dr. Prananda Hariadi, Dr. dr. Adiningsih Srilestari, M.Epid., M.Kes., Sp. Ak., Subsp. Ak-G(K)

Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang timbul akibat stres yang berlangsung lama, terutama di lingkungan kerja. Seseorang yang mengalaminya biasanya merasa sangat lelah, kehilangan energi, dan terbebani dengan pekerjaan. Selain itu, sering muncul sikap sinis, cuek, atau kurang peduli terhadap orang lain, bahkan terhadap rekan kerja atau pasien. Dampak lain yang sering dirasakan adalah menurunnya rasa percaya diri dan kepuasan terhadap hasil kerja, sehingga individu merasa tidak kompeten dan kurang efektif. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan burnout. Beban kerja yang berlebihan, jam kerja panjang, serta tuntutan pekerjaan yang tinggi menjadi penyebab utama. Harapan yang terlalu besar, baik dari diri sendiri maupun lingkungan, juga sering membuat seseorang mudah mengalami kelelahan mental. Kurangnya dukungan dari atasan maupun rekan kerja memperparah kondisi ini. Faktor pribadi, seperti kepribadian, cara menghadapi stres, serta pengalaman sebelumnya, turut memengaruhi kerentanan seseorang terhadap burnout.
Secara global, burnout telah menjadi masalah serius. Laporan WHO dan ILO pada tahun 2022 menyebutkan bahwa sekitar seperempat pekerja di dunia mengalami gejala burnout atau stres kerja berat. Survei Gallup di tahun yang sama juga menemukan bahwa hampir setengah pekerja global melaporkan mengalami stres signifikan sehari sebelum survei dilakukan, dengan angka burnout tertinggi mencapai 28% di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Turki, dan Brasil. Pada profesi tertentu, misalnya tenaga kesehatan, angka burnout jauh lebih tinggi, yakni 50–70% selama pandemi COVID-19. Di kalangan guru, survei OECD TALIS (2018) mencatat sekitar 25–30% responden mengalami burnout. Sementara itu, di Indonesia belum ada data nasional spesifik, tetapi beberapa studi lokal menemukan prevalensi cukup tinggi, misalnya pada mahasiswa profesi kedokteran Universitas Hasanuddin yang mencapai 45,08% dan pada pegawai Kementerian Kesehatan yang menunjukkan 79% mengalami stres signifikan berpotensi burnout.
Untuk mengenali burnout, salah satu instrumen yang sering digunakan adalah Maslach Burnout Inventory (MBI). Alat ukur ini menilai tiga aspek utama, yaitu kelelahan emosional, sikap menjauh atau acuh terhadap pekerjaan, serta rasa percaya diri terhadap kemampuan kerja. Skor tinggi pada kelelahan emosional dan depersonalisasi atau skor rendah pada pencapaian pribadi menunjukkan adanya burnout. Kondisi ini dapat dibagi menjadi burnout berat jika ketiga aspek terganggu, atau risiko burnout jika hanya satu aspek yang menonjol. Mengatasi burnout memerlukan berbagai pendekatan. Dari sisi psikologis, terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), mindfulness, dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) terbukti mampu membantu individu mengubah pola pikir negatif, melatih kesadaran penuh, serta meningkatkan fleksibilitas dalam menghadapi tekanan. Dari sisi organisasi, pengaturan beban kerja, perbaikan jadwal, dukungan sosial, mentoring, serta peningkatan otonomi kerja merupakan strategi penting. Pendekatan fisik dan gaya hidup juga berperan besar, misalnya dengan rutin berolahraga, melakukan yoga, menjaga pola makan sehat, serta memastikan kualitas tidur yang cukup.
Selain itu, akupunktur menjadi salah satu terapi yang dapat membantu mengatasi burnout. Dengan merangsang titik-titik tertentu pada tubuh atau telinga, akupunktur mampu merangsang pelepasan hormon endorfin, serotonin, dan dopamin yang membuat tubuh lebih rileks dan suasana hati lebih baik. Akupunktur juga menyeimbangkan kerja saraf otonom, menurunkan aktivitas saraf simpatis yang berhubungan dengan stres, serta meningkatkan aktivitas parasimpatis yang berperan dalam relaksasi. Selain itu, terapi ini dapat menekan aktivitas berlebihan pada poros hipotalamus–pituitari–adrenal, sehingga menurunkan kadar hormon kortisol yang biasanya tinggi pada burnout kronis. Dengan cara ini, akupunktur berkontribusi dalam memperbaiki kualitas tidur, menurunkan stres, menstabilkan emosi, dan memulihkan energi.
Secara keseluruhan, burnout merupakan masalah kesehatan kerja yang nyata dan perlu mendapat perhatian serius. Berbagai pendekatan, baik psikologis, organisasi, gaya hidup, maupun terapi akupunktur, dapat saling melengkapi untuk membantu penderita pulih dan kembali produktif.