dr. Dellyani Hanggarsari, dr. Irma Nareswari, B.Med.Sc., Sp.Ak., SubspAk-AA(K)

Adanya kemunculan dan perkembangan Assisted Reproductive Technology (ART) merupakan kemajuan besar dalam sejarah reproduksi manusia. Meskipun hasil perawatan In Vitro Fertilization-Embryo Transfer (IVF-ET) telah meningkat secara dramatis dalam hal konsepsi, implantasi, dan tingkat kelahiran hidup, siklus dengan kegagalan implantasi berulang/ Recurrent Implantation Failure (RIF) masih menjadi masalah yang sering terjadi.1 Sebagaimana dilaporkan oleh European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) pada tahun 2016, tingkat kehamilan klinis pasien IVF-ET saat ini adalah 33,8%, di antaranya, RIF mungkin merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi tingkat keberhasilan kehamilan IVF-ET. Terdapat laporan yang menunjukkan bahwa insidensi RIF pada pasien yang menjalani kehamilan berbantuan IVF-ET dapat mencapai 5% hingga 10%.2 Saat ini, RIF didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah menjalani transfer embrio setidaknya sebanyak empat embrio berkualitas baik atau lebih, dengan minimal tiga siklus segar atau beku di bawah usia 40 tahun.3
Terdapat beberapa alasan untuk terjadinya RIF, terutama terkait dengan keadaan patologis endometrium, kualitas embrio, faktor hormonal, faktor imun, dan lain sebagainya. Salah satu artikel ilmiah menganalisis faktor risiko serta etiologi RIF secara rinci,4 yakni (1) kualitas embrio yang buruk yang berkaitan erat dengan sel telur dan sperma seperti, penurunan jumlah cadangan sel ovum dan perubahan kualitas sel ovum yang merupakan masalah sel telur, sementara masalah utama sperma adalah kerusakan DNA sel sperma itu sendiri. Salah satu studi juga menunjukkan bahwa mekanisme molekuler pasca fertilisasi pun dapat mengakibatkan embrio yang abnormal secara genetik,5 (2) penyakit uterus yang meliputi penyakit endometrium dan penyakit miometrium, pun dapat memainkan peran penting dalam terjadinya kegagalan implantasi. Penyakit endometrium secara spesifik meliputi polip, fibroid submukosa, sinekia intrauterin, endometritis kronis, mikrobiota endometrium, endometrium tipis, dan cairan di rongga endometrium. Sementara penyakit miometrium dapat meliputi fibroid uterus yang besarnya lebih dari 4 cm dan penyakit lainnya, (3) terkait faktor hormonal, salah satu studi melaporkan bahwa pasien dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) memiliki konsentrasi hormon luteinisasi fase folikular, resistensi insulin, dan konsentrasi hormon leptin yang tinggi, yang dapat meningkatkan keguguran dan menurunkan tingkat implantasi. Dimana resistensi insulin dan hormon leptin sangat berperan dalam keadaan kadar gula darah pasien. Selain itu, wanita dengan diabetes melitus yang tidak terkontrol dan peningkatan kadar HbA1c pada tahap awal kehamilan juga terkait dengan risiko kematian janin dan aborsi spontan.6 Terakhir, (4) faktor imunologi, faktor darah, dan faktor lainnya yang belum dapat secara jelas dijelaskan, menjadi faktor penyebab kegagalan implantasi berulang.
Akupunktur merupakan metode pengobatan utama di Asia Timur kuno. Penggunaan akupunktur sebagai sarana tambahan untuk mengintervensi pengobatan pasien RIF yaitu sebagai metode pengobatan alami, memiliki efek pengobatan multi-target yang komprehensif. Menurut literatur yang relevan dari beberapa penelitian terkait, sebagian besar berpendapat bahwa mekanisme akupunktur dalam mengatasi kegagalan implantasi berulang, bekerja dengan memengaruhi sumbu axis hipotalamus-hipofisis-ovarium dan berperan dalam regulasi efek sumbu tersebut. Telah dibuktikan juga oleh penelitian bahwa, terapi akupunktur yang dilakukan sebanyak 1-2 kali/minggu selama 4-8 minggu sebelum dilakukan transfer embrio, mampu secara signifikan meningkatkan aliran darah pelvis, perfusi jaringan, serta reseptivitas endometrium yang diharapkan dapat menaikan tingkat kesuksesan terjadinya kehamilan.
Berdasarkan tinjauan tentang efikasi akupunktur terhadap infertilitas tersebut, maka sangat dimungkinkan terapi akupunktur dapat efektif pada pasien dengan kegagalan implantasi berulang, sebagai upaya untuk mencari harapan kehamilan bagi perempuan yang menderita infertilitas.
Tinjauan Pustaka:
- Laufer and A. Simon, “Recurrent implantation failure: current update and clinical approach to an ongoing challenge,” Fertility and Sterility, vol. 97, no. 5, pp. 1019-1020, 2012.
- S.M.Mak,C.H.S.Chung,J.P.W.Chungetal.,“The effect of endometrial scratch on natural-cycle cryopreserved embryo transfer outcomes: a randomized controlled study,” Reproductive BioMedicine Online, vol. 35, no. 1, pp. 28–36, 2017.
- Moustafa and S. L. Young, “Diagnostic and therapeutic options in recurrent implantation failure,” F1000Research, vol. 9, 2020.
- Cakiroglu and B. Tiras, “Determining diagnostic criteria and cause of recurrent implantation failure,” Current Opinion in Obstetrics and Gynecology, vol.32, no.3,pp.198–204,2020.
- Vialard,R.Lombroso,M.Bergereetal.,“Oocyte aneuploidy mechanisms are different in two situations of increased chromosomal risk: older patients and patients with recurrent implantation failure after in vitro fertilization,” Fertility and Sterility, vol. 87, no. 6, pp. 1333–1339, 2007.
- Busnelli, A. Paffoni, L. Fedele, and E. Somigliana, “The impact of thyroid autoimmunity on IVF/ICSI outcome: a systematic review and meta-analysis,” Human Reproduction Update, vol. 22, no. 6, pp. 775–790, 2016.