Peran Akupunktur pada Bell’s palsy dalam Kehamilan

Sumber gambar: www.canva.com

Bell’s palsy yaitu kelumpuhan saraf wajah idiopatik, dan merupakan kelumpuhan saraf wajah perifer paling umum. Bell’s palsy disebabkan akibat lesi inflamasi akut non-spesifik pada saraf kranial yang tidak diketahui penyebab pastinya. Gejala Bell’s palsy berupa kekakuan otot wajah unilateral, mati rasa, kelumpuhan, tidak adanya kerutan dahi, ketidakmampuan untuk menutup mata, lakrimasi, lipatan naso-labial menghilang, sudut mulut terkulai, tidak bisa mengerutkan kening, menutup mata, menyeringai maupun mencucu. Pada tahap awal di beberapa pasien mungkin mengalami nyeri di belakang telinga, pendengaran menjadi terlalu peka, ataupun kehilangan sensasi rasa pada 2/3 bagian depan lidah. Penyakit ini selain mengakibatkan efek fisik, juga mengganggu sosial dan psikologis pasien. Pada wanita hamil, juga dapat berpengaruh pada kesehatan janin.1–3

Bell’s palsy muncul dengan onset cepat, tiba-tiba, dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, serta dapat diderita oleh wanita hamil. Kortikosteroid dan obat antivirus merupakan pengobatan yang banyak digunakan untuk terapi penyakit ini. Pada wanita hamil dengan Bell’s palsy biasanya menolak terapi obat-obatan atau akupunktur karena khawatir menyebabkan gangguan pada janin. Penggunaan obat-obatan dapat menyebabkan berbagai efek samping pada kehamilan, salah satunya yaitu penggunaan kortikosteroid meningkatkan risiko kelahiran preterm (kurang bulan). Untuk mengetahui efek terapi akupunktur pada wanita hamil dengan Bell’s palsy, telah dilakukan penelitian terkait hal ini.1,4

Pada penelitian Wu J, dkk pada tahun 2017 pada wanita hamil dengan Bell’s palsy. Pasien diterapi dengan menggunakan elektroakupunktur dan farmakopunktur 1 kali sehari, 10 sesi terapi, didapatkan hasil perbaikan saraf wajah dan perbaikan disabilitas wajah secara signifikan.1

Pada studi kasus oleh Lei, dkk pada tahun 2010 pada wanita hamil 27 minggu, dilakukan terapi akupunktur dan moksibusi (pemanasan menggunakan moksa batang) 6 kali seminggu, selama 2 minggu pada pasien tersebut. Hasil terapi berupa gejala kelumpuhan wajah pasien membaik dengan cepat, gejala (kelemahan otot saat tersenyum, sulit membuka mata lebih lebar, nyeri di belakang telinga, mata kering) sudah hilang, wajah kembali normal.3

Berdasarkan penelitian ini dan penelitian lain mengenai keamanan prosedur akupunktur, dilaporkan bahwa tidak ada pasien yang menunjukkan efek samping selama perlakuan.1 Sehingga pengobatan dengan akupunktur aman untuk mengobati Bell’s palsy pada wanita yang sedang hamil atau dalam kehamilan.

Referensi

  1. Wu J, Zhuo Y, Hu S, Chen Y, Chen X. Clinical observation on electroacupuncture at local points plus point injection for Bell palsy during pregnancy. J Acupunct Tuina Sci. 2017 Apr 23;15(2):126–30.
  2. Öksüz CE, Kalaycıoğlu A, Uzun Ö, Kalkışım ŞN, Zihni NB, Yıldırım A, et al. The Efficacy of Acupuncture in the Treatment of Bell’s palsy Sequelae. JAMS J Acupunct Meridian Stud. 2019;12(4):122–30.
  3. Lei H, Wang W, Huang G. Acupuncture Benefits a Pregnant Patient Who Has Bell’s palsy: A Case Study. J Altern Complement Med. 2010 Sep;16(9):1011–4.
  4. Palmsten K, Bandoli G, Vazquez-Benitez G, Xi M, Johnson DL, Xu R, et al. Oral corticosteroid use during pregnancy and risk of preterm birth. Rheumatology. 2020 Jun 1;59(6):1262–71.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events