Peran Akupunktur Pada SLE


Sumber: https://medlineplus.gov/genetics/condition/systemic-lupus-erythematosus

SLE (Systemic Lupus eritematosus) merupakan penyakit autoimun kronis yang disebabkan oleh peradangan pada jaringan dan organ tubuh seperti kulit, darah, sendi, ginjal, hingga otak. Pada keadaan normal, sistem imunitas (kekebalan) tubuh akan melindungi dari infeksi namun jika terjadi kerusakan pada sistem kekebalan, maka tubuh dapat menyerang jaringannya sendiri. Sistem kekebalan memiliki kemampuan untuk membedakan benda asing yang mampu bereaksi terhadap antigen (zat asing). Antigen dapat terkandung di dalam bakteri, virus, mikroorganisme, maupun sel kanker. Pada keadaan sistem kekebalan tubuh yang rusak, jaringan tubuhnya sendiri ditafsirkan sebagai benda asing yang dapat menghasilkan antibodi abnormal (autoantibodi) ataupun sel imun target yang menyerang sel atau jaringan tubuh (reaksi autoimun). Reaksi ini menyebabkan terjadinya peradangan dan kerusakan jaringan.1

SLE tidak dapat diprediksi dan ditandai dengan keadaan eksaserbasi dan remisi. WHO (World Health Organization) melaporkan lupus lebih sering pada wanita dibandingkan pria sebesar 10:1. Di Amerika Serikat, sekitar 2 hingga 8 orang per 100.000 menderita lupus sistemik dengan rentang usia 22 hingga 40 tahun terdapat sebanyak 80-90%.2 Angka insidensi  SLE di poliklinik reumatologi RSCM Jakarta pada tahun 2009 hingga 2012 sebanyak 15,4%, pada tahun 2015 sebanyak 17,2% dan tahun 2017 mencapai 32,2%. 3

Penyebab SLE masih belum diketahui, diduga berasal dari genetik, lingkungan, sinar UV, trauma fisik, emosional, obat-obatan, kalsinosis, dan vasculitis. Hal ini menyebabkan gejala lupus bisa sangat beragam dan berbeda beda. Beberapa gejala umum yang menyertai diantaranya demam, kelelahan, nyeri, sakit kepala, artralgia, nyeri dada, ruam kulit berwarna kemerahan seperti kupu-kupu pada hidung dan pipi (eritema kupu-kupu malar), rambut rontok, anemia, masalah pembekuan darah, batuk, sesak napas dan angina.1 Pada keadaan tertentu SLE dapat mengalami episode (flare) di mana kondisinya akan semakin parah. SLE akan berangsur-angsur memburuk seiring berjalannya waktu, dan kerusakan pada organ utama tubuh dapat mengancam jiwa.4

Diagnosa pada SLE sulit dilakukan. Pemeriksaan awal dengan pertanyaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi ANA (antinuclear antibody) yang nilainya meningkat pada penderita penyakit autoimun.4

Pengelolaan pasien SLE dapat dilakukan dengan pendekatan holistik meliputi edukasi, rehabilitasi dan medikamentosa dengan target pengelolaan SLE yaitu untuk mencapai remisi dan mencegah kekambuhan. Sedangkan target jangka panjang terapinya adalah mencegah kerusakan organ, menghambat komorbiditas, mengurangi toksisitas obat dan menjaga kualitas hidup tetap optimal. Terapi medikamentosa SLE adalah dengan pemberian kortikosteroid, anti inflamasi non steroid metotreksat, ataupun imunosupresan sesuai dengan derajat penyakit SLE.5 Imunosupresan untuk menekan respon imun tubuh dan mengurangi produksi autoantibodi serta hydroxychloroquine untuk mengurangi gejala SLE yang dapat digunakan jangka panjang.2

Terapi Akupunktur dapat diberikan pada SLE sebagai anti inflamasi melalui modulasi HPA (hipotalamus-pituitary-adrenal) aksis dengan meningkatkan CRH (corticotrophin releasing hormone) pada PVN (paraventricular nucleus) hipotalamus, yang selanjutnya menginduksi produksi ACTH (adrenocorticotrophic hormone) pada pituitary anterior. ACTH juga merangsang pelepasan glukokortikoid dari kelenjar adrenal yang berefek anti inflamasi luas dan menyeimbangkan Th1/Th2 dan limfosit Th17/reg. Efek anti inflamasi juga terjadi melalui peningkatan produksi beta endorphin.6

Ignatovsky tahun 2020 melakukan penelitian pada wanita berusia 24 tahun yang memiliki riwayat SLE sejak 4 tahun yang lalu. Keluhan yang dialami adalah nyeri sendi, kelelahan ekstrim dan kecemasan yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien diberikan terapi mariyuana medis, chiropractic, dan obat obatan serta suplemen lainnya kemudian pasien diterapi akupunktur. Terapi akupunktur dilakukan sebanyak 6 kali selama 6 minggu lalu dinilai melalui kuesioner nyeri, kecemasan dan tingkat kelelahan. Didapatkan hasil akupunktur dapat mengurangi gejala utama SLE, meningkatkan quality of life serta signifikan mengurangi nyeri, kecemasan dan cukup memperbaiki kelelahannya sehingga bisa menurunkan penggunaan mariyuana.7

Dukungan sosial dapat dilakukan pada penderita SLE yang berguna untuk mencegah kekambuhan dan keluhan dengan pola hidup sehat, menghindari pemicu SLE, pengelolaan stress dengan cara yang positif serta melakukan kontrol kesehatan ke dokter secara berkala. 8

DAFTAR PUSTAKA

  1. HW. Energy Alterations and Treatment in Systemic Lupus Erythematosus Patients with Altered Proteinuria. ARC Journal of Nephrology;Vol.4(2):2019. p 22-32
  2. Elgendi. International Egyptian Journal of Nursing Sciences Research, 1(2): 2021.p 31-35, DOI: 10.21608/ejnsr.2020.51290.1025
  3. Sumariyono. Lupus Eritematosus Sistemik. Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Divisi Reumatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.
  4. C.M. Bartels, H.S. Diamond, et al. Systemic Lupus Erythematosis (SLE), 2017. https://emedicine.medscape.com/article/332244-overview
  5. Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia; 2019
  6. Kavoussi B, Ross BE. The neuroimmune basis of anti-inflammatory acupuncture. Integr Cancer Ther. 2007 Sep;6 (3):251-7.
  7. Ignatovsky C. Acupuncture treatment for chronic pain, anxiety, and fatigue associated with Systemic Lupus Erythematosus: A Case Report. Evidence Informed Practice: Pacific College of Health & Science: 2020
  8. C. Gordon, M. Amissah-Arthur, M. Gayed, S. Brown, I.N. Bruce, D. D’Cruz, et al, Rheumatology, 2018, 57, 1-45. https://academic.oup.com/rheumatology/article-abstract/57/1/e1/4318863

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Upcoming Events