Manfaat Akupunktur pada Dyspareunia

Dyspareunia didefinisikan sebagai nyeri daerah kemaluan yang dapat dialami sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual. Prevalensi dyspareunia bervariasi dari 3 hingga 18% di seluruh dunia, dan dapat mempengaruhi 10 hingga 28% populasi semasa hidupnya.1 Dyspareunia lebih sering terjadi pada wanita pasca menopause (12%-45%) dibanding wanita masa sebelum menopause (5%).2

Kategori dyspareunia dibagi menjadi superfisial (permukaan) atau dalam, dan primer atau sekunder. Dyspareunia permukaan berarti nyeri terbatas pada vulva atau pintu masuk vagina (liang senggama). Dyspareunia dalam berarti rasa sakit meluas sampai ke bagian yang lebih dalam dari vagina atau panggul bawah, dimana hal ini sering dikaitkan dengan penetrasi yang dalam. Dyspareunia primer berarti nyeri dimulai pada awal hubungan seksual, sedangkan pada dyspareunia sekunder, nyeri dimulai setelah beberapa waktu aktivitas seksual yang tanpa nyeri. Dyspareunia dapat mempengaruhi pria dan wanita, namun lebih sering pada wanita.1

Dyspareunia dapat menyebabkan kesulitan seksual, seperti kurangnya hasrat dan gairah seksual, dan dapat menyebabkan masalah dalam hubungan seksual. Hal ini dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan fisik dan mental, menyebabkan depresi, kecemasan, kewaspadaan berlebihan terhadap rasa sakit, citra tubuh negatif, dan merasa rendah harga diri. Oleh karena itu manajemen yang cepat sangat penting untuk mengatasi gangguan ini.1

Penyebab dyspareunia dapat berupa kondisi struktural atau anatomis, inflamasi (peradangan) pada kulit dan selaput lendir vagina, infeksi sekitar vagina dan panggul oleh bakteri dan virus, keganasan, trauma, gangguan hormonal, dan psikososial. Penyebab anatomis meliputi gangguan fungsi otot dasar panggul, retroversi uterus (posisi rahim yang lebih miring ke belakang), sisa-sisa himen (selaput dara), dan prolaps (turunnya) organ panggul.1

Pada pasien usia reproduksi, paling sering diakibatkan oleh kurangnya pelumasan dan hal ini disebabkan oleh gangguan hormonal, gangguan gairah seksual dan obat kontrasepsi. Untuk wanita usia pasca menopause, terjadi penurunan kadar estrogen yang dapat menyebabkan atrofi (penurunan ukuran dan fungsi) vagina dengan penipisan selaput lendir vagina yang bertanggung jawab untuk meningkatkan sekresi (pengeluaran cairan) vagina.1

Dispaerunia dalam dapat disebabkan oleh endometriosis (jaringan endometrium yang timbul di luar rahim) atau ganguan fungsi dasar panggul atau kandung kemih. Dyspareunia dapat juga terjadi pasca melahirkan apabila terjadi trauma perineum dari persalinan. Penatalaksanaannya melibatkan banyak kombinasi pengobatan untuk mengobati berbagai aspek dari nyeri (fisik, emosional, dan perilaku). Pengobatan medis biasanya menggunakan obat anti depresan trisiklik, obat pengganti hormonal yang diminum atau dioleskan, obat NSAID, injeksi Botox, terapi perilaku kognitif, dan terapi lain yang memusatkan pada otak, namun hal ini tergantung pada keluhan pasien.1

Akupunktur merupakan salah satu metode pengobatan yang dapat dijadikan sebagai pilihan untuk mengatasi nyeri pada dyspareunia termasuk nyeri daerah panggul. Sebuah tinjauan literatur pada studi kasus oleh Pickett tahun 2013 menunjukkan bahwa terapi akupunktur bersama pemberian anestesi lokal dapat membantu mengurangi nyeri dyspareunia sampai 80% dan memperbaiki elastisitas rongga vagina yang sempit (diameter hanya 2 cm) pada seorang wanita usia 27 tahun yang telah menjalani dua kali sesi akupunktur. Setelah tiga kali sesi akupunktur, pasien tersebut dapat melakukan hubungan seksual, namun masih disertai rasa nyeri. Setelah empat kali sesi akupunktur, pasien dapat berhubungan seksual tanpa nyeri dan merasa 100% lebih baik.3

Sebuah penelitian oleh de Sousa dkk tahun 2016 pada 20 wanita yang mengalami  nyeri panggul kronis dan dyspareunia akibat endometriosis menunjukkan bahwa akupunktur 1 minggu sekali selama 40 menit per sesi dapat menurunkan nyeri dyspareunia sebanyak 65%, perbaikan nyeri panggul kronis sebanyak 66%, perbaikan hubungan seksual 66% dan terjadi perbaikan skor kualitas hidup 32%.4

Telaah sistematis dan meta analisis yang dilakukan oleh Mira dkk tahun 2018 menunjukkan bahwa akupunktur dapat secara signifikan menurunkan gejala nyeri lebih baik dibanding berbagai terapi komplementer lainnya pada pasien.5

Mekanisme anti nyeri yang ditimbulkan oleh akupunktur melibatkan perangsangan ambang batas nyeri yang berbeda pada saraf berdiameter kecil. Saraf yang terletak di permukaan kulit ini, mengirim pesan ke sumsum tulang belakang, yang mengaktifkan neuron di batang otak dan hipotalamus, memicu pelepasan opioid endogen secara sistematis. Respon ini membuat perubahan kadar endorfin, enkefalin, dan hormon stres seperti hormon adrenokortikotropik dalam plasma yang menyebabkan penurunan nyeri.4

Efek samping dari akupunktur dapat berupa hal minor seperti rasa pening sementara dan memar ringan dilaporkan terjadi pada 9 dari 232 perawatan. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan oleh peserta, sehingga akupunktur merupakan salah satu metode pengobatan yang efektif, aman dan dapat ditoleransi dengan baik untuk nyeri daerah panggul pada pasien dewasa.4 Biaya pengobatan akupunktur dari sudut pandang sosial juga lebih rendah dibanding pengobatan konvensional, dimana hal ini disebabkan oleh adanya perbaikan tidak lsngsung dari angka kehadiran dan ketidakhadiran pada pasien yang bekerja.6

Referensi

1.Tayyeb M, Gupta V. Dyspareunia. StatPearls [Internet]. 2021 Nov 20 [cited 2022 Jan 22]; Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562159/

2.Running A, Smith-Gagen J, Wellhoner M, Mars G. Acupuncture and female sexual dysfunction: A time-series study of symptom relief. Med Acupunct. 2012;24(4):249–55.

3.Pickett H. Case series: Acupuncture and pelvic pain. Med Acupunct. 2013;25(3):238–44.

4.de Sousa T, de Sousa B, Zomkowisk K. The effect of acupuncture on pain , dyspareunia , and quality of life in Brazilian women with endometriosis : A randomized clinical trial. Complement Ther Clin Pract [Internet]. 2016;25:114–21. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.ctcp.2016.09.006

5.Mira TAA, Buen MM, Borges MG, Yela DA, Benetti-Pinto CL. Systematic review and meta-analysis of complementary treatments for women with symptomatic endometriosis. Int J Gynecol Obstet. 2018;143(1):2–9.

6.Nicolian S, Butel T, Gambotti L, Durand M, Filipovic-Pierucci A, Mallet A, et al. Cost-effectiveness of acupuncture versus standard care for pelvic and low back pain in pregnancy: A randomized controlled trial. PLoS One. 2019;14(4):1–16.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Upcoming Events