dr. Erine Martiningsih, dr. Stefanus Agung Budianto, Sp.Ak

Pada era modern saat ini gaya hidup sedentari, yang ditandai dengan minimnya aktivitas fisik dan banyak menghabiskan waktu duduk, semakin meningkat. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2018 didapatkan bahwa 33.5% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun banyak menghabiskan waktu duduk lebih dari 6 jam per hari.1 Kebiasaan ini meningkatkan berbagai risiko kesehatan, salah satunya adalah gangguan muskuloskeletal seperti sindrom piriformis.2,3 Sebuah studi oleh Mondal, dkk melaporkan 79.5% dari 200 individu sehat dengan gaya hidup sedentari mengalami sindrom piriformis, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada usia 20-25 tahun.3
Sindrom piriformis merupakan kumpulan gejala mencakup nyeri punggung bawah atau bokong yang menjalar ke tungkai yang memburuk saat duduk dalam waktu lama. Kondisi ini diduga terjadi akibat kompresi saraf skiatik oleh otot piriformis.3,4,5 Secara global, diperkirakan sindrom piriformis dialami oleh sekitar 0.3-36% dari pasien yang mengeluhkan nyeri punggung bawah yang menjalar, dengan prevalensi lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan pria dan sekitar 17.2% dari 93 pasien yang mengeluhkan nyeri punggung bawah.5,6
Gejala sindrom piriformis secara signifikan dapat menurunkan kualitas hidup individu karena mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebagai langkah pencegahan, penting bagi individu untuk mengurangi durasi duduk dalam waktu yang lama secara terus menerus, menjaga kebiasaan aktivitas fisik harian dan melakukan peregangan ringan secara rutin. Namun apabila gejala sindrom piriformis sudah muncul, diperlukan terapi yang efektif untuk mengatasinya.7
Berbagai studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa akupunktur bermanfaat dan memiliki efektivitas tinggi dalam pengobatan sindrom piriformis. Akupunktur merupakan metode pengobatan non farmakologis menggunakan jarum halus yang melibatkan stimulasi pada titik tertentu di tubuh. Pada sindrom piriformis, akupunktur bertujuan untuk mengurangi nyeri yang terjadi. Studi Coutaux dan Wang mempublikasikan bahwa terapi akupunktur merupakan metode analgesik yang sudah terbukti dapat mengatasi nyeri dengan cara mengatur aktivasi mikroglia, menghambat respon peradangan, serta memodulasi reseptor tertentu di sepanjang jalur nyeri dalam sistem saraf pusat maupun perifer.8,9 Penelitian Han juga memperkuat temuan ini dimana dilaporkan dari 45 orang pasien sindrom piriformis yang menjalani terapi akupunktur selama 20 sesi, sekitar 36 orang (80% dari total pasien) mengalami penurunan nyeri secara signifikan, peningkatan kemampuan bergerak dan peningkatan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.10
Dalam mengatasi sindrom piriformis secara efektif, akupunktur terbukti sangat bermanfaat berdasarkan bukti ilmiah yang telah dipublikasi. Ditambah dengan melakukan aktivitas fisik rutin, peregangan dan berolahraga diharapkan dapat memaksimalkan pengobatan serta menjaga kesehatan muskuloskeletal. Sehingga diharapkan kualitas hidup individu dengan sindrom piriformis dapat meningkat.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Laporan Nasional RISKESDAS 2018”. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
- Dzakpasu, Francis Q. S., et al. “Musculoskeletal Pain and Sedentary Behaviour in Occupational and Non-Occupational Settings: A Systematic Review with Meta- ” International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, vol. 18, no. 1, 13 Dec. 2021, https://doi.org/10.1186/s12966-021-01191-y.
- Mondal M, Sarkar B, Alam “Prevalence of Piriformis Tightness in Healthy Sedentary Individuals: A Cross-Sectional Study.” International Journal of Science and Research, vol. 30, 2017, p. 897.
- Lo, Julian K., and Lawrence R. Robinson. “Piriformis Syndrome.” Handbook of Clinical Neurology, vol. 201, 2024, pp. 203–226, pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38697742/, https://doi.org/10.1016/B978-0-323-90108-6.00002-8.
- Iyer, K Piriformis Syndrome. Springer Cham, 1 Jan. 2023.
- Kean Chen C, Nizar AJ. Prevalence of piriformis syndrome in chronic low back pain A clinical diagnosis with modified FAIR test. Pain Pract. 2013 Apr;13(4):276-81. doi: 10.1111/j.1533-2500.2012.00585.x. Epub 2012 Aug 2. PMID: 22863240.
- Batool, Nusrat, et “Prevalence of Piriformis Syndrome and Its Associated Risk Factors among University Students in Pakistan: A Cross-Sectional Study.” BMJ Open, vol. 15, no. 1, Jan. 2025, p. e092383, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-092383.
- Coutaux A. (2017). Non-pharmacological treatments for pain relief: tens and Joint Bone Spine. 84, 657–661. 10.1016/j.jbspin.2017.02.005
- Wang Z. M. (2017). Clinical effect of acupuncture and moxibustion in treatment of Contin. Med. Educ. 9, 174–175. 10.3969/j.issn.1674-9308.2017.13.096
- Han, X.-Q., Han, B.-R. C Han, Y.-R., 2006. Acupuncture treatment for piriformis Journal of Acupuncture and Tuina Science, 4(4), pp.377-378.