dr. Asti Meidianti, dr. Stefanus Agung Budianto, Sp. Ak.
idpngtree.com
Gangguan proprioseptif pada lansia merupakan kondisi yang sering terjadi seiring bertambahnya usia, yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh dalam mendeteksi posisi dan gerakan sendi secara signifikan. Penurunan ini berkontribusi terhadap meningkatnya risiko jatuh, ketidakstabilan postural, serta penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Prevalensi gangguan ini meningkat pada populasi usia lanjut dan dipengaruhi oleh degenerasi sensorik, neuromuskular, serta faktor komorbid seperti sarkopenia atau osteoarthritis.1
Usia lanjut menyebabkan penurunan jumlah dan sensitivitas reseptor proprioseptif, seperti organ Golgi tendon dan spindel otot, sehingga mengganggu umpan balik sensorik ke sistem saraf pusat. Faktor risiko meliputi penyakit kronis seperti stroke, Parkinson, atau cedera muskuloskeletal, serta inaktivitas fisik yang mempercepat atrofi otot. Patofisiologi kondisi ini melibatkan gangguan integrasi sensorik di otak, yang mengakibatkan ketidakakuratan persepsi posisi sendi dan respons motorik yang melambat.
Pasien lansia dengan gangguan proprioseptif sering mengeluhkan ketidakstabilan saat berdiri atau berjalan, terutama di permukaan yang tidak rata, disertai riwayat jatuh berulang. Gejala lain mencakup kesulitan mempertahankan keseimbangan saat mata tertutup, tremor postural, serta penurunan koordinasi gerakan halus. Kondisi ini dapat memperburuk mobilitas harian dan meningkatkan ketergantungan pada alat bantu.3
Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan propriosepsi, seperti joint position sense (JPS) test, yaitu pasien diminta menebak posisi sendi dengan mata tertutup, atau melalui pengukuran sway path length pada posturografi. Skala seperti Balance Error Scoring System (BESS) atau Timed Up and Go (TUG) test digunakan untuk menilai fungsi secara fungsional. Pemeriksaan tambahan, seperti elektromiografi (EMG), dapat membantu mengidentifikasi defisit neuromuskular.4
Terapi konvensional meliputi latihan proprioseptif, seperti penggunaan balance board atau Tai Chi, untuk meningkatkan umpan balik sensorik serta latihan penguatan otot. Terapi farmakologi terbatas pada penanganan komorbid, sementara rehabilitasi fisik menjadi pilihan utama untuk mengurangi risiko jatuh. Namun, kepatuhan lansia sering rendah karena durasi latihan yang panjang serta manfaat farmakoterapi yang terbatas.5,6
Akupunktur berperan efektif dalam meningkatkan propriosepsi pada lansia melalui stimulasi titik akupunktur yang memodulasi jalur sensorik aferen. Studi menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada skor propriosepsi dan keseimbangan setelah sesi akupunktur berulang. Mekanisme akupunktur melibatkan regulasi neuroinflamasi serta peningkatan aliran darah ke reseptor proprioseptif, dengan efek samping yang minimal dibandingkan terapi konvensional.7
Uji klinis terkontrol acak menunjukkan bahwa akupunktur mampu mengurangi kesalahan posisi sendi sebesar 20–30% pada lansia dengan gangguan postural, dan lebih unggul dibandingkan latihan saja. Meta-analisis terindeks Scopus juga mengonfirmasi manfaatnya terhadap keseimbangan dan pencegahan jatuh, dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi. Kombinasi akupunktur dengan latihan proprioseptif dapat mempercepat pemulihan fungsi motorik.8 Dengan demikian, akupunktur merupakan pendekatan yang aman dalam mengelola gangguan proprioseptif pada lansia.
Referensi:
1. Valdes K, Manalang KC, Leach C. Proprioception: An evidence-based review. J Hand Ther. 2024 Apr 1;SI: Upper Extremity Proprioception37(2):269–72. doi:10.1016/j.jht.2023.09.015.
2. Carranza E, Franovic S, Boos A, Pirondini E. Assessing Age-Related Proprioceptive Changes through Active and Passive Tasks: Implications for Stroke Assessment. J Neural Eng. 2025 Apr 7;22(2):10.1088/1741-2552/adc6bc. doi:10.1088/1741- 2552/adc6bc PubMed PMID: 40153871; PubMed Central PMCID: PMC12264801.
3. Ferlinc A, Fabiani E, Velnar T, Gradisnik L. The Importance and Role of Proprioception in the Elderly: a Short Review. Mater Socio-Medica. 2019 Sep;31(3):219–21. doi:10.5455/msm.2019.31.219-221 PubMed PMID: 31762707; PubMed Central PMCID: PMC6853739.
4. Colón UT, Hernández JLH, Gámez EDLC, Astudillo RIM, Salazar R. Emerging Technologies as a Support for Proprioceptive Rehabilitation: a Scoping Review. Rev Mex Ing Biomed. 2025 Mar 20;46(1):e1472–e1472. doi:10.17488/RMIB.46.1.1472.
5. Lin Y, Yu D, Chen X, Chen P, Chen N, Shao B, et al. Eiects of proprioceptive exercise for knee osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. Front Rehabil Sci. 2025 Jun 24;6:1596966. doi:10.3389/fresc.2025.1596966 PubMed PMID: 40631343; PubMed Central PMCID: PMC12234485.
6. Bagagiolo D, Persiani M, Cicchitti L, Vismara L, Bruini I, Mauro A, et al. Eiicacy and safety of musculoskeletal manipulations in elderly population with musculoskeletal disorders: a systematic review. BMJ Open. 2025 Jun 1;15(6):e088655. doi:10.1136/bmjopen-2024-088655 PubMed PMID: 40578898.
7. Luan L, Zhu M, Adams R, Witchalls J, Pranata A, Han J. Eiects of acupuncture or similar needling therapy on pain, proprioception, balance, and self-reported function in individuals with chronic ankle instability: A systematic review and meta-analysis. Complement Ther Med. 2023 Oct 1;77:102983. doi:10.1016/j.ctim.2023.102983.
8. Ren S, Chen Y, Liu Y, Lv Q, Peng J, Song L, et al. Acupuncture for somatosensory deficits after stroke: a systematic review and meta-analysis. Front Med. 2025 Feb 7;12. doi:10.3389/fmed.2025.1504215