dr. Tiara Nadya Putrianda, dr. Yoshua Viventius, Sp.Ak

Fungsi kognitif adalah sekumpulan kemampuan otak yang meliputi mengingat, memusatkan perhatian, memahami bahasa, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Fungsi ini memengaruhi hampir seluruh aktivitas kita sehari-hari, mulai dari mengingat janji pertemuan, belajar keterampilan baru, hingga membuat keputusan penting. Ketika fungsi kognitif menurun, kualitas hidup dapat terganggu secara signifikan, memengaruhi kemandirian, produktivitas, dan kesejahteraan emosional seseorang.
Salah satu tahap paling awal dari penurunan fungsi otak adalah Subjective Cognitive Decline (SCD), yaitu keluhan penurunan daya ingat yang dirasakan oleh seseorang, meskipun hasil pemeriksaan objektif (seperti tes kognitif standar) masih dalam batas normal.1,2 SCD dapat menjadi sinyal awal dari proses neurodegeneratif yang kemudian berkembang menjadi Mild Cognitive Impairment (MCI) dan akhirnya menjadi Alzheimer atau demensia.3 Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan SCD memiliki risiko dua kali lipat untuk mengalami MCI atau demensia dibanding orang tanpa keluhan serupa.4
Di Indonesia, gangguan kognitif seperti Mild Cognitive Impairment (MCI) dan demensia menjadi masalah kesehatan yang semakin penting seiring bertambahnya populasi lansia. Data Susenas 2018 menunjukkan sekitar 17,08% lansia mengalami MCI dan hampir 0,86% mengalami demensia.5 Proyeksi menunjukkan jumlah penderita demensia di Indonesia akan meningkat tajam, dari sekitar 1 juta kasus pada 2015 menjadi 2 juta pada 2030, dan hampir 4 juta pada 2050. Lonjakan ini berarti beban penyakit bisa meningkat hingga 244% dalam tiga dekade mendatang, menuntut strategi pencegahan dan penanganan yang lebih komprehensif di tingkat komunitas dan nasional.6
Gangguan kognitif dapat muncul akibat berbagai faktor yaitu penuaan alami otak, penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, atau demensia vaskular, gangguan pembuluh darah otak (stroke, TIA), cedera otak traumatis, gangguan metabolik seperti diabetes atau disfungsi tiroid, depresi dan gangguan tidur, dan faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, pola makan buruk, atau paparan stres kronis. Penurunan fungsi kognitif, walaupun ringan, dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, kemampuan merencanakan, hingga fungsi sosial. Pada tahap lanjut, penderita mungkin kesulitan mengurus diri sendiri, mengalami kebingungan terhadap waktu dan tempat, serta bergantung penuh pada orang lain.7
Saat ini belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan penyakit Alzheimer atau bentuk demensia lain. Pengobatan farmakologis lebih bersifat memperlambat perkembangan gejala, bukan menghentikan atau mengembalikan kerusakan otak. Oleh karena itu, strategi pencegahan dan intervensi dini sangat penting. Intervensi tersebut mencakup perubahan gaya hidup sehat dengan olahraga teratur, diet bergizi, stimulasi mental, dan menjaga kualitas tidur. Terapi farmakologis dengan obat-obatan yang memodulasi neurotransmiter. Terapi nonfarmakologis salah satunya adalah akupunktur, yang kini semakin banyak diteliti efektivitasnya.
Akupunktur adalah metode pengobatan yang melibatkan penusukan jarum halus pada titik- titik tertentu di tubuh untuk memodulasi fungsi fisiologis.8 Beberapa penelitian mengungkapkan beberapa mekanisme biologis yang menjelaskan mengapa akupunktur dapat membantu menjaga fungsi kognitif:
- Meningkatkan aliran darah ke otak, khususnya ke hippocampus sebagai pusat pembentukan memori baru.9
- Mengatur neurotransmiter seperti asetilkolin (penting untuk memori), dopamin (motivasi), dan serotonin (suasana hati).10
- Menurunkan peradangan saraf dan mengurangi stres oksidatif, yang berperan besar dalam kerusakan sel otak.11
- Meningkatkan plastisitas sinaptik, memungkinkan otak membentuk koneksi baru dan memperbaiki jaringan yang rusak.12
- Memperbaiki konektivitas fungsional otak dalam jaringan Default Mode Network (DMN) yang terganggu pada SCD dan Alzheimer.13
Akupunktur aman bila dilakukan oleh tenaga medis terlatih. Memiliki efek samping yang relative ringan, seperti memar atau nyeri sementara di lokasi penusukan.14 Reaksi alergi atau infeksi jarang terjadi bila prosedur dilakukan dengan jarum steril. Orang dengan keluhan penurunan daya ingat atau faktor risiko demensia dapat mempertimbangkan akupunktur sebagai bagian dari program pencegahan. Akupunktur sebaiknya dikombinasikan dengan pola hidup sehat, kontrol penyakit kronis (hipertensi, diabetes), dan stimulasi kognitif. Konsultasikan dengan dokter spesialis akupunktur medik untuk menentukan titik dan frekuensi terapi yang sesuai.
Daftar Pustaka:
- Jessen F, Amariglio RE, van Boxtel M, et al. A conceptual framework for research on subjective cognitive decline in preclinical Alzheimer’s disease. Alzheimers Dement. 2014;10(6):844-852.
- Mitchell AJ, Beaumont H, Ferguson D, Yadegarfar M, Stubbs Risk of dementia and mild cognitive impairment in older people with subjective memory complaints: meta-analysis. Acta Psychiatr Scand. 2014;130(6):439-451.
- Petersen RC, Lopez O, Armstrong MJ, et al. Practice guideline update summary: Mild cognitive impairment. Neurology. 2018;90(3):126-135.
- Reisberg B, Shulman MB, Torossian C, Leng L, Zhu W. Outcome over seven years of healthy adults with and without subjective cognitive impairment. Alzheimers Dement. 2010;6(1):11-24.
- Survei Sosial Ekonomi Nasional 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2018.
- Nugroho A, Meyer D, Indrayathi PA, et al. Dementia care in Indonesia: a situational analysis. Front Neurol. 2021;12:643480.
- Livingston G, Huntley J, Sommerlad A, et Dementia prevention, intervention, and care: 2020 report of the Lancet Commission. Lancet. 2020;396(10248):413-446.
- World Health Organization. WHO standard acupuncture point locations in the Western Pacific Region. Manila: WHO; 2008.
- Chiu HY, Hsieh YJ, Tsai PS. Systematic review and meta-analysis of acupuncture to improve cognitive function in patients with mild cognitive impairment and Alzheimer’s disease. Ageing Res Rev. 2017;36:1-17.
- Zhou J, Peng W, Xu M, Li W, Liu Z. The effectiveness and safety of acupuncture for patients with Alzheimer’s disease: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Alzheimers Res Ther. 2015;7(1):54.
- Li Z, Wang Y, Wang L, et al. Electroacupuncture improves cognitive function through inhibition of oxidative stress and apoptosis in a rat model of vascular dementia. Neural Regen Res. 2017;12(6):922-929.
- Lin Y, Li F, Wang Q, et al. Acupuncture modulates functional connectivity of the default mode network in Alzheimer’s disease: A pilot fMRI study. Neural Regen Res. 2014;9(16):1671-1677.
- Wang Z, Zhang Y, Zhang W, et Cognitive and hippocampal changes after acupuncture treatment in patients with subjective cognitive decline: A randomized controlled trial. Front Aging Neurosci. 2023;15:1183723.
- MacPherson H, Thomas K, Walters S, Fitter M. The York acupuncture safety study: prospective survey of 34,000 treatments by traditional acupuncturists. BMJ. 2001;323(7311):486-487.