Peran Akupunktur Terhadap Kecemasan pada Pasien yang Menjalani Program IVF

Sumber Gambar : www.morulaivf.co.id

Infertilitas merupakan masalah cukup besar bagi jutaan pasangan. Menurut World Health Organization (WHO), infertilitas adalah penyakit sistem reproduksi ditandai dengan kegagalan pasangan dalam mencapai kehamilan setelah berhubungan seksual tanpa proteksi selama 12 bulan atau lebih. Kondisi ini bukanlah hal langka, karena nyatanya terdapat sekitar 10-18% pasangan suami istri di dunia yang mengalami infertilitas.1 Berbagai macam cara dilakukan pasangan-pasangan agar cepat dikaruniai buah hati. Salah satu metode yang umum digunakan adalah dengan menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).

Terdapat 5 tahap proses membuat bayi tabung, yakni induksi ovulasi, pengambilan telur (ovum pick up), pengambilan sperma, pembuahan, dan transfer embrio. Telah diketahui bahwa IVF merupakan tindakan yang kompleks dan dapat menimbulkan stress serta kecemasan tinggi pada pasangan infertil yang menjalaninya. Pelaksanaan siklus IVF membutuhkan 9 sampai 12 hari suntikan obat fertilitas untuk menstimulasi produksi oosit (sel telur), pengambilan oosit melalui tindakan ovum pick-up di kamar operasi, transfer embrio dan dibutuhkan waktu menunggu dua sampai tiga minggu untuk mengetahui terjadi implantasi embrio atau keberhasilan kehamilan. Pada setiap langkah tindakan tersebut berisiko terjadinya kegagalan. Banyaknya tahap dan risiko yang harus dilalui oleh pasangan dapat mengakibatkan tingkat kecemasan yang tinggi yang mana dapat mempengaruhi keberhasilan program IVF.2,3

Setiyono dkk (2010) membuktikan bahwa kadar kortisol tinggi akan mengganggu kematangan oosit.Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Hendarto dkk yang membuktikan semakin berat stress yang dialami perempuan yang menjalani IVF akan menghambat kematangan oosit dan menghasilkan banyak oosit tidak matang sehingga menghasilkan angka keberhasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang mengalami cemas ringan dan sedang.4 Maka dari itu disarankan perlu adanya terapi yang dijalani oleh pasangan untuk mengatasi kecemasan saat menjalani program IVF salah satunya adalah dengan menjalankan terapi akupunktur.

Wanita diberikan pilihan untuk menjalani akupunktur yaitu pada saat transfer embrio dan/atau pada saat awal siklus IVF.Angka keberhasilan program IVF pada pasien yang menjalani akupunktur cukup tinggi, hal ini sejalan dengan menurunnya angka kecemasan pada pasien yang menjalani akupunktur. Akupunktur terbukti dapat menurunkan kadar hormon stres dalam darah yaitu hormon kortisol. Selain itu akupunktur juga dapat mengurangi aktivitas simpatoadrenal yang berhubungan dengan stress dan melepaskan hormon endorpfin yang memberikan efek tenang.5

Balk dkk membandingkan level stres pada wanita yang menjalani program IVF baik yang diterapi akupunktur dan tidak diterapi akupunktur pada hari saat transfer embrio. Hasilnya didapatkan bahwa pada wanita yang menerima akupunktur didapatkan level stress yang lebih rendah dan angka keberhasilan hamil lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak menerima terapi akupunktur (75% vs 42,2%).6 Hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Smith dkk yang mana akupunktur secara signifikan menurunkan angka kecemasan pada wanita yang menjalani program IVF.7 Penelitian serupa juga dilakukan oleh Isoyama dkk yang membandingkan akupunktur asli dan akupunktur palsu terhadap kecemasan pasien menjalani program IVF, didapatkan hasil level kecemasan pada pasien yang mendapat akupunktur asli menurun signifikan dibandingkan dengan akupunktur palsu (68,2% vs 14,3%).7

Sebagai kesimpulan akupunktur terbukti dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan angka keberhasilan pasien yang menjalani IVF sehingga akupunktur dapat dijadikan pilihan terapi pelengkap untuk pasien yang menjalani program IVF.

Referensi

  1. Penyebab Dan Gejala Infertilitas, Waspadalah Sejak Dini. 2015. Diunduh dari: www.morulaivf.co.id
  2. Boivin J, Griffiths E, Venetis CA. Emotional distress in infertile women and failure of assisted reproductive technologies: meta-analysis of prospective psychosocial studies. BMJ. 2011;342:1-9.
  3. A. Nandi,A. Shah,A. Gudi &R. Homburg. Acupuncture in IVF: A review of current literature. Pages 555-561 | Published online: 09 Jun 2014
  4. Hendarto H. Stres Infertilitas Menghambat Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi In Vitro. Maj Obstet Ginekol. 2015;23(1):17.
  5. Isoyama D, Cordts EB, De Souza Van Niewegen AMB, De Almeida Pereira De Carvalho W, Matsumura ST, Barbosa CP. Effect of acupuncture on symptoms of anxiety in women undergoing in vitro fertilisation: A prospective randomised controlled study. Acupunct Med. 2012;30(2):85-88.
  6. Balk J, Catov J, Horn B, Gecsi K, Wakim A. The relationship between perceived stress, acupuncture, and pregnancy rates among IVF patients: A pilot study. Complement Ther Clin Pract. 2010;16(3):154-157.
  7. Smith CA, de Lacey S, Chapman M, et al. The effects of acupuncture on the secondary outcomes of anxiety and quality of life for women undergoing IVF: A randomized controlled trial. Acta Obstet Gynecol Scand. 2019;98(4):460-469.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Upcoming Events