Peran akupunktur untuk adiksi rokok

Penggunaan tembakau adalah penyebab global yang utama dari kematian yang dapat dicegah. World Health Organization (WHO) menghubungkan hampir 6 juta kematian per tahun disebabkan tembakau. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 8 juta kematian di tahun 2030. Merokok merupakan bentuk utama penggunaan tembakau. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2011 Indonesia memiliki jumlah perokok aktif tertinggi jika dibandingkan negara negara lain yang melakukan GATS (16 negara dengan pendapatan penduduk rendah dan menengah), yaitu 67,0% perokok laki-laki dan 2,7% wanita. Sekitar 800 pabrik rokok berada di tiga provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat yang merupakan daerah penghasil tembakau terbesar nasional. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi merokok untuk semua kelompok umur mengalami lonjakan. Jumlah konsumsi terendah berada pada kelompok umur 15-24 tahun kemudian meningkat hingga mencapai puncak di usia antara 35-54 tahun dan kembali menurun di usia 55 tahun ke atas.1,2

Adiksi nikotin merupakan salah satu kendala dalam berhenti merokok. Adiksi nikotin sangat kuat hingga dapat membuat pasien kembali merokok meskipun telah mengalami berbagai penyakit. Nikotin dapat meningkatkan dopamin (Hormon didalam tubuh yang berkaitan dengan rasa bahagia dan kesenangan diri) yang dapat membuat seseorang merasa tenang, mood yang baik dan perasaan senang. Pada pasien yang berhenti konsumsi rokok akan akan terjadi penurunan jumlah nikotin sehingga mendapatkan efek samping yang berlawanan dengan yang dia dapatkan apabila merokok seperti menjadi mudah lemas, mood berkurang, sulit berkonsentrasi, mood mudah berubah, cemas, mudah tersinggung.1,3

Akupunktur merupakan salah satu pilihan terapi karena metode pengobatannya sederhana dan mempunyai efek samping yang minimal jika dilakukan oleh dokter spesialis akupunktur yang kompeten. Akupunktur dapat menstimulasi hipotalamus sehingga terjadi peningkatan hormon-hormon seperti dopamin dan serotonin yang sebelumnya hormon tersebut meningkat karena pengaruh nikotin pada perokok. Mekanisme ini menjelaskan mengenai penurunan craving terhadap rokok dan mendukung pasien untuk kesembuhannya.4,5

Penelitian-penelitian dari seluruh dunia telah menunjukkan bahwa terapi akupunktur merupakan metode pengobatan yang sangat efektif dan aman untuk adiksi rokok. Penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengenai efek terapi akupunktur untuk adiksi rokok menggunakan metode terapi akupunktur press needle pada telinga, metode ini aman dan nyaman untuk pasien dan terapi ini dilakukan rutin 2 kali per minggu selama 10 kali. Hasilnya sangat baik, terdapat perbaikan tingkat kecemasan, perbaikan mood dan juga rasa craving terhadap rokok sangat berkurang sehingga terdapat penurunan jumlah konsumsi batang rokok pada pasien sebanyak 63%-100% dari jumlah batang yang dikonsumsi sebelum diterapi akupunktur.6 Terapi akupunktur untuk penanganan adiksi rokok yang didukung dengan terapi kognitif perilaku lebih membantu memotivasi perokok untuk berhenti merokok, terutama saat kondisi withdrawal atau yang sering disebut sebagai kondisi ”sakau”.

Daftar Pustaka

1. Nuranjumi N, Sukohar A, Graharti R. Metode Terapi Berhenti Merokok dengan Mukolitik N-Acetylcystein. Jurnal Majority. 2019 Dec 19;8(2):187-92.

2. Pusat Data Informasi Kementrian Kesehatan. Perilaku Merokok Masyarakat Indonesia Berdasarkan RISKESDAS 2007 dan 2013. 1–12 (2013)

3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Berhenti merokok – Pedoman Penatalaksannan untuk Dokter di Indonesia. (2011).

4. Round, R., Litscher, G. & Bahr, F. Auricular Acupuncture with Laser. 2013, (2013).

5. Chen, J. A., Chen, J. A., Lee, S. & Mullin, G. Potential role for acupuncture in the treatment of food addiction and obesity. 52–55 (2018). doi:10.1136/acupmed2017-011366

6. Putri, S.I. Efek Terapi Akupunktur Terhadap Perubahan Klinis Pada Pasien Dengan Adiksi Rokok. Tesis Departemen Medik Akupunktur RS Cipto Mangunkusumo. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events