dr. Soraya Juventia Primadanti, dr. Atikah C. Barasila, M.Biomed., Sp.Ak

Tidur merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kesehatan, dan berperan besar dalam menentukan kualitas hidup serta fungsi fisik seseorang. Tidur yang berkualitas menjadi indikator kesejahteraan, sedangkan gangguan tidur berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit penyerta (komorbiditas), kematian, dan beban biaya medis. Meskipun teknik pembedahan dan prosedur anestesi telah berkembang pesat, gangguan tidur tetap menjadi masalah yang sering ditemui, terutama pada pasien pascaoperasi. Lebih dari 40% pasien dilaporkan mengalami gangguan tidur pada malam pertama setelah menjalani pembedahan, dan gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa hari setelah operasi.1 Tingkat keparahan dan durasi gangguan tidur ini sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala operasi yang dilakukan. Pada pembedahan mayor, ditemukan penurunan fase tidur rapid eye movement (REM) dan gelombang lambat, serta gangguan pada ritme sirkadian alami tubuh, yang lebih parah dibandingkan pembedahan minor. Faktor-faktor seperti respons stres akibat pembedahan, efek anestesi, kondisi lingkungan rumah sakit, dan penyakit dasar yang diderita pasien turut berkontribusi terhadap gangguan ini.2
Secara umum, pasien pascaoperasi berisiko mengalami berbagai bentuk gangguan tidur, seperti penurunan total waktu tidur, tidur yang terfragmentasi atau sering terbangun, serta gangguan pada irama sirkadian. Beberapa faktor risiko utama meliputi usia lanjut, nyeri pascaoperasi, gangguan psikologis, dan jenis pembedahan. Gangguan tidur ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan pasien, tetapi juga berdampak pada proses penyembuhan. Tidur yang terganggu dapat memengaruhi persepsi terhadap nyeri, menurunkan fungsi kognitif, dan memperlambat pemulihan. Selain itu, gangguan tidur dapat menyebabkan komplikasi seperti kelelahan, hipoksemia episodik, gangguan kardiovaskular, kelainan metabolik, hingga penurunan fungsi sistem imun. Sebaliknya, perbaikan kualitas tidur terbukti dapat mempercepat pemulihan pascaoperasi.3,4
Seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya kualitas tidur pascaoperasi, berbagai upaya intervensi telah dikembangkan. Intervensi ini dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi farmakologis memang dapat membantu memperbaiki kualitas tidur, namun tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan. Penggunaan obat tidur juga disertai efek samping seperti kehilangan memori, disorientasi, pusing, risiko jatuh, serta potensi ketergantungan dan toleransi terhadap obat. 5
Sebagai alternatif yang lebih aman, terapi nonfarmakologis seperti akupunktur mulai banyak digunakan. Akupunktur diketahui dapat meningkatkan kualitas hidup pasien pascaoperasi melalui berbagai modalitas, termasuk stimulasi jarum steril (akupunktur), sinar (laserpunktur), listrik (elektroakupunktur dan stimulasi listrik transkutan/TEAS), panas (moksibusi), hingga tekanan manual (akupresur dan terapi titik telinga). Terapi ini memberikan efek terapeutik berupa peningkatan kualitas tidur dan pengurangan nyeri, melalui mekanisme analgesik dan sedatif.6
Berbagai penelitian mendukung efektivitas akupunktur dalam menangani gangguan tidur pascaoperasi. Salah satunya adalah studi oleh Wang dan rekan-rekan yang menggunakan TEAS pada pasien pasca operasi laparoskopi tumor gastrointestinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ini mampu memperbaiki kualitas tidur, mengurangi nyeri, serta menurunkan efek samping pascaoperasi. Mekanisme kerja yang diduga terlibat adalah aktivasi jalur sinyal Nrf2/ARE (nuclear erythroid 2-related factor 2/antioxidant response element) yang berperan dalam mengurangi inflamasi.7
Dengan demikian, akupunktur merupakan pilihan terapi nonfarmakologis yang efektif dan aman untuk mengatasi gangguan tidur pada pasien pascaoperasi. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, layanan akupunktur medik tersedia di Unit Rawat Jalan Terpadu lantai 3, dengan berbagai pilihan modalitas terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Referensi
- Chouchou F, Khoury S, Chauny JM, Denis R, Lavigne GJ. Postoperative sleep disruptions: a potential catalyst of acute pain? Sleep Med Rev. 2014; 18:273–82. 10.1016/j.smrv.2013.07.002
- Su X, Wang DX. Improve postoperative sleep: what can we do? Curr Opin Anaesthesiol. 2018;31(1): 83–8.
- Wang H, Zhang L, Zhang Z, Li Y, Luo Q, Yuan S, Yan F. Perioperative Sleep Disturbances and Postoperative Delirium in Adult Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis of Clinical Trials. Front Psychiatry. 2020 Oct 14;11:570362. doi: 10.3389/fpsyt.2020.570362. PMID: 33173517; PMCID: PMC7591683.
- O’Gara BP, Gao L, Marcantonio ER, Subramaniam B. Sleep, Pain, and Cognition: Modifiable Targets for Optimal Perioperative Brain Health. Anesthesiology. 2021;135(6):1132-1152. doi:10.1097/ALN.0000000000004046,
- Sutton EL. Insomnia. Ann Intern Med. 2021;174(3): ITC33-48.
- Liu Y, Li Y, Liu M, Zhang M, Wang J, L J. Effects of acupuncture-point stimulation on perioperative sleep disorders: A systematic review with meta-analysis and trial sequential analysis. Intl J Clin Pract. 2024;2024:1-11.
- Wang J, Lu F, Ge M, Wang L, Wang G, Gong G, dkk. Transcutaneous electrical acupoint stimulation improves postoperative sleep quality in patients undergoing laparoscopic gastrointestinal tumor surgery: A prospective, randomized controlled trial. Pain Thery. 2023;12:707-722.