Darvan Sebastian, dr. Wahyuningsih Djaali, M.Biomed, Sp.Ak

Demensia merujuk pada penurunan kemampuan mental yang cukup berat, yang mengganggu fungsi sehari-hari seseorang. Penyakit Alzheimer (PA) adalah jenis demensia yang paling umum, menyumbang sekitar dua pertiga dari seluruh kasus pada orang berusia 65 tahun ke atas. Penyakit ini merupakan kondisi yang menyebabkan kerusakan progresif pada otak, dimulai secara perlahan dengan penurunan kemampuan dalam berbagai aspek kognitif dan perilaku. Ini termasuk gangguan pada ingatan, pemahaman, bahasa, perhatian, penalaran, dan pengambilan keputusan. Walaupun PA sendiri tidak langsung menyebabkan kematian, penyakit ini meningkatkan risiko komplikasi lain yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.
PA terjadi akibat proses degenerasi saraf yang perlahan dan progresif akibat kematian sel saraf. Penyebab PA bersifat multifaktorial seperti genetik, usia, penyakit kardiovaskuler, obesitas, dan diabetes. Gejala PA bervariasi tergantung pada tahap penyakitnya. PA dibagi menjadi beberapa tahap berdasarkan tingkat kerusakan kognitif dan disabilitas yang dialami oleh penderita. Tahapan tersebut meliputi tahap preklinis sebelum gejala muncul, gangguan kognitif ringan, dan tahap demensia. Tahap demensia sendiri dibagi lagi menjadi tahap ringan, sedang, dan berat. Gejala terawal dan paling sering adalah kehilangan memori jangka pendek, gejala awal ini diikuti oleh gejala lain seperti gangguan berbahasa dan kemampuan visuospasial, diikuti gejala kejiwaan seperti acuh tak acuh, menarik diri, mudah marah, dan halusinasi, diakhiri dengan gejala akhir yang meliputi gangguan tidur dan tremor.
Saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan PA meskipun terdapat pengobatan yang dapat membantu meredakan dan mengelola beberapa gejalanya antara lain inhibitor kolinesterase seperti donepezil, rivastigmine, dan galantamine. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi kemajuan signifikan dalam pengembangan obat-obatan yang bertujuan untuk memperlambat progresivitas penyakit ini.
Beberapa studi menunjukkan peran akupunktur pada PA dengan cara memodulasi pelepasan zat-zat kimiawi otak seperti asetilkolin, asetilkolin transferase, asetilkolinesterase, dan monoamin serta mengurangi peradangan jaringan otak dan mengurangi radikal bebas
Sebuah telaah sistematis oleh i H et al. menelaah 25 studi yang melakukan terapi akupunktur terhadap pasien dengan PA. Modalitas akupunktur yang digunakan pada 25 studi tersebut antara lain manual akupunktur dan elektroakupunktur dengan frekuensi terapi yang beragam yaitu setiap hari, 2 kali seminggu, dan 3 kali seminggu. Titik akupunktur yang paling sering digunakan adalah ST36, GV24, HT7, KI3, SP6, PC7, LI4, KI4, EX-HN1. Telaah sistematis ini menyimpulkan bahwa kombinasi akupunktur dengan farmakoterapi dapat memperbaiki fungsi kognitif dan menunda onset gejala pada pasien PA.
Daftar Pustaka
- Kumar A, Tsao JW, Sidhu J, Goyal A. Alzheimer Disease [Internet]. National Library of Medicine. StatPearls Publishing; 2024.
- Wu L, Dong Y, Zhu C, Chen Y. Effect and mechanism of acupuncture on Alzheimer’s disease: A review. Frontiers in Aging Neuroscience. 2023 Mar 3
- Li H, Xiang Q, Ren R, Wang G. Acupuncture as a Complementary Therapy for Alzheimer’s Disease. Journal of Alzheimer’s disease : JAD. 2024;101(s1):S503–20.