dr. Hadiidman Rante, dr. Sri Wahdini, M.Biomed., Sp. Ak.

Hemodialis merupakan pengobatan utama untuk pasien dengan uremia. Uremia adalah suatu kondisi klinis berupa penurunan fungsi ginjal yang ditandai dengan kelebihan cairan, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan metabolik, serta perubahan fisiologis. Istilah uremia secara harfiah berarti “urin di dalam darah”, paling sering terjadi pada penyakit ginjal kronis stadium akhir. Pasien uremia mungkin akan menjalani hemodialisis seumur hidup dan mengalami berbagai komplikasi yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup.1 Salah satu komplikasi paling sering pada pasien yang menjalani hemodialisis adalah depresi. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar seperempat pasien hemodialisis menderita depresi. Depresi dapat menyebabkan hasil klinis yang buruk terhadap dialisis, penurunan kepatuhan pengobatan, dan perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh. Selain itu, perubahan sitokin pro-inflamasi plasma pada pasien dengan depresi juga dapat dikaitkan berbagai komplikasi di sistem jamtung dan pembuluh darah . Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru dari 31 penelitian observasional mengungkapkan korelasi yang signifikan antara depresi dengan mortalitas pada pasien hemodialisis. Sehingga, risiko bunuh diri pada pasien hemodialisis dengan depresi tidak boleh diabaikan.2
Pasien hemodialisis memiliki level sitokin proinflamasi lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya disfungsi serotonin dan hiperkortisolemia melalui aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) sehingga menyebabkan gangguan mood dan perilaku. Salah satu bentuk gangguan mood pada pasien hemodialisis adalah depresi. Selain itu faktor malnutrisi, perubahan aktivitas otonom, faktor kebiasaan pasien dan faktor jenis kelamin juga berperan sebagai faktor risiko depresi pada pasien yang menjalani hemodialisis.4,5 Terjadinya depresi pada pasien yang menjalani hemodialisis antara lain disebabkan oleh kondisi uremia menimbulkan kerusakan mikro di pembuluh darah terutama pembuluh darah di otak yang mempengaruhi mood pasien. Selain itu, pasien yang menjalani hemodialisis akan mengalami kekurangan oksigen di organ tubuh dan perubahan aliran darah ke otak. 3,4 Depresi didiagnosis berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi ke-5 (DSM-V) atau International Classification of Diseases (ICD-11). Menurut DSM-V, depresi mayor didefinisikan sebagai hilangnya kesenangan atau minat dalam waktu dua minggu, disertai dengan lima atau lebih gejala psikologis, fisik, dan perilaku. Gejala yang terkait dengan depresi meliputi hilangnya minat, gangguan tidur, perasaan bersalah yang tidak berdasar, kelelahan, penurunan kemampuan berpikir dan konsentrasi, penurunan berat badan, dan hilangnya nafsu makan, kegembiraan atau penurunan minat dalam berolahraga, serta pikiran bunuh diri. 2,4
Tatalaksana kasus depresi pada pasien hemodialisis terdiri atas terapi farmakologis dan non-farmakologis. Pilihan terapi antara lain monoamine oxidase inhibitor (MAOIs), tricyclic antidepressants (TCAs), selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs), serotonin and norepinephrine reuptake inhibitor (SNRIs) dan lain-lain. Sedangkan untuk terapi non-farmakologis dapat diberikan: cognitive behavior therapy (CBT), terapi musik, terapi cahaya, akupunktur dan diet sesuai kebutuhan pasien.3,5
Akupunktur merupakan salah satu metode pengobatan tradisional yang telah dipraktikkan selama lebih dari 2.000 tahun. Secara klinis, akupunktur terbukti efektif dalam mengurangi keparahan gejala depresi. Metode ini dapat menjadi pilihan terapi alternatif yang aman, efektif, dan minim efek samping. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya prevalensi depresi pada pasien hemodialisis, serta berbagai efek samping yang sering dikaitkan dengan penggunaan obat antidepresan konvensional.2 Akupunktur bekerja dengan memodulasi respon neuroendokrin melalui aksis HPA. Stimulasi di titik tertentu di tubuh dapat meregulasi kadar kortisol dan memperbaiki respon stres. Selain itu, akupunktur dapat meningkatkan mood dengan meningkatkan kadar serum serotonin (5-HT) dan dopamin. Akupunktur juga dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dengan meningkatkan kadar sitokin seperti interleukin- 6 (IL-6) dan interferon-γ (IFN-γ), yang juga dapat membantu meringankan gejala depresi.2
Daftar Pustaka
- Rout P, Foris LA, Katta S et al. Uremia. In: StatPearls Publishing [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 [cited 2025 Jul 14]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441859/
- Yu X, Hua S, Jin E, Guo R, Huang H. Improving hemodialysis patient depression outcomes with acupuncture: A randomized controlled trial. Acta Psychol (Amst). 2025;253(June 2024).
- Agganis BT, Weiner DE, Giang LM, Scott T, Tighiouart H, Griffith JL, et al. Depression and cognitive function in maintenance hemodialysis patients. Am J Kidney Dis [Internet]. 2010;56(4):704–12. Available from: http://dx.doi.org/10.1053/j.ajkd.2010.04.018
- Li Y, Zhu B, Shen J, Miao L. Depression in maintenance hemodialysis patients: What do we need to know? Heliyon. 2023;9(9).
- Ritland K. Depression in Hemodilysis Patients. Bosn J Basic Med Sci. 1996;8(Supplement 1):1–8.