Peran Akupunktur pada Crohn’s Disease

Sumber gambar : www.canva.com

Crohn’s disease (CD) merupakan suatu penyakit inflamasi kronis berulang yang mengakibatkan kerusakan usus dan gangguan fungsi usus. Kondisi ini dapat menyerang semua segmen saluran cerna, namun yang paling umum adalah ileum terminal & kolon. CD memiliki gejala utama yaitu nyeri perut, diare dan penurunan berat badan. Mekanisme terjadinya CD melibatkan disfungsi mikrobiota usus, yang kemudian dapat mengganggu fungsi lapisan barrier usus. Terganggunya fungsi lapisan barrier usus akan menyebabkan peningkatan permeabilitas usus yang diyakini dapat meningkatkan infiltrasi mikroorganisme usus dan antigen dari lumen usus yang akan menginduksi respon imun yang menyimpang pada CD.1,2

CD dapat menyerang baik pria maupun wanita, dengan onset penyakit biasanya terjadi pada usia 20 hingga 40-an. Insiden CD terus meningkat, terutama lebih banyak ditemui di negara maju dan di daerah perkotaan, daripada di negara berkembang dan di pedesaan. Dengan prevalensi tertinggi di Eropa, Kanada dan Amerika Serikat.1

Pengobatan yang digunakan dalam kasus CD berupa medikamentosa sesuai tingkat keparahan penyakit dan respons terhadap terapi sebelumnya. Obat yang paling banyak digunakan pada CD adalah kortikosteroid, imunosupresan dan agen biologis. Namun efikasi dari terapi tersebut kurang memuaskan. Selain itu, penggunaan jangka panjang terapi medikamentosa memiliki berbagai efek samping, seperti mual, muntah, penurunan selera makan, menyebabkan kenaikan berat badan, pembengkakan di bahu (buffalo hump) dan di wajah (moon face). Dengan beragamnya efek samping yang dapat menyertai penggunaan medikamentosa jangka panjang, maka dipertimbangkan terapi non medikamentosa seperti akupunktur.1–3

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Song dkk tahun 2018, menyatakan bahwa akupunktur merupakan pilihan terapi yang aman, hemat biaya, non-invasif dan efektif untuk berbagai gangguan. Pada CD, akupunktur berperan dalam menurunkan proses peradangan lokal, memperbaiki fungsi barrier usus, serta menyeimbangkan mikrobiota usus. Selain itu, akupunktur memiliki potensi terapeutik untuk kondisi depresi maupun kecemasan serta nyeri yang sering menyertai CD.4,5 Sebuah uji klinis acak pada 66 partisipan oleh Bao, dkk. pada tahun 2022 menemukan bahwa akupunktur selama 12 minggu memperbaiki kondisi pasien dengan CD aktif derajat ringan hingga sedang yang memiliki respon buruk terhadap pengobatan standar. Akupunktur juga menginduksi remisi penyakit yang efeknya dapat bertahan selama hampir 1 tahun.2 Dengan demikian, akupunktur dapat menjadi salah satu pilihan terapi pada kasus CD yang telah terbukti efektivitasnya.

Referensi

1. Torres J, Mehandru S, Colombel JF, Peyrin-Biroulet L. Crohn’s disease. Vol. 389, The Lancet. Lancet Publishing Group; 2017. p. 1741–55.

2. Bao C, Wu L, Wang D, Chen L, Jin X, Shi Y, et al. Acupuncture improves the symptoms, intestinal microbiota, and inflammation of patients with mild to moderate Crohn’s disease: A randomized controlled trial. EClinicalMedicine [Internet]. 2022;45:101300. Available from: https://doi.org/10.1016/j.

3. Ooi CJ, Hilmi I, Banerjee R, Chuah SW, Ng SC, Wei SC, et al. Best practices on immunomodulators and biologic agents for ulcerative colitis and Crohn’s disease in Asia. Vol. 34, Journal of Gastroenterology and Hepatology (Australia). Blackwell Publishing; 2019. p. 1296–315.

4. Song G, Fiocchi C, Achkar JP. Acupuncture in inflammatory bowel disease. Inflamm Bowel Dis. 2019 Jun 18;25(7):1129–39.

5. Qi Q, Liu YN, Jin XM, Zhang LS, Wang C, Bao CH, et al. Moxibustion treatment modulates the gut microbiota and immune function in a dextran sulphate sodium-induced colitis rat model. World J Gastroenterol. 2018 Jul 28;24(28):3130–44.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events