Peran Akupunktur pada Cegukan

Cegukan, disebut juga hiccup dalam bahasa Inggris atau singultus dalam bahasa Latin, adalah gerakan berulang tidak disengaja yang terjadi akibat dari kontraksi mendadak dan involunter dari diafragma dan otot-otot sela iga, yang kemudian diikuti dengan penutupan glottis secara mendadak yang menimbulkan bunyi ‘hik’ yang khas.1, 2 Cegukan biasanya terjadi singkat dan dapat mereda sendiri dalam 48 jam. Cegukan dibagi menjadi tiga berdasarkan durasinya, yaitu akut (kurang dari 48 jam), persisten (sampai lebih dari 2 hari), dan intractable (lebih dari 1 bulan). Cegukan akut biasanya menghilang sendiri dan tidak sampai terlaporkan. Cegukan dapat mengganggu kualitas hidup pasien, terutama yang terkait dengan makan, tidur, berbicara, dan penyembuhan luka paskaoperasi,1hingga menyebabkan gangguan tidur, kelelahan, kecemasan, depresi, gangguan nutrisi, dehidrasi, gangguan irama jantung, bahkan hingga kematian.2, 3

Cegukan merupakan tanda dari berbagai gangguan kesehatan dan dapat disebabkan oleh gangguan saluran cerna,4 penyakit pada susunan saraf seperti stroke, 4penyakit jantung dan pembuluh darah,4 gangguan pada rongga dada,4 kanker ataupun efek samping terapi kanker,2-4 efek setelahoperasi,4, 5 Efek samping dari obat-obatan tertentu dan lain-lain. Cegukan disebabkan oleh stimulasi pada jalur lengkung refleks cegukan yang melibatkan saraf vagus, saraf phrenicus, dan saraf simpatik dari area tulang belakang setinggi dada (T6-T12), serta pusat cegukan berada pada tulang belakang bagian leher atas, batang otak, dan area otak tengah.6

Cegukan persisten dan intractable dapat ditangani dengan terapi farmakologis dan non-farmakologis. Terapi farmakologis atau obat-obatan tidak selalu efektif untuk menangani cegukan, selain itu terapi cegukan dengan obat-obatan memiliki berbagai efek samping seperti gangguan tidur (dapat berupa mengantuk atau malah sulit tidur), pusing, kebingungan, gerakan tidak terkontrol, maupun rasa lemas.3 Tatalaksana cegukan non-farmakologis atau tanpa obat dapat berupa upaya untuk meningkatkan kadar karbon dioksida dengan menahan napas atau bernapas ke dalam kantung kertas,7 akan tetapi hal ini juga tidak selalu berhasil, serta sulit dilakukan oleh pasien dengan sakit yang berat. Alternatif terapi lain yang mulai banyak dilakukan adalah dengan terapi akupunktur yang sudah terbukti efektif untuk mengatasi cegukan.1

Penelitian yang dilakukan oleh Ge dkk pada pasien kanker dengan cegukan persisten mendapati bahwa akupunktur dapat mengatasi cegukan dengan satu kali terapi pada 50% pasien, dan pada pasien lainnya cegukan teratasi dalam 2-3 kali terapi. Selain itu pasien juga merasakan perbaikan dalam gangguan menelan, tidur, bernapas, dan berbicara,serta nyeri pada area diafragma, batuk, dan mual muntah.2 Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Xu dkk pada tahun 2019, 15 pasien pascaoperasi dengan cegukan persisten mendapatkan terapi akupunktur. Cegukan pada 10 dari 15 pasien berhenti setelah terapi pertama, 3 pasien setelah terapi kedua, dan 2 pasien pada terapi ketiga.8 Pada penelitian yang dilakukan oleh Ge maupun Xu tidak didapatkan efek samping dari terapi akupunktur yang diberikan.2, 8

Berdasarkan tinjauan sistematis terbaru pada tahun 2021 yang dilakukan oleh Choi dkk, akupunktur terbukti lebih efektif dalam mengatasi cegukan dibandingkan dengan obat-obatan. Akupunktur juga memiliki angka kesembuhan yang lebih besar dan dapat memperpanjang jarak antara kekambuhan cegukan.3

Efek akupunktur pada cegukan dihasilkan oleh kemampuan akupunktur dalam mengatur gerakan usus dan organ-organ di dalam rongga dada melalui stimulasi saraf otonom.6 Akupunktur dapat mengatur jalur lengkung refleks cegukan secara lokal dengan memperbaiki aliran darah, mengaktivasi sistem saraf otonom, meregulasi mediator inflamasi, serta mengatur pelepasan neurotransmitter dan neurohormon pada pusat cegukan.2 Selain itu akupunktur juga merangsang saraf lokal, yang lalu akan diteruskan ke otak untuk menghambat rangsangan abnormal saraf vagus, dan mengurangi spasme diafragma.9 Dari beberapa kasus cegukan yang ditangani dengan akupunktur, hasilnya menunjukkan bahwa akupunktur memiliki efek yang menetap walaupun penyakit utama pasien belum sembuh atau membaik, hal ini dapat terjadi akibat dari efek akupunktur yang dapat memicu perubahan pada ekspresi gen di sel saraf.6

Terapi akupunktur pada cegukan tidak hanya dapat mengatasi cegukan, tetapi juga mengurangi kelelahan, ketidaknyamanan, dan kesulitan lain yang dialami pasien akibat dari cegukan, selain itu terapi akupunktur untuk cegukan juga berlangsung tanpa ada efek samping.2, 8

Referensi

1.  Cole JA PM. Singultus 2021 [updated February 3, 2021. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538225/.

2. Ge AX, Ryan ME, Giaccone G, Hughes MS, Pavletic SZ. Acupuncture treatment for persistent hiccups in patients with cancer. J Altern Complement Med. 2010;16(7):811-6.

3. Choi TY, Lee MS, Ernst E. Acupuncture for cancer patients suffering from hiccups: a systematic review and meta-analysis. Complement Ther Med. 2012;20(6):447-55.

4. Chang FY, Lu CL. Hiccup: mystery, nature and treatment. J Neurogastroenterol Motil. 2012;18(2):123-30.

5. Dietzel J GM, Pavlovic D, Usichenko TI. Acupuncture for persistent postoperative hiccup. Anaesthesia. 2008;63:1010-26.

6. Schiff E, River Y, Oliven A, Odeh M. Acupuncture therapy for persistent hiccups. Am J Med Sci. 2002;323(3):166-8.

7. Morris LG, Marti JL, Ziff DJ. Termination of idiopathic persistent singultus (hiccup) with supra-supramaximal inspiration. J Emerg Med. 2004;27(4):416-7.

8. Xu J QY, Yue Y, Zhao H, Gao Y, Peng L, et al. Treatment of persistent hiccups after arthroplasty- effects of acupuncture at PC6, CV12 and ST36. Acupuncture in Medicine. 2019;37:72-6.

9. Zhang Y, Jiang X, Wang Z, He M, Lv Z, Yuan Q, et al. Efficacy of acupuncture for persistent and intractable hiccups: A protocol for systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Medicine (Baltimore). 2021;100(8):e24879.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Upcoming Events