
Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Rendahnya asupan gizi, termasuk pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang tidak optimal, berkontribusi besar terhadap masalah ini. Menyadari pentingnya peran ASI, Program Studi Akupunktur Medik FKUI-RSCM menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat: Asuhan Mandiri Akupresur untuk Meningkatkan Produksi ASI Ibu Balita Stunting, yang berlangsung di Kantor Kelurahan Depok secara hybrid (tatap muka dan daring melalui platform Zoom).
Acara yang diikuti oleh ibu dengan balita, kader, serta tenaga kesehatan ini bertujuan memberikan edukasi sekaligus praktik langsung teknik akupresur sederhana yang dapat meningkatkan produksi ASI. Antusiasme peserta terlihat sejak awal, mengingat kegiatan ini tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menawarkan solusi praktis untuk mendukung kesehatan ibu dan anak.
Dalam sesi webinar, Dr. dr. Klara Yuliarti, Sp.A (K) menegaskan bahwa ASI merupakan fondasi penting dalam mencegah stunting. “ASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memperkuat sistem imun dan menunjang pertumbuhan anak secara optimal,” jelasnya. Menurutnya, pemberian ASI eksklusif enam bulan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun adalah langkah nyata yang efektif untuk menekan angka stunting di Indonesia.
Masalah yang sering dihadapi ibu menyusui adalah produksi ASI yang tidak lancar, dipengaruhi oleh faktor kelelahan, stres, maupun kondisi kesehatan tertentu. Dr. dr. Hasan Mihardja, M.Kes, Sp.Ak., Subsp.Ak-G (K) memaparkan bahwa akupresur dapat menjadi solusi pendukung.
dr. Christina L. Simadibrata, M.Kes, Sp.Ak., Subsp.Ak-AA (K) menambahkan bahwa akupresur bisa dilakukan secara mandiri dengan teknik sederhana. Ia menjelaskan lokasi titik-titik akupresur yang aman dan mudah dijangkau, sehingga ibu menyusui dapat mempraktikkannya setiap hari tanpa membutuhkan alat khusus.
Seminar ini dipandu oleh Dr. dr. Wahyuningsih Djaali, M.Biomed., Sp.Ak. sebagai moderator. Beliau menekankan bahwa stunting tidak bisa ditangani dengan satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, termasuk integrasi akupresur dalam pelayanan kesehatan.
Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya yang dipandu oleh dr. H. Ahmad Aulia Jusuf, AHK, Ph.D sebagai moderator. Peserta kemudian dibimbing langsung oleh para instruktur berpengalaman dalam suasana yang interaktif. Peserta diajarkan cara menemukan titik akupresur, teknik pemijatan yang benar, serta durasi pijatan yang efektif. Banyak peserta menyampaikan pertanyaan terkait praktik sehari-hari, mulai dari keamanan akupresur saat ibu dalam kondisi lelah hingga cara mengombinasikan pijatan dengan relaksasi untuk hasil lebih maksimal.
Selain pengetahuan, peserta juga merasakan manfaat langsung dari praktik akupresur. Peserta mengaku merasa lebih rileks, dan sebagian besar menyatakan lebih percaya diri untuk melanjutkan praktik ini di rumah. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa akupresur bukan pengganti medis utama, melainkan terapi pendukung yang dapat membantu ibu menyusui dalam meningkatkan produksi ASI.
Kegiatan ini sejalan dengan program pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting melalui pendekatan berbasis masyarakat. Dengan melibatkan ibu balita, kader kesehatan, dan tenaga medis, diharapkan ilmu akupresur dapat menyebar lebih luas dan bermanfaat secara berkelanjutan.
Di akhir acara, para narasumber menekankan bahwa keberhasilan pemberian ASI membutuhkan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitar. Akupresur adalah salah satu cara praktis yang bisa dipelajari dan dilakukan secara mandiri, namun dukungan psikologis dan sosial bagi ibu menyusui tidak kalah pentingnya. Harapannya, semakin banyak anak Indonesia yang tumbuh sehat, cerdas, dan terbebas dari stunting.
Melalui pendekatan integratif ini, akupresur terbukti menjadi terapi pendukung yang potensial untuk meningkatkan produksi ASI. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menegaskan bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama, yang dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah.




