Artikel Kesehatan

Peran Akupuntur Terhadap Anti Mulerian Hormon (AMH) pada Pasien yang Menjalani Program Fertilisasi In Vitro

Hormon anti-Müllerian/Anti-Müllerian hormone (AMH) adalah hormon yang dihasilkan oleh organ reproduksi laki-laki dan perempuan. AMH ditemukan pada tahun 1940-an oleh Alfred Jost, merupakan salah satu hormon yang berperan dalam diferensiasi jenis kelamin embrio. AMH telah terbukti memiliki pengaruh kuat terhadap fungsi ovarium, terutama untuk pertumbuhan folikel. Deteksi dan kadar AMH telah digunakan di bidang ginekologi, mulai dari fertilisasi in vitro hingga diagnostik berbagai penyakit ovarium dan kanker.1,2 Sejak lahir dan seterusnya, kadar AMH meningkat sampai puncaknya di usia sekitar 25 tahun. Setelah usia 25 tahun kadar AMH mulai menurun hingga tidak terdeteksi saat menopause. Terdapat variasi kadar AMH dalam serum di usia berapa pun.2

Penelitian yang melibatkan sekelompok perempuan berusia antara 30-44 tahun, yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penuaan ovarium, didapatkan hanya AMH yang secara signifikan dikaitkan dengan kesuburan alami. AMH merupakan prediktor yang baik untuk penurunan kesuburan terkait usia pada perempuan. AMH adalah penanda cadangan ovarium yang baik untuk pasien infertil yang menjalani prosedur fertilisasi in vitro. Hal ini karena fluktuasi serum AMH yang minimal selama siklus menstruasi dan berbeda dengan penanda lain seperti Follicle-stimulating hormone (FSH), estradiol, dan inhibin B.1

Penelitian tentang peran AMH dan kemampuannya untuk memprediksi tingkat kehamilan dan kelahiran hidup menunjukkan hasil yang bervariasi. Kadar AMH serum yang rendah (< 1 ng/mL) secara signifikan menurunkan kemungkinan kriopreservasi blastokista setelah fertilisasi in vitro dibandingkan pasien dengan kadar AMH yang lebih tinggi (1-4 ng/mL), tanpa memandang usia pasien. Konsentrasi AMH yang diukur selama stimulasi fertilisasi in vitro memprediksi respon ovarium pasien selama hari-hari pertumbuhan folikel.1

Laporan kasus yang dilakukan oleh Zhu J pada pasien infertilitas dengan kadar AMH yang rendah, pasien mendapatkan terapi manual akupunktur dan penyinaran dengan lampu infrared. Didapatkan hasil perbaikan pada siklus menstruasinya, tes darah menunjukkan folikel tumbuh normal dan kadar hormon normal. Dari laporan kasus tersebut disimpulkan  akupunktur sebagai pengobatan infertilitas dalam hal ini dengan kadar AMH yang rendah dan cadangan ovarium yang rendah menunjukkan hasil yang sangat positif dan memuaskan.3

Penelitian terhadap pasien dengan cadangan ovarium yang menurun dan menjalani fertilisasi in vitro serta transfer embrio dengan membandingkan empat jenis terapi yaitu acupoint nerve stimulator TEAS treatment (TES), comforting false Han’s placebo (FHP), artificial endometrial cycle treatment (AEC), dan kelompok kontrol (CON). Pasca TES dan AEC didapatkan  peningkatan jumlah folikel antral (antral follicles count /AFC) dan kadar AMH, sedangkan kadar estradiol, kadar FSH, dan rasio FSH/ luteinizing hormone (LH) menurun secara signifikan. Setelah pengobatan, jumlah oosit yang diambil dan jumlah rata-rata embrio yang ditransfer lebih tinggi pada kelompok TES dan AEC dibandingkan pada kelompok CON dan FHP. Tingkat kehamilan klinis pasien kelompok TES lebih tinggi dibandingkan tiga kelompok lainnya.4

Penelitian yang mengkombinasikan akupunktur dengan obat  (Climen: Estradiol valerate dan cyproterone acetate) didapatkan peningkatan secara signifikan kadar serum AMH dan AFC dibandingkan dengan sebelum terapi. Pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa akupunktur dikombinasikan dengan obat meningkatkan tingkat hormon endokrin dan fungsi reservasi ovarium pada perempuan dengan respom ovarium yang buruk yang menjalani program fertilisasi in vitro.5

Akupunktur untuk terapi infertilitas terutama perempuan dengan kadar AMH dan cadangan ovarium yang rendah dapat memberikan hasil yang baik. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal tersebut.

Referensi

  1. Bedenk J, Vrtačnik-Bokal E, Virant-Klun I. The role of anti-Müllerian hormone (AMH) in ovarian disease and infertility. J Assist Reprod Genet. 2020 Jan;37(1):89-100. doi: 10.1007/s10815-019-01622-7. Epub 2019 Nov 21. PMID: 31755000; PMCID: PMC7000586.
  2. Moolhuijsen LME, Visser JA. Anti-Müllerian Hormone and Ovarian Reserve: Update on Assessing Ovarian Function. J Clin Endocrinol Metab. 2020;105:3361-3373. doi:10.1210/clinem/dgaa513
  3. Zhu, Jihe. “Acupuncture treatment for infertility due to low antimüllerian hormone levels.” Indian Journal of Case reports. 2017;3: 1-2.
  4. Zheng Y, Feng X, Mi H, Yao Y, Zhao Y, Li J, Jiao J, Gong A, Sun W, Deng X. Effects of transcutaneous electrical acupoint stimulation on ovarian reserve of patients with diminished ovarian reserve in in vitro fertilization and embryo transfer cycles. J Obstet Gynaecol Res. 2015 ;41:1905-11. doi: 10.1111/jog.12810. Epub 2015 Oct 12. PMID: 26455718.
  5. Dong XL, Ran JK, Zhang HJ, Chen K, Li HX. Acupuncture combined with medication improves endocrine hormone levels and ovarian reserve function in poor ovarian response patients undergoing in vitro fertilization-embryo transplantation [Chinese]. Zhen Ci Yan Jiu. 2019;44:599-604. doi: 10.13702/j.1000-0607.180779. PMID: 31475495.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events