dr. Felicia Ferdiana, Dr. dr. Hasan Mihardja, M.Kes., Sp.Ak., Subsp.Ak-G(K).

Sumber: www.canva.com
Endometriosis adalah penyakit ginekologi di mana jaringan endometrium tumbuh di luar rongga rahim termasuk permukaan peritoneum pelvis, ruang rektovaginal, ligamen, ovarium, serta usus dan kandung kemih. Sekitar 10% atau 176 juta wanita usia reproduktif di seluruh dunia terkena penyakit ini.1
Wanita dengan endometriosis biasanya datang ke klinik dengan keluhan nyeri haid, nyeri perut bagian bawah, dan nyeri panggul. Selain itu, banyak penderita juga mengalami nyeri dalam saat berhubungan seksual (deep dyspareunia), yang secara signifikan dapat memengaruhi fungsi seksual pasien. Sekitar 70%–90% wanita dengan endometriosis mengalami nyeri kronik, yang secara serius mempengaruhi kesehatan fisik, mental dan kualitas hidup pasien.2
Endometriosis adalah penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh menstruasi retrograde, metaplasia, sistem imun lemah, stres oksidatif, alterasi proliferasi/apoptosis, hormon estrogen dominan, predisposisi genetik, serta faktor lingkungan dan mikrobiome saling bekerja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya lesi endometriotik. Faktor risiko endometriosis sendiri meliputi menstruasi pertama terlalu dini, siklus menstruasi pendek, kelainan pada organ genital, indeks massa tubuh (BMI) rendah, jumlah kelahiran sedikit, ras Kaukasia, usia 25–29 tahun, konsumsi alkohol harian, dan perokok aktif dengan infertilitas.3
Tatalaksana endometriosis meliputi terapi farmakologi, terapi bedah, fisioterapi dan terapi kombinasi jika memungkinkan. Dalam pengobatan farmakologis, kita membedakan antara terapi hormonal dan terapi simtomatik. Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan usia pasien dan keinginannya untuk memiliki keturunan, gejala yang dirasakan, serta bentuk endometriosis yang dialami. Pola makan yang tepat dan gaya hidup sehat juga memainkan peran penting dalam penatalaksanaan penyakit ini.3
Terapi farmakologi untuk manajemen nyeri endometriosis mencakup obat antiinflamasi nonsteroid, progesteron, kontrasepsi oral, turunan androgen, dan agonis hormon pelepas gonadotropin (GnRH). Meskipun terapi obat ini bermanfaat, sebagian besar wanita menghentikan penggunaan obat karena kurangnya efektivitas pengobatan atau karena munculnya efek samping, antara lain peningkatan berat badan, retensi cairan, pengecilan payudara, kulit berminyak dan jerawat, hot flashes (rasa panas mendadak), serta penurunan nada suara.3
Akupunktur adalah teknik terapeutik yang dilakukan dengan menusukkan jarum halus pada titik-titik tertentu di tubuh. Dalam beberapa dekade terakhir, akupunktur semakin populer untuk manajemen nyeri di banyak negara.4 Pada kasus endometriosis, beberapa penelitian menunjukan bahwa terapi akupunktur efektif dan aman dalam mengatasi nyeri terkait endometriosis. Akupunktur bekerja dengan cara mengaktivasi sistem saraf pusat dan menghambat atau memodulasi persepsi nyeri melalui jalur neurohumoral dan saraf, pelepasan neurotransmiter endogen seperti endorfin, serotonin, dopamin, serta memodulasi jalur rasa sakit.4
Pada kasus nyeri yang berhubungan dengan endometriosis, terapi akupunktur dapat diberikan sejak satu minggu sebelum menstruasi. Titik-titik akupunktur yang direkomendasikan meliputi CV4, SP6, LR3, KI6, ST30, dan ST36, dengan teknik manipulasi rotasi hingga tercapai sensasi de qi, yang dapat diulang setiap 10 menit. Jarum kemudian dipertahankan (retensi) selama 30 menit. Protokol terapi umumnya dilakukan tiga kali per minggu selama total 12 sesi.4,5 Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa akupunktur efektif dalam mengurangi nyeri haid, memperpendek durasi nyeri, memperbaiki kondisi emosional, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Selain itu, akupunktur tergolong aman, memiliki efek samping minimal, dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien dengan endometriosis.4
Referensi:
- da Silva MCM, Ferreira LP de S, Della Giustina It is time to change the definition: Endometriosis is no longer a pelvic disease. Vol. 79, Clinics. Universidade de Sao Paulo. Museu de Zoologia; 2024.
- Ashkenazi MS, Huseby OL, Kroken G, Trocha M, Henriksson A, Jasiak H, et al. The Clinical Presentation of Endometriosis and Its Association to Current Surgical J Clin Med. 2023 Apr 1;12(7).
- Smolarz B, Szyłło K, Romanowicz Endometriosis: Epidemiology, classification, pathogenesis, treatment and genetics (review of literature). Int J Mol Sci. 2021 Oct 1;22(19).
- Li PS, Peng XM, Niu XX, Xu L, Hung Yu Ng E, Wang CC, et al. Efficacy of acupuncture for endometriosis-associated pain: a multicenter randomized single-blind placebo-controlled Fertil Steril. 2023 May 1;119(5):815–23.
- Giese N, Kwon KK, Armour Acupuncture for endometriosis: A systematic review and meta- analysis. Vol. 12, Integrative Medicine Research. Korea Institute of Oriental Medicine; 2023.