Dapatkah Akupunktur Berperan Dalam Perbaikan Cedera Saraf Tepi?

Cedera saraf tepi adalah cedera yang sering terjadi dan dapat menyebabkan disablitas sehingga dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Kerusakan saraf perifer dapat disebabkan oleh berbagai penyebab mulai dari keadaan tubuh sampai kepada kelainan lokal misalnya disebabkan trauma. Penyembuhan fungsional axon saraf terjadi sekitar 1 mm/ hari atau 1 inci/ bulan dan pada saat ini juga terjadi penyembuhan selaput pembungkus saraf dengan reinervasi reseptor sensoris, hubungan saraf-otot atau keduanya.

Salah satu contoh cedera saraf tepi yang sering terjadi adalah kelumpuhan saraf peroneus. Cedera saraf merupakan penyebab kecacatan yang sering muncul mengikuti kejadian cedera lutut pada olahraga (mencapai angka 50 %) dan kecelakaan kendaraan bermotor.

Pasien dengan neuropati peroneal sering muncul dengan drop foot. Pada drop foot dapat terjadi gejala high stepping walk/ steppage gate yaitu gaya berjalan dengan mengangkat kaki tinggi seperti akan menaiki tangga. Hal ini tentunya sangat mengganggu kualitas hidup pasien yang mengalaminya.

Terapi cedera saraf peroneus dapat berupa terapi non bedah dan terapi bedah. Ketika dibiarkan tidak diterapi, kelumpuhan ekskremitas bawah yang berhubungan dengan cedera saraf peroneus adalah bervariasi antara 30% sampai 35%. Seringkali pasien yang telah dioperasi tetap mengalami gejala drop foot sehingga tetap memerlukan terapi non bedah. Terapi non bedah diantaranya obat-obatan, rehabilitasi dan akupunktur. Terapi obat yang dapat diberikan untuk cedera saraf perifer merupakan terapi yang ditujukan untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien dan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien. Sedangkan untuk tujuan perbaikan saraf yang rusak masih bersifat terbatas dan memerlukan tambahan terapi lainnya.

Sehubungan dengan terapi akupunktur, neurotropin memegang peranan penting dalam terapi regenerasi saraf tepi setelah mengalami cedera. Neurotopin berguna untuk pertumbuhan dan pembelahan saraf dan mengatur keselamatan dari saraf. Pada saat keadaan kerusakan saraf maka neurotropin dalam jumlah besar dihasilkan untuk mempercepat perbaikan dari saraf yang rusak. Selain itu akupunktur dapat menghasilkan perubahan seluler dari keseimbangan klorida dan aktivasi reseptor GABA dalam mempromosikan regenerasi saraf. Terjadi pula peningkatan produksi dari nitrit oksida (NO) akibat penggunaan elektroakupunktur dapat berkontribusi pada perbaikan motorik. Terdapat pula peran dari peningkatan faktor pertumbuhan saraf setelah pemberian terapi akupunktur.

Pada beberapa penelitian dan telaah ilmiah telah memperlihatkan manfaat terapi akupunktur pada cedera saraf tepi. Pada sebuah tinjauan sistematik tahun 2018 mengenai efek terapi akupunktur dan moksibusi terhadap kelumpuhan saraf peroneus didapatkan bahwa akupunktur memberikan hasil terapi perbaikan terhadap keadaan cedera saraf peroneus. Dari 19 studi diantaranya yang menggunakan terapi akupunktur. Perbaikan ini dinilai baik dari pengurangan gejala pasien maupun dari peningkatan kualitas hidup pasien.

Sumber:

  1. Glaus S W, Johnson P J, Mackinnon S E. Clinical Strategies to Enhance Nerve Regeneration in Composite Tissue Allotransplantation. Hand Clin. 2011; 495–509
  2. Poage C, Roth C, Scott B. Peroneal Nerve Palsy: Evaluation and Management. Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons. 2016;24:1
  3. Ridley T J , McCarthy M A, Bollier M J, et all. The incidence and clinical outcomes of peroneal nerve injuries associated with posterolateral corner injuries of the knee. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2018; 26:806–811
  4. Ryu H Y, Lee H, Yoon K S, et all. A Review of Research on the Treatment of Peroneal Nerve Palsy by Acupuncture and Moxibustion. J Acupunct Res 2018;35(2):52-6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events