dr. Fianti, dr. Christina L. Simadibrata, M.Kes, Sp.Ak, SubSp.Ak-AA(K)

Enuresis atau juga disebut dengan nocturnal enuresis (NE) atau mengompol, adalah gangguan berkemih pada anak berusia lebih dari 5 tahun, dimana anak tidak bisa menahan pipis di malam hari. Enuresis merupakan sebuah gangguan yang sudah terjadi lebih dari 2 kali dalam seminggu dan menetap selama lebih dari 3 bulan.1 Di Indonesia, prevalensi nokturnal enuresis pada anak-anak mencapai 2,3%. Secara global, kasus enuresis dapat menetap pada 15% anak di usia 5 tahun dan lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 3:1.2 Enuresis disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu faktor genetik terkait dengan perkembangan otak, faktor psikologis terkait kondisi mental anak, dan adanya kondisi atau penyakit lain. Kondisi lain yang dapat memengaruhi enuresis seperti konstipasi atau sulit buang air besar (BAB), infeksi saluran berkemih, dan gangguan kandung kemih. Walaupun secara kasar tidak memiliki dampak klinis yang signifikan pada kesehatan anak, namun enuresis dapat menyebabkan tekanan secara emosi, fisik, dan sosial pada anak.3
Enuresis merupakan gangguan yang perlu penanganan tepat agar mengurangi dampak sosial pada anak. Penanganan enuresis bertujuan untuk mengurangi kejadian mengompol, menghindari dampak sosial, dan mencegah terjadinya mengompol berulang. Tata laksana utama enuresis dimulai dengan perubahan perilaku dan kebiasaan, didukung dengan terapi modifikasi perilaku seperti terapi motivasi dan hipnoterapi. Pada kasus enuresis dimana penanganan perilaku masih tidak berhasil, dapat dipertimbangkan penanganan lain seperti obat-obatan dan pembedahan. Selain itu, penting untuk menangani kondisi lain seperti konstipasi, gangguan tidur, atau komorbiditas psikologis.1 Tantangan utama dalam penanganan enuresis, terutama pada kasus yang sulit tertangani, adalah tingginya angka kambuh dan efek yang hilang setelah berhenti konsumsi obat. Masalah lain adalah sulitnya menjaga perubahan kebiasaan untuk dapat bertahan dan adanya risiko munculnya gangguan lain, seperti pada penerapan bedwetting alarm diketahui berkaitan dengan gangguan tidur pada anak. Dengan hal tersebut, terdapat beberapa terapi non-farmakologi yang dapat menunjang dan membantu melengkapi penanganan enuresis, salah satunya terapi akupunktur. 4
Akupunktur adalah terapi dengan menusukkan jarum tipis ke titik akupunktur tertentu pada tubuh, dengan tujuan merangsang saraf, memengaruhi pelepasan neuropeptida, dan meningkatkan aliran darah. Tindakan akupunktur dapat dilakukan dengan jarum atau modalitas lain, seperti laser (laserpunktur), ultrasound (sonopunktur), listrik (elektroakupunktur), thermal (moksibusi), tanam benang, jari atau benda tumpul (akupresur), dan farmakopunktur.5 Penjaruman pada titik akupunktur untuk enuresis berperan dalam menginduksi pelepasan opioid endogen yang merangsang sistem saraf pusat, sehingga mengurangi kontraksi otot berkemih. Selain itu, manipulasi pada titik akupunktur dapat membantu kontrol pusat berkemih di otak dan mengatur kontraksi kandung kemih. 4
Penelitian-penelitian pada penggunaan akupunktur untuk enuresis pada anak menunjukkan hasil yang baik untuk akupunktur dibandingkan dengan penggunaan obat atau plasebo. Pada sebuah tinjauan sistematis dan meta analisis oleh Zheng-tao dkk, hasil klinis pengurangan jumlah malam mengompol per minggu menunjukkan bahwa akupunktur lebih baik dibandingkan dengan pengobatan kedokteran barat dan plasebo.6 Selain itu, penelitian oleh Moursy dkk menggunakan modalitas laser menunjukkan peningkatan jumlah volume berkemih maksimal lebih signifikan dibandingkan dengan pemberian obat desmopressin.7 Penggunaan laserpunktur didukung dengan hasil tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Kannan dkk yang menganalisis 6 penelitian menggunakan laserpunktur dari total 13 penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbaikan signifikan pada fungsi reservoir kandung kemih. Sebagai alternatif dalam penggunaan jarum untuk akupunktur, penerapan stimulasi laser pada titik akupunktur lebih sesuai pada pasien anak karena bersifat tidak nyeri dan non-invasif, tanpa efek samping yang tercatat.4
Gangguan mengompol atau enuresis merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak, dan perlu penanganan jika anak sudah melewati usia 5 tahun. Saat ini telah terdapat berbagai pilihan terapi untuk enuresis, dimulai dari perubahan perilaku dan obat-obatan. Akupunktur dapat berperan sebagai alternatif dan pendukung dalam penanganan enuresis, terutama dengan modalitas stimulasi laser yang tidak nyeri dan non-invasif, sehingga dapat lebih dipilih bagi anak-anak.
Daftar Pustaka:
- Gomez RM, Leslie SW, Lotfollahzadeh S. Nocturnal enuresis. [Updated 2023 Jun 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan.
- Sinha R, Raut S. Management of nocturnal enuresis-myths and facts. World journal of nephrology. 2016 Jul 6;5(4):328.
- Walle JV, Rittig S, Tekgül S, Austin P, Yang SS, Lopez PJ, et al. Enuresis: practical guidelines for primary care. British Journal of General Practice, 2017;67:328-9.
- Kannan P, Bello UM. The efficacy of different forms of acupuncture for the treatment ofnocturnal enuresis in children: a systematic review and meta-analysis. Explore, 2022;18:488-97.
- White A. Western medical acupuncture: A Definition. Acupuncture in Medicine. 2009.
- Lv ZT, Song W, Wu J, Yang J, Wang T, Wu CH, et al. Efficacy of acupuncture in children with nocturnal enuresis: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2015; 320701:1-12.
- Moursy EES, Kamel NF, Kaseem AF. Combined laser acupuncture and desmopressin for treating resistant cases of monosymptomatic nocturnal enuresis: a randomized comparative study. Scandinavian Journal of Urology, 2014;48:559-64.