dr. Begin Koresy Ginting, dr. Jill Tantra, Sp. Ak.

Trigger finger, atau dikenal secara medis sebagai stenosing flexor tenosynovitis, adalah gangguan pada jari tangan yang ditandai dengan nyeri, kaku, dan sensasi “terkunci” saat digerakkan. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan pada selubung tendon di area A1 pulley, sehingga tendon fleksor sulit bergerak secara halus. Akibatnya, pergerakan jari dapat menimbulkan bunyi “klik” atau bahkan terkunci pada posisi tertentu, yang sering disertai rasa nyeri.1,2
Penyakit ini cukup sering ditemukan, terutama pada wanita usia 40–60 tahun, dan lebih banyak mengenai ibu jari, jari manis, atau jari tengah.2 Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya trigger finger antara lain pekerjaan atau aktivitas yang memerlukan gerakan menggenggam berulang, diabetes, artritis reumatoid, penyakit tiroid, serta cedera tangan.2,3
Secara umum, diagnosis trigger finger ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Dokter akan menemukan adanya benjolan kecil di pangkal jari, nyeri tekan, dan fenomena “mengancing” saat jari digerakkan.1 Derajat keparahan dapat dinilai menggunakan Quinnell classification, mulai dari derajat 0 (normal) hingga derajat 4 (jari terkunci total).3
Penanganan trigger finger biasanya dimulai dengan terapi konservatif seperti istirahat, penggunaan bidai, obat antiinflamasi non-steroid (OAINS), atau suntikan kortikosteroid.1 Jika keluhan menetap, dapat dilakukan tindakan bedah pelepasan A1 pulley, baik secara terbuka maupun teknik minimal invasif seperti percutaneous release. Meskipun efektif, pembedahan memiliki risiko seperti cedera saraf, infeksi, atau kekakuan jari.4
Dalam beberapa dekade terakhir, akupunktur dengan berbagai modalitas seperti elektroakupunktur, akupotomi, dry needling, dan farmakopunktur telah menjadi pilihan terapi komplementer pada trigger finger.2-6 Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meredakan nyeri, tetapi juga membantu mengembalikan fungsi jari dan mempercepat pemulihan.
Akupunktur merupakan terapi yang relatif aman dan efektif untuk membantu mengatasi trigger finger, terutama pada pasien yang ingin menghindari pembedahan atau tidak merespons terapi konservatif konvensional. Akupunktur dapat mengurangi peradangan, pelepasan perlengketan jaringan, peningkatan aliran darah, dan stimulasi penyembuhan jaringan.
Daftar Pustaka :
- Inoue M, Nakajima M, Hojo T, Itoi M, Kitakoji Acupuncture for the treatment of trigger finger in adults: a prospective case series. Acupunct Med. 2016;0:1–6. doi:10.1136/acupmed-2016-011068.
- Li SM, Chen P, Yan MZ, Du WS, Guo R, Luo Modified acupotomy versus percutaneous release for trigger thumb: a retrospective study. J Pain Res. 2022;15:1141–1148. doi:10.2147/JPR.S339710.
- Liang YS, Chen LY, Cui YY, Du CX, Xu YX, Yin Ultrasound-guided acupotomy for trigger finger: a systematic review and meta-analysis. J Orthop Surg Res. 2023;18:678. doi:10.1186/s13018-023-04127-3.
- Azizian M, Bagheri H, Olyaei G, Shadmehr A, Okhovatpour MA, Dehghan P, et Effects of dry needling on tendon-pulley architecture, pain and hand function in patients with trigger finger: a randomized controlled trial study. J Phys Ther Sci. 2019;31(1):295–298. doi:10.1589/jpts.31.295.
- Kazal LA Jr, Themer S. Resolution of trigger finger with electroacupuncture. Med Acupunct. 2023;35(6):342–345. doi:10.1089/acu.2023.0032.
- Huh JH, Lee DH, Lee JY, Jeong JH, Kim SH, Lee KJ, et al. Case study of a patient with trigger finger after conducting pharmacopuncture according to the progress. J Pharmacopuncture. 2023;26(1):99–104. doi:10.3831/KPI.2023.26.1.99.