simpatis sehingga dapat memperbaiki pembuluh darah vena yang melebar.10Terapi akupunktur dapat dimulai pada haemorrhoid derajat ringan. Sedangkan pada hemorrhoid derajat berat terutama saat pasca tindakan pembedahan. Terapi dilakukan sebanyak 2-3x seminggu selama 1 seri (12x terapi).6,9 Dengan demikian, akupunktur dapat digunakan sebagai salah satu terapi pilihan dalam menangani haemorrhoid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lohsiriwat V. Hemorrhoidal Disease. Elsevier Inc.; 2019. doi:10.1016/B978-0-12-815346-8.00005-9

2. Waode Azfari Azis, Laode Yusman Muriman SRB. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. J Penelit Perawat Prof. 2019;1(November):89-94. http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/83/65

3. Yamana T. Japanese Practice Guidelines for Anal Disorders I. Hemorrhoids. J Anus, Rectum Colon. 2017;1(3):89-99. doi:10.23922/jarc.2017-018

4. Wu J, Chen B, Yin X, Yin P, Lao L, Xu S. Effect of acupuncture on post-hemorrhoidectomy pain: A randomized controlled trial. J Pain Res. 2018;11:1489-1496. doi:10.2147/JPR.S166953

5. World Health Organization. Diseases and disorders that can be treated with acupuncture. Br Acupunct Counc. 2003;(2002):23-27.

6. LI X, BU H, MA Y, LÜ H. Acupuncture at Kŏngzuì (孔最LU 6) for 76 cases of hemorrhoids. World J Acupunct – Moxibustion. 2018;28(1):68-69. doi:10.1016/j.wjam.2018.03.001

7. Lund I, Lundeberg T. Mechanisms of acupuncture. Acupunct Relat Ther. 2016;4(4):26-30. doi:10.1016/j.arthe.2016.12.001

8. Cabýoglu MT, Ergene N, Tan U. The mechanism of acupuncture and clinical applications. Int J Neurosci. 2006;116(2):115-125. doi:10.1080/00207450500341472

9. HealthCMi. Acupuncture Reduces Hemorrhoid Surgery Discomfort And Complications. 2018;1(June):3-7.

10. Kim SY, Min S, Lee H, et al. Changes of Local Blood Flow in Response to Acupuncture Stimulation: A Systematic Review. Evidence-based Complement Altern Med. 2016;2016. doi:10.1155/2016/9874207

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Upcoming Events