dr. Paskalish Caroline, dr. Christina L. Simadibrata, Sp.Ak, SubSp.Ak-AA(K)

Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan penyakit tulang sistemik dengan gejala massa tulang yang rendah serta kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.1
Faktor risiko osteoporosis antara lain gaya hidup (penyalahgunaan alkohol, insufisiensi vitamin D), penyakit genetik, gangguan endokrin (obesitas sentral, sindrom cushing), gangguan gastrointestinal (malabsorbsi, penyakit celiac), gangguan darah (hemofilia,myeloma multipel), penyakit autoimun dan rheumatologi (lupus sistemik, ankylosing spondylitis), gangguan neuromuskuloskeletal dan medikamentosa (antikoagulan, barbiturate).2 Namun, kelompok paling berisiko mengalami osteoporosis yaitu wanita pascamenopause. Hal ini berkaitan dengan insufisiensi estrogen yang menyebabkan peningkatan aktivitas osteoklas sehingga melemahnya tulang trabekular dan peningkatan risiko fraktur.3
Prevalensi osteoporosis di dunia dilaporkan mencapai 18% dimana prevalensi osteoporosis wanita dan pria di dunia secara berturut-turut yaitu sebesar 23.1% dan 11.7%.4 Menurut data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi osteoporosis pada wanita usia 50-70 dan >70 tahun di tahun 2013 mencapai 23% dan 53%.5
Gejala osteoporosis biasanya bersifat asimtomatik kecuali jika pasien mengalami fraktur. Fraktur fragilitas dapat terjadi sehingga pasien dapat mengeluhkan nyeri berat mendadak dengan trauma minimal atau nyeri kronik lokal pada area punggung yang menjalar ke abdomen.6 Selain itu, gejala lain yang dapat terlihat yaitu berkurangnya tinggi badan yang menandakan kompresi akibat fraktur vertebra.7 Pemeriksaan baku emas dalam mendiagnosis osteoporosis dapat menggunakan Dual-energy X-ray Absorptiometry (DXA). Pemeriksaan ini mengukur kepadatan mineral tulang khususnya di area tulang belakang dan leher femur. Kriteria diagnosis WHO berdasarkan nilai T-score yang diperoleh dari hasil DXA. Skor yang semakin rendah menandakan derajat osteoporosis yang semakin parah. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan yaitu FRAX tool berupa kalkulator risiko untuk memperkirakan probabilitas fraktur dalam 10 tahun ke depan. Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi penyebab lain osteoporosis seperti kadar kalsium, vitamin D, fungsi ginjal dan profil hormon.8
Penatalaksanaan osteoporosis, termasuk pada wanita pascamenopause, bertujuan untuk mencegah fraktur dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pendekatan terapi dapat secara non-farmakologis maupun farmakologis. Intervensi non-farmakologis menjadi langkah awal yang meliputi modifikasi gaya hidup seperti olahraga teratur, latihan penguatan otot, serta memastikan asupan vitamin D yang adekuat. Pasien juga dianjurkan untuk menghindari aktivitas dengan risiko jatuh, serta menghindari rokok dan konsumsi alkohol.9,10
Terapi farmakologis diberikan bila gejala menetap setelah pemberian terapi non-farmakologis atau osteoporosis berada pada tahap lanjut. Obat antiresorptif biasanya digunakan untuk menghambat resorpsi tulang. Bifosfonat oral menjadi pilihan lini pertama karena efektif dan terjangkau. Alternatif lain seperti selective estrogen receptor modulator (SERM) yaitu raloksifen terbukti efektif untuk fraktur vertebra. Pengobatan lain yaitu rekombinan dari hormon paratiroid seperti Teriparat bekerja dengan merangsang remodeling tulang, tetapi memiliki efek samping yang signifikan. Denosumab, antibodi monoklonal, juga digunakan untuk menghambat aktivitas osteoklas dan mencegah resorpsi meskipun dapat menyebabkan nyeri otot dan hiperkolesterolemia. Pilihan lain yaitu Hormone Replacement Therapy (HRT) namun dibatasi penggunaannya karena dapat meningkatkan risiko kanker dan stroke.9,10
Terapi akupunktur telah terbukti aman dengan menimbang efek samping yang dapat timbul akibat terapi farmakologis. Penelitian menunjukkan bahwa akupunktur dapat meregulasi aksis hipotalamus-pituitari-gonad(adrenal)-tiroid. Terapi akupunktur dapat meningkatkan kadar estrogen serta menurunkan serum bone Gla protein (BGP), alkaline phosphatase (AKP), kalsitonin, dan hormon paratiroid (PTH). Penurunan serum BGP mencerminkan penurunan proses remodeling tulang. Penurunan serum AKP dan PTH berhubungan dengan penurunan aktivitas osteoklas yang berarti penurunan resorpsi tulang.11,12 Selain itu, akupunktur dapat menghambat ekspresi mRNA dan protein IL-6 sehingga menurunkan kadar faktor pro-inflamasi yang berperan dalam menghambat osteoklastogenesis dan perbaikan metabolisme tulang.13 Menurut studi, beberapa modalitas akupunktur sudah terbukti efektif antara lain penggunaan elektroakupunktur, moksibusi ataupun akupunktur tanam benang.14 Studi mengenai efektivitas akupunktur untuk osteoporosis telah menyimpulkan bahwa akupunktur dapat meningkatkan densitas tulang, memperbaiki metabolisme tulang dan meringankan keluhan pasien osteoporosis pascamenopause.
Daftar Pustaka:
- Sozen T, Ozisik L, Calik Basaran An overview and management of osteoporosis. Eur J Rheumatol. 2017 Mar 1;4(1):46–56.
- Cosman F, de Beur SJ, LeBoff MS, Lewiecki EM, Tanner B, Randall S, et Clinician’s Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis. Osteoporosis International. 2014 Sep 26;25(10):2359–81.
- Özmen S, Kurt S, Timur HT, Yavuz O, Kula H, Demir AY, et Prevalence and Risk Factors of Osteoporosis: A Cross-Sectional Study in a Tertiary Center. Medicina (Lithuania). 2024 Dec 1;60(12).
- Salari N, Ghasemi H, Mohammadi L, Behzadi M hasan, Rabieenia E, Shohaimi S, et al. The global prevalence of osteoporosis in the world: a comprehensive systematic review and meta-analysis. Vol. 16, Journal of Orthopaedic Surgery and Research. BioMed Central Ltd; 2021.
- Kementrian Kesehatan Republik Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana Osteoporosis. 2023. p. 5–6.
- Meeta M, Harinarayan C , Marwah R, Sahay R, Kalra S, Babhulkar S. Clinical practice guidelines on postmenopausal osteoporosis: ∗an executive summary and recommendations-Update 2019- 2020. J Midlife Health. 2020 Apr 1;11(2):96–112.
- Chen R, Liu S, Huang M, Ou Y, Liu W, Cui R, et The Value of Historical Height Loss for Detecting Vertebral Fractures in Postmenopausal Women in China. Endocr Res. 2021;46(1):14–9.
- Yang J, Zeng Y, Yu Criteria for osteoporosis diagnosis: a systematic review and meta-analysis of osteoporosis diagnostic studies with DXA and QCT [Internet]. 2025. Available from: www.thelancet.com
- Banu Causes, consequences, and treatment of osteoporosis in men. Vol. 7, Drug Design, Development and Therapy. 2013. p. 849–60.
- Rawung R, Bagy Osteoporosis: Diagnosis and Management. Available from: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic
- Zheng X, Wu G, Nie Y, Lin Y. Electroacupuncture at the governor vessel and bladder meridian acupoints improves postmenopausal osteoporosis through osteoprotegerin/RANKL/RANK and Wnt/β-catenin signaling pathways. Exp Ther Med. 2015 Aug 1;10(2):541–8.
- Huang F, Xie Y, Zhao S, Feng Z, Chen G, Xu Y. The Effectiveness and Safety of Acupoint Catgut Embedding for the Treatment of Postmenopausal Osteoporosis: A Systematic Review and Meta- Analysis. 2019, Evidence-based Complementary and Alternative Medicine. Hindawi Limited; 2019.
- Tian Y, Wang L, Xu T, Li R, Zhu R, Chen B, et Acupuncture for Osteoporosis: a Review of Its Clinical and Preclinical Studies. JAMS Journal of Acupuncture and Meridian Studies. 2022;15(5):281–99.
- Deng B, Xu T, Deng Z, Jiang Y, Li L, Liang W, et Efficacy of acupuncture-related therapy for postmenopausal osteoporosis: a systematic review and network meta-analysis based on randomized controlled trials. Vol. 12, Frontiers in Medicine. Frontiers Media SA; 2025.