Peran Akupunktur pada Telinga Berdenging (Tinitus)

Tinitus merupakan bunyi yang mengganggu yang dirasakan pada telinga, dapat dirasakan pada satu telinga atau keduanya. Tinitus berasal dari bahasa Latin “tinnire” yang artinya bunyi. Tinitus adalah persepsi suara yang tidak mempunyai sumber dari luar. Pada umumnya sensasi yang ada dirasakan sebagai bunyi dalam telinga, namun suara ini dapat dirasakan di dalam atau di luar kepala atau terutama pada salah satu atau kedua telinga. Suara dapat dirasakan seperti bersenandung,berdenging, berdesis, statis, bergemuruh, atau suara seperti jangkrik.

Tinitus dapat dibagi menjadi 2 yaitu obyektif dan subyektif. Tinitus obyektif didefinisikan sebagai bunyi yang dihasilkan di dalam tubuh oleh aliran darah, kontraksi otot, tulang, atau struktur pernafasan yang dapat dirasakan dan diukur oleh orang lain. Tinitus jenis ini jarang/ tidak umum dijumpai. Tinitus subyektif adalah persepsi suara tanpa adanya sumber suara, biasanya berhubungan dengan penurunan pendengaran. Penurunan pendengaran biasanya memicu perubahan neuroplastik pada sistem sentral pendengaran sehingga menghasilkan persepsi tinnitus. Hal ini kemungkinan dipicu oleh hilangnya input dari saraf pendengaran (auditory nerve) pada struktur pendengaran sentral. Tinitus erat hubungannya dengan hilangnya pendengaran (hearing loss) maka pemeriksaan audiogram merupakan komponen yang penting untuk dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi tinitus yang menetap.

Tinitus dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Keluhan yang dirasakan oleh penderita tinnitus diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan dalam konsentrasi, penurunan hubungan sosial, dan kesulitan dalam mendengarkan percakapan sehari-hari. Selain itu, tinitus juga berhubungan dengan gangguan kecemasan dan depresi.

Tinitus erat hubungannya dengan kehilangan pendengaran dan hal ini sering menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka akan kehilangan pendengarannya. Tinitus merupakan penyakit yang kompleks dan banyak faktor yang mendasarinya. Penyebab pastinya belum diketahui walaupun pada beberapa kasus berhubungan dengan gangguan organ auditorik yang disebabkan karena penyakit lainnya. Penyebab paling sering adalah karena proses degenerasi yang berhubungan dengan usia. Selain itu juga dapat disebabkan oleh trauma (akustik atau kimia), efek samping penggunaan obat-obatan tertentu seperti aspirin, antibiotik golongan aminioglikosida, obat diuretik furosemid, kuinin dan obat kemoterapi. Selain itu juga dapat disebabkan karena otosklerosis, penyakit meniere, penyakit kardiovaskular, penyakit metabolik, neurologik dan gangguan psikiatri.

Penanganan untuk tinitus umumnya dengan pemberian obat-obatan tertentu yang bertujuan untuk mengatasi gangguan pada telinga. Pemberian obat-obatan dapat menimbulkan efek samping dan kadang kurang efektif dalam mengurangi keluhan. Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain mual, sakit kepala, mulut kering, gangguan fungsi hati, gangguan irama jantung dan kejang.

Akupunktur yang telah dikenal sejak 3000 tahun yang lalu, adalah suatu proses terapi stimulasi area kulit yang dikenal dengan titik akupunktur. Stimulasi ini dapat menimbulkan pelepasan zat-zat biokimia tertentu, yang dapat membantu mengurangi keluhan telinga berdenging, melancarkan aliran darah di sekitar telinga dan juga mempengaruhi aliran darah otak. Terapi akupunktur dapat berupa penjaruman manual, elektroakupunktur dan laserpunktur. Umumnya, satu seri terapi terdiri atas 12 tindakan akupunktur dan dapat diberikan 2-3 kali dalam seminggu. Akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi untuk penanganan tinitus dimana dengan pengobatan biasanya tidak memberikan perbaikan signifikan. Kelebihan akupunktur dibandingkan dengan modalitas lain adalah efek samping yang minimal dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah dibandingkan dengan obat-obatan. Beberapa efek samping yang dilaporkan terjadi adalah rasa nyeri pada lokasi penusukan dan hematom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events