dr. Steffi Kurniati, dr. Yoshua Viventius, Sp. Ak.

Melasma adalah kondisi hiperpigmentasi kulit yang ditandai dengan adanya bercak-bercak kecokelatan atau cokelat kehitaman yang umumnya muncul di area wajah seperti pipi, dahi, hidung, bibir atas, dan dagu. Melasma sering terjadi secara simetris (sisi kanan-kiri) dan terutama dijumpai pada perempuan dewasa muda hingga paruh baya sebagai respons terhadap perubahan hormonal, faktor genetik, paparan sinar ultraviolet (UV), serta penggunaan obat atau kosmetik tertentu.1,2 Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penampilan, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas hidup. Gejala melasma yang kronis dan sering berulang setelah terapi dihentikan, menjadikannya persoalan tersendiri dalam tatalaksana dermatologi.1
Melasma lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria dengan rasio sekitar 9:1.2 Prevalensi melasma bervariasi secara global tergantung pada jenis kulit, paparan sinar matahari, dan faktor hormonal, tetapi gangguan ini ternyata lebih sering terjadi di negara beriklim tropis dan pada individu dengan tipe kulit lebih gelap dibandingkan dengan kulit terang. Selain itu, respon melasma terhadap terapi konvensional seperti tabir surya dan obat topikal sering kali tidak optimal sehingga memerlukan eksplorasi modalitas terapi tambahan.3 Penatalaksanaan yang komprehensif menjadi penting mengingat terapi untuk melasma sering kali memberikan hasil yang tidak konsisten dan memiliki risiko kekambuhan yang tinggi, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan dalam mencapai hasil yang memuaskan.3,4
Akupunktur merupakan terapi yang melibatkan penusukan jarum-jarum halus pada titik-titik tertentu di tubuh. Dalam konteks dermatologi, akupunktur dapat membantu meningkatkan aliran darah mikro di area kulit wajah dan mengatur respons tubuh terhadap stres oksidatif dan hormon, dua faktor yang berperan dalam proses pigmentasi kulit. Dengan demikian, akupunktur tidak hanya ditujukan untuk meredakan gejala kulit tetapi memperbaiki keseimbangan fisiologis yang mendasarinya.1,5
Berbagai penelitian yang sudah dilakukan melaporkan bahwa terapi akupunktur dapat mengurangi area melasma, mencerahkan warna hiperpigmentasi, dan menurunkan skor keseluruhan jumlah melasma.3,6,7 Titik akupunktur yang sering digunakan untuk tatalaksana melasma meliputi titik SP6, LI4, SP10, ST36, dan LR3.3
Secara keseluruhan, akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping yang aman dan efektif dalam pengelolaan melasma, terutama bila digabungkan dengan strategi perawatan kulit konvensional seperti penggunaan tabir surya, agen depigmentasi topikal, dan pendekatan pencegahan paparan UV, sehingga membantu memperbaiki hasil klinis secara keseluruhan dan kualitas hidup pasien.3
Daftar Pustaka
- Tang, L., Xian, J., Zhang, Y., et al. (2021). Efficacy of acupuncture for melasma: A protocol of systematic review and meta-analysis. Medicine (Baltimore), 100(50):e28298.
- Handel AC, Miot LD, Miot HA. Melasma: a clinical and epidemiological review. An Bras Dermatol. 2014;89(5):771–782.
- Su, J., Quan, T., Liao, T., Luo, Y., Fan, X., Pan, M., & Tang, H. (2025). Effectiveness and safety of acupuncture for melasma: A meta-analysis of randomized controlled trials. Explore (NY). DOI: 10.1016/j.explore.2024.103108.
- Rodrigues M, Pandya AG. Melasma: clinical diagnosis and management options. Australas J Dermatol. 2015;56(3):151–163.
- Chai Q, Fei Y, Cao H, et al. Acupuncture for melasma in women: a systematic review of randomized controlled trials. Acupunct Med. 2015;33(4):254–261.
- Rerksuppaphol L, Charoenpong T, Rerksuppaphol S. Randomized clinical trial of facial acupuncture with or without body acupuncture for treatment of melasma. Complement Ther Clin Pract. 2016;22:1–7.Rerksuppaphol, L., Charoenpong, T., & Rerksuppaphol, S. (2016). Randomized clinical trial of facial acupuncture with or without body acupuncture for treatment of melasma. Complementary Therapies in Clinical Practice, 22:1-7.
- Chai, Q., Fei, Y., Cao, H., et al. (2015). Acupuncture for melasma in women: a systematic review of randomized controlled trials. Acupuncture in Medicine, 33(4):254-261.