Peran Akupunktur pada Post-traumatic Stress Disorder (PTSD)

Sumber: www.canva.com

Post-traumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan kecemasan kronis yang umum terjadi pada orang yang pernah mengalami peristiwa traumatis. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 5th edition (DSM-V), PTSD didefinisikan menurut empat kelompok gejala diagnostik yang berbeda yaitu ingatan berulang dari peristiwa traumatis, penghindaran, perubahan negatif dalam kognisi dan suasana hati, dan perubahan dalam arousal dan reaktivitas. Gejala harus ada minimal satu bulan untuk dapat didiagnosis sebagai PTSD. Individu dengan PTSD dapat mengalami ingatan yang mengganggu, penarikan diri, perubahan kepribadian, serta sikap dan keyakinan negatif mengenai diri sendiri dan dunia. PTSD memiliki gejala yang beragam, termasuk depresi dan kecemasan, dengan gejala yang khas berupa ingatan yang mengganggu, dan mimpi buruk terkait trauma. Seiring waktu, dapat terjadi pula gangguan kognitif, antara lain berupa penurunan konsentrasi dan kapasitas memori.1–3
Patogenesis PTSD terkait dengan berbagai sistem neurobiologis, di antaranya sistem serotonergik (5-HT), noradrenergik (NA), sistem neuropeptida, serta aksis adrenal hipotalamus-hipofisis.3
Terapi untuk PTSD dapat berupa terapi farmakologik dan nonfarmakologik. Terapi farmakologik yang sering diberikan yaitu golongan antidepresan (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitors (SSRI), misalnya Sertraline) dan ansiolitik. Sedangkan pilihan terapi nonfarmakologik yang dapat diberikan berupa Cognitive Behavioral Therapy (CBT), Cognitive Processing Therapy (CPT), Prolonged Exposure Therapy (PE) dan Eye Movement, Desensitization, and Restructuring (EMDR). Selain itu, terapi akupunktur merupakan salah satu pilihan terapi nonfarmakologik yang dapat diberikan. Akupunktur bekerja dengan meregulasi level neurotransmiter, sistem neuroendokrin, dan menurunkan sitokinin inflamasi. Pada keadaan stress mental, terdapat peningkatan aktivitas simpatik. Mekanisme akupunktur pada PTSD dimulai dengan sistem sensorik, berlanjut ke sistem saraf otonom, melalui pengaturan tonus simpatik-parasimpatik, dimediasi oleh aksis HPA, kemudian berakhir di sistem limbik dan jaringan saraf penting di korteks. Modalitas lain yang noninvasive yaitu Transcutaneous Electrical Acupoint Stimulation (TEAS). Dalam penelitian Feng dkk, TEAS lebih efektif daripada TENS dalam memodulasi aktivitas otak, karena TEAS dilakukan pada area titik akupunktur yang mengandung komponen saraf dan neuroaktif yang relatif lebih padat daripada area non-titik akupunktur. Dalam banyak penelitian disebutkan bahwa TEAS memiliki efek neuromodulator yang luas, terutama dalam hal regulasi 5-HT, NA, dan sistem neuropeptidaergik serta pada aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal. 2,4,5

Referensi

  1. Hollifield M, Hsiao AF, Carrick K, Gory Munoz A, Calloway T, Cocozza K, et al. Acupuncture for combat post-traumatic stress disorder: trial development and methodological approach for a randomized controlled clinical trial. Trials. 2021;22(1):1–14.
  2. Oh JY, Kim YK, Kim SN, Lee B, Jang JH, Kwon S, et al. Acupuncture modulates stress response by the mTOR signaling pathway in a rat post-traumatic stress disorder model. Sci Rep [Internet]. 2018;8(1):1–17. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/s41598-018-30337-5
  3. Feng B, Zhang Y, Luo LY, Wu JY, Yang SJ, Zhang N, et al. Transcutaneous electrical acupoint stimulation for post-traumatic stress disorder: Assessor-blinded, randomized controlled study. Psychiatry Clin Neurosci. 2019;73(4):179–86.
  4. Schrader C, Ross A. A Review of PTSD and Current Treatment Strategies. 2021;(December).
  5. Assouline A, Mendelsohn A, Reshef A. Memory-directed acupuncture as a neuro-modulatory treatment for PTSD: Theory, clinical model and case studies. Available from: https://doi.org/10.1038/s41398-022-01876-3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events