dr. Sylvia Wijaya, dr.Jill Tantra, Sp.Ak

Sumber: www.canva.com
Pneumonia adalah suatu peradangan akut di parenkim paru yang disebabkan oleh infeksi patogen (bakteri, virus, jamur dan parasit), namun tidak termasuk Mycobacterium tuberculosis.1 Hal ini menyebabkan peradangan atau cairan di paru-paru yang menyebabkan sulit bernapas dan membatasi asupan oksigen.2 Berdasar klinis dan epidemiologis, pneumonia dibedakan atas pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia = CAP), pneumonia didapat di rumah sakit (hospital-acquired pneumonia = HAP) dan pneumonia akibat pemakaian ventilator (ventilator associated pneumonia = VAP).1
Pneumonia komunitas merupakan jenis pneumonia yang banyak ditemui. Berdasarkan etiologinya, penyebab tersering pneumonia adalah bakteri Gram positif, yaitu golongan pneumococcus dan virus respiratory syncytial virus (RSV), yang mana sering menyerang anak-anak <5 tahun.1-2 Adapun beberapa faktor risikonya adalah riwayat pneumonia sebelumnya, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), gagal jantung, diabetes mellitus, penyakit serebrovaskular/stroke, penyakit hati kronis, penyakit ginjal kronis, tinggal/bekerja dilingkungan yang ramai dan padat penduduk, merokok, konsumsi alcohol, status gizi yang buruk, kebersihan gigi dan mulut yang buruk, serta penggunaan obat-obatan seperti imunosupresif dan steroid oral.1
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, terdapat 0.48% penduduk di Indonesia yang pernah didiagnosis dengan pneumonia dengan 10.8% diantaranya mengalami gejala pneumonia.2 Hal ini hampir serupa bila dilihat dari jenis kelamin, Pendidikan, tempat tinggal, status ekonomi, maupun pekerjaannya. Apabila dilihat dari kelompok usianya, kelompok usia 1-4 tahun (anak-anak) dan 65-74 tahun (lansia) memiliki persentase yang tinggi, yaitu 1.16% dan 0.86%, dimana menunjukkan kelompok anak dan lansia merupakan kelompok yang rentan terkena pneumonia ini.2
Dalam mendiagnosis pneumonia, dapat dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi dan laboratorium. Berdasarkan gejalanya, terdapat trias pneumonia yaitu demam ≥38oC atau ≤36 oC (suhu aksila) yang disertai batuk, dan sesak. Selain itu, dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya pernapasan yang cepat (frekuensi napas anak usia< 2 bulan yaitu > 60 kali/menit; 2 bulan – < 1 tahun 50 kali/menit; 1-5 tahun 40 kali/menit, serta pada dewasa >20 kali/menit), laju nadi ≥90 kali/menit, tarikan dinding dada ke dalam (chest indrawing) dan atau mengi.1-3 Pada kondisi yang berat bisa disertai gejala penurunan asupan makan dan minum serta dapat disertai penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian. Parameter laboratorium juga didapatkan adanya peningkatan dari sel darah putih ≥10×109/L atau penurunan sel darah putih ≤4×109/L dengan ataupun tanpa peningkatan neutrofil batang ≥10% serta dari pemeriksaan röntgen dada ditemukan adanya infiltrat dan konsolidasi pada area lobus paru yang terkena.3
Tatalaksana dari pneumonia ini mencakup pemberian antibiotik serta medikamentosa simptomatis, namun pada kasus-kasus yang berat seperti penurunan kesadaran, peningkatan laju napas, penurunan tekanan darah, peningkatan urea, serta usia ≥ 65 tahun dapat rawat inap (sesuai kriteria CURB-65).3 Akupunktur sendiri dapat menjadi terapi komplementer dimana berperan dalam mempercepat lama perawatan serta meredakan gejala yang ada. Terapi akupunktur ini juga dapat menjadi salah satu pilihan terapi alternatif tambahan pada penderita dengan multi-drug resistance.
Penelitian menunjukkan bahwa akupunktur dapat menghambat replikasi virus serta merangsang sistem kekebalan tubuh melalui peningkatan aktivitas sel T dan produksi sitokin, yang berperan dalam respon imun tubuh. Selain itu, akupunktur diketahui dapat meningkatkan aliran darah dan oksigenasi jaringan paru-paru sehingga dapat mengurangi edema paru dan meningkatkan kapasitas paru pasien.4-5 Selain itu, akupunktur dapat mempengaruhi aktivitas makrofag alveolar, yang berperan dalam fagositosis patogen penyebab infeksi.4
Akupunktur juga berperan dalam modulasi sistem saraf otonom, yang dapat membantu mengurangi respons stres yang sering dialami pasien dengan pneumonia. Penurunan stres ini dapat membantu menurunkan kadar kortisol, yang dikenal dapat melemahkan respon imun jika kadar terlalu tinggi.6-7 Akupunktur menstimulasi pelepasan neurotransmitter seperti endorfin dan serotonin, yang dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi rasa sakit.6,8 Dengan demikian, akupunktur dapat meningkatkan homeostasis tubuh, membantu pasien merasa lebih tenang, dan memperbaiki kualitas tidur, yang semuanya berkontribusi pada proses pemulihan.
Daftar Pustaka:
- Kemkes Republik Indonesia. Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana pneumonia pada dewasa. [internet][cited on Jan 2024]. Available from: file:///Users/sylviawijaya/Downloads/1703109573658363c5873b68.61690107.pdf
- Kemkes Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. [internet][cited on Jan 2024]. Available from: https://kemkes.go.id/id/survei-kesehatan-indonesia-ski-2023
- Fu Y, Yang Z, Cai Y, Liu H, Li S, Kou N, Wu J, Zhang Q. Effect of Bloodletting at Shaoshang and Shangyang Acupuncture Points on Outcome and Prognosis of Severe Community-Acquired Pneumonia in the Elderly. Dis Markers. 2021 Oct 26;2021:3295021
- Xi S, Li Y, Yue L, Gong Y, Qian L, Liang T, Ye Y. Role of Traditional Chinese Medicine in the Management of Viral Pneumonia. Front Pharmacol. 2020 Oct 22;11:582322.
- Xu Y, Cai J, Li W, Miao J, Mei Y, Wang X, Xu H, Chen Q, Liu F, Cui H. Examining the Effector Mechanisms of the Feishu Acupoint (BL13) in the Treatment of Pneumonia Based on Systematic Acupuncture and Moxibustion Research. Evid Based Complement Alternat Med. 2021 Jul 5;2021:5578104
- Cui J, Song W, Jin Y, Xu H, Fan K, Lin D, Hao Z, Lin J. Research Progress on the Mechanism of the Acupuncture Regulating Neuro-Endocrine-Immune Network System. Vet Sci. 2021 Jul 30;8(8):149.
- Xu Y, Cai J, Li W, Miao J, Mei Y, Wang X, Xu H, Chen Q, Liu F, Cui H. Examining the Effector Mechanisms of the Feishu Acupoint (BL13) in the Treatment of Pneumonia Based on Systematic Acupuncture and Moxibustion Research. Evid Based Complement Alternat Med. 2021 Jul 5;2021:5578104.
- Wei W, Huang X, Zhu J. Effect of Acupoint Therapies on Postoperative Sleep Quality: A Narrative Review. Med Sci Monit. 2023 Feb 10;29:e938920.